<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2636895042263018731</id><updated>2011-10-31T17:56:27.283-07:00</updated><category term='In English'/><category term='Sosial Budaya'/><category term='Filsafat'/><category term='Khutbah'/><category term='Politik'/><category term='Refleksi'/><category term='Suka Duka Penghulu'/><category term='Berita'/><category term='Sastra'/><category term='Agama Islam'/><title type='text'>Belajar Memaknai Hidup</title><subtitle type='html'>Blog ini hanyalah bagian dari upayaku untuk berbagi dalam memaknai hidup ini. Bukan untuk menjadi sok arif atau bijak, apalagi narsistik. Tapi, paling tidak, aku telah berbuat sesuatu untuk mengisi hidup yang hanya sementara ini.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://racheedus.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Rasheed Redha</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02711158177502400218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SWDfAvyUEbI/AAAAAAAAAEw/-n5c93Zsy3o/S220/Sketsa+Wajah2.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>36</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2636895042263018731.post-2415883707504279844</id><published>2009-01-04T08:45:00.000-08:00</published><updated>2009-01-04T09:29:51.688-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial Budaya'/><title type='text'>Balada Kawin Kontrak 1</title><content type='html'>Perempuan itu kutaksir berumur sekitar 25 tahun. Masih relatif muda. Parasnya memang tidak secantik Luna Maya. Tapi, menurutku, memang tidak mengecewakan. Penampilannya menarik dengan jilbab melilit wajahnya serta celana jeans membalut kakinya. Saat itu ia menggendong seorang anak kecil usia sekitar 2 tahunan. Di belakangnya, seorang anak kecil perempuan berumur sekitar 4 tahunan berjalan ceria. Ketika kutanya kepada narasumberku, anak perempuan itu adalah anak perempuan berjilbab itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kemudian, perempuan itu memasuki rumahnya yang megah dibandingkan rumah-rumah sekitarnya. Terletak tidak jauh dari bibir kali, rumah itu memang menjadi santapan banjir jika tanggul yang menahan kali jebol. Ya, seperti yang terjadi di bulan yang lalu di desaku ini. Dengan cat berwarna pink, rumah itu tampil mencolok di antara rerimbunan pohon yang masih ada di sisi kiri kanan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah lima tahun lho, Pak, dia melakukan kawin kontrak," ujar narasumberku mengawali pembicaraan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, lama juga, ya," kataku menimpali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita pun meluncur deras dari narasumberku yang juga bertetangga persis di depan rumah sang primadona "Arab" itu. Perempuan itu ternyata sebelumnya sudah pernah bersuami secara resmi, bahkan hingga memiliki seorang anak perempuan. Ya, perempuan kecil yang berlari-lari kecil di belakang ibunya yang kulihat barusan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuntutan ekonomi memang terkadang membuat kalap mata banyak orang. Si perempuan itu, sebutlah namanya, Inem, memang diterjang badai kemiskinan. Sekitar tujuh tahun silam, sebelum memutuskan pergi menjadi TKW di Arab Saudi, Inem adalah seorang anak yatim. Ayahnya meninggal dunia, sedangkan sang ibu kawin lagi dengan lelaki lain. Ia kemudian kawin dengan seorang lelaki sekampung. Demi memperbaiki ekonomi keluarga dan memperbaiki rumahnya yang nyaris roboh, Inem pun meninggalkan sang suami dan anak kecilnya yang masih bayi. Ia pergi ke Arab Saudi untuk menjadi pembantu rumah tangga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata menjadi TKW merupakan awal Inem terjerembab dalam cinta terlarang dengan sang majikan dan si anak majikan sekaligus. Hebat juga ya? Anak dan Bapak, yang orang Arab itu, berebut cinta sang pembantu dari Indonesia. Kucing-kucingan pun terjadi. Sang anak majikan bercinta dengan si pembantu saat si ayah pergi. Begitu pula sebaliknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kucing-kucingan itu tak terjadi lama. Tampaknya cinta si anak majikan kepada sang pembantu jauh lebih besar daripada cinta sang majikan sendiri. Apalagi si pembantu tentu lebih suka brondong tajir daripada sama sang majikan yang sudah tua bangka. Akhirnya, setelah menyusun skenario sedemikian rupa, sang pembantu disuruh pulang ke Indonesia oleh si anak majikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepulangan sang pembantu juga membawa segerobak janji dari si anak majikan. Ia akan dikirimi uang setiap bulan jika sudah sampai di Indonesia. Dan ternyata memang benar. Kiriman demi kiriman datang ke kocek si Inem. Ia pun sedikit demi sedikit mampu memperbaiki ekonomi rumahnya. Rumah dibangun, perabotan rumah tangga dilengkapi, dan motor baru pun nongkrong di garasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kesuksesan" si Inem tak urung tercium oleh si paman yang mata duitan dan memiliki naluri bisnis tajam. Apalagi sang paman juga sudah mendengar bahwa keponakannya itu dicintai oleh si anak majikannya di Arab. Rencana pun dipersiapkan sematang mungkin. Suami Inem dipaksa untuk menceraikan Inem. Tentu saja perceraiannya pun di bawah tangan. Meski masih mencintai sang suami, Inem pun akhirnya mengalah dengan keinginan sang paman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bercerai, Inem pun mulai "dijual" oleh sang paman kepada anak majikan dari Arab Saudi itu. Gayung bersambut. Si Arab setuju untuk mengawini Inem. Hanya saja kawin kontrak. Untuk langkah awal, kontrak dibuat hanya dua tahun. Kalau ternyata berjalan mulus, dan si Arab belum puas menikmati tubuh Inem, kontrak boleh terus dilanjutkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar enam bulan usai kepulangan Inem dari Arab Saudi, dan ia juga sudah bercerai dengan sang suami, anak mantan majikannya itu pun datang ke Indonesia. Ia bermaksud melamar mantan pembantunya. Repotnya, pihak aparat keamanan setempat, meminta uang 10 juta jika perkawinan kontrak ingin dilangsungkan aman di desa Inem. Akhirnya, agar tidak bikin repot dan menghabiskan banyak biaya, pernikahan itu pun dilangsungan di Puncak Bogor. Saat itu, para tetangga tak ada yang mengetahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(bersambung)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2636895042263018731-2415883707504279844?l=racheedus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://racheedus.blogspot.com/feeds/2415883707504279844/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2009/01/balada-kawin-kontrak-1.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/2415883707504279844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/2415883707504279844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2009/01/balada-kawin-kontrak-1.html' title='Balada Kawin Kontrak 1'/><author><name>Rasheed Redha</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02711158177502400218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SWDfAvyUEbI/AAAAAAAAAEw/-n5c93Zsy3o/S220/Sketsa+Wajah2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2636895042263018731.post-9069303730514341270</id><published>2009-01-03T10:43:00.000-08:00</published><updated>2009-01-03T10:46:33.898-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khutbah'/><title type='text'>Kehormatan Wanita</title><content type='html'>الحمد لله الذي هدانا إلى الصراط المستقيم و نهانا عن الشرك و العناد اللئيم. و أوعد مَنْ عَمَلَهُ في نار الجحيم. أشهد أن لا اله إلا الله الواحد القهار شهادة تنجينا بها من جميع أعمال الكفار. و أشهد أن سيدنا محمدا عبده و رسوله المختار. أللهم صلِّ و سَلَِّمْ على نور الأنوار و سر الأسرار سيدنا محمد المختار و اله الأطهار و أصحابه الأخيار. أما بعد فيا عباد الله اتقوا الله حق تقاته و لا تموتن إلا و أنتم مسلمون. قال الله تعالى في القرآن الكريم: وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا (الأحزاب: 35)&lt;br /&gt;Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah&lt;br /&gt;Marilah kita senantiasa menjaga, memelihara, dan meningkatkan iman serta takwa kita kepada Allah SWT, agar kita bisa memperoleh keselamatan dan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Salah satu wujud keimanan adalah menjaga kehormatan diri bagi seorang wanita. Hal itu karena menjaga kehormatan diri juga berarti menjaga diri dari perbuatan-perbuatan mungkar yang akan merusak keimanan, seperti menjual diri. Jika keimanan seorang wanita telah rusak, maka akan rusak pula hidupnya di dunia maupun di akhirat. Akhirnya, dia pun hanya akan mengalami kesengsaraan di dunia maupun di akhirat.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Salah satu cara menjaga keimanan dan kehormatan diri adalah dengan memupuk rasa malu. Dalam hal ini, Nabi Muhammad pun bersabda,&lt;br /&gt;الْحَيَاءُ مِنَ اْلإِيمَانِ    (رواه المسلم)&lt;br /&gt;Malu adalah sebagian dari iman. (H.R. Muslim) &lt;br /&gt;Menurut Ibnu Qutaibah, hal itu karena rasa malu, baik terhadap Allah, orang lain, maupun diri sendiri, akan mencegah seseorang untuk melakukan suatu perbuatan maksiat, sebagaimana keimanan juga mencegahnya. Sebaliknya, jika rasa malu sudah tidak dimiliki,  maka besar kemungkinan keimanan dan kehormatan diri juga tidak akan dimiliki. Rasulullah SAW bersabda: &lt;br /&gt;إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَافْعَلْ مَا شِئْتَ (رواه البخاري)&lt;br /&gt;Jika kau sudah tidak malu, lakukanlah apa saja yang kau inginkan. (H.R. Bukhari) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah&lt;br /&gt;Seorang perempuan yang betul-betul menjaga kehormatan dirinya tidak akan mudah dirayu oleh kemilau harta. Meskipun ia dihimpit oleh kesengsaraan hidup yang begitu dahsyat, ia tetap tidak akan menggadaikan kehormatan dirinya. Terhormat di mata Allah baginya jauh lebih baik daripada kehormatan semu di mata manusia karena memperolehi harta dengan cara yang nista.&lt;br /&gt;Di zaman sekarang, harta benda seolah menjadi sangat penting bagi hidup seseorang. Karena dianggap begitu penting, maka cara apapun, termasuk cara haram, dilakukan agar bisa memperoleh harta benda tersebut. Di sisi lain, mata hati seolah tertutup sedemikian rupa sehingga menganggap tidak ada lagi pekerjaan halal yang bisa dilakukan selain pekerjaan haram. &lt;br /&gt;Kita harus mendidik dan menjaga wanita-wanita yang menjadi anggota keluarga kita agar tidak terjerumus dalam pekerjaan demikian yang hanya akan menjebloskannya ke dalam api neraka. Allah berfirman:  &lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا (التحريم: 6)&lt;br /&gt;Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. (QS. At-Tahrim: 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah&lt;br /&gt;Sungguh amat berdosa orang tua yang membiarkan apalagi menyuruh putri kesayangannya melakukan pekerjaan yang tidak senonoh. Sungguh suami yang tidak tahu menghargai harkat wanita jika ia justru menyuruh istrinya bekerja sebagai perempuan nakal. Betapapun mudah dan banyak harta yang diperoleh dengan pekerjaan seperti itu, tetap saja ia adalah hasil dari pekerjaan haram tidak akan pernah menghasilkan keberkahan bagi hidup kita. Harta demikian hanya akan menimbulkan malapetaka yang terkadang tidak kita sadari kapan dan bagaimana malapetaka itu terjadi. &lt;br /&gt;Keindahan dan kecantikan lahiriah merupakan anugerah Allah yang harus disyukuri bagi seorang wanita. Rasa syukur itu bisa diwujudkan dengan cara bertingkah laku yang baik sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Menutup auratnya dengan sopan sehingga menimbulkan rasa hormat bagi orang yang memandangnya. Bukan dengan memamerkan kecantikan dan keindahan tubuhnya dengan berpakaian yang seronok dan tingkah laku yang genit sehingga justru mengundang terjadinya pelecehan. Keindahan fisik harus diikuti pula dengan keindahan hati. &lt;br /&gt;Dalam kenyataannya, terkadang keindahan lahiriah justru dijadikan oleh sebagian wanita sebagai modal untuk melakukan pekerjaan yang tidak senonoh. Tubuh telah menjadi barang dagangan (komoditas) yang harus dipoles sedemikian rupa agar menarik para pembeli. Sungguh hal itu merupakan tindakan yang melecehkan dirinya sendiri. Padahal sesungguhnya, tubuh kita sekalipun adalah ciptaan dan milik Allah. Kita tidaklah memiliki sepenuhnya terhadap tubuh kita. Dengan demikian, kita tidak boleh memperlakukan tubuh kita sekehendak sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah&lt;br /&gt;Aurat seorang wanita merupakan bagian dari rahasia Allah yang tidak boleh dipertunjukkan kepada siapapun kecuali kepada orang yang telah diizinkan Allah, yaitu sang suami. Jika rahasia itu diperlihatkan kepada lelaki selain suaminya  yang sah, misalnya karena si perempuan melakukan pekerjaan nista, maka sesungguhnya ia membuka rahasia Allah. Jika seseorang telah membuka rahasia Allah, maka tentu Allah akan murka. Bentuk murka tersebut bisa diwujudkan dengan banyak hal, bisa lewat penyakit kelamin seperti AIDS yang sampai saat ini tidak ada obatnya.&lt;br /&gt;Akhirnya, semoga kita bisa bersama-sama mewujudkan Indramayu menjadi kabupaten yang religius, tidak lagi sebagai daerah tempat gudangnya perempuan-perempuan nakal sebagaimana yang sering diberitakan di media-media massa. &lt;br /&gt;بارك الله لي و لكم بالآيات و الذكر الحكيم و تقبل مني و منكم تلاوته انه هو السميع العليم. و قل رب اغفر و ارحم و أنت خير  الراحمين. &lt;br /&gt;ooOoo&lt;br /&gt;الحمد لله حمدا كثيرا كما أمر. و أشكره و قد تأذن بالزيادة لمن شكر. و أشهد أن لا اله إلا الله وحده لا شريك له. على رغم أنف من جحد به و كفر. و أشهد أن سيدنا محمدا عبده و رسوله سيد البشر. اللهم صل و سلم على عبدك و رسولك محمد و على اله و أصحابه السادة الغرر. أما بعد: فيا أيها الناس اتقوا الله و أبدوا الفساد بالرشاد و قوموا على قدم السداد. قال الله تعال في كتابه الكريم:  يا بني ادم قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سوأتكم وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آيات اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ  اللهم اغفر للمسلمين و المسلمات و المؤمنين و المؤمنات الأحياء منهم و الأموات. ربنا اغفر لنا و لإخواننا الذين سبقونا بالإيمان و لا تجعل في قلوبنا غلا للذين امنوا ربنا إنك رؤف رحيم. رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا في ابتغاء فضلك. اللهم أرنا الحق حقا و ارزقنا اتباعه و أرنا الباطل باطلا و ارزقنا اجنتابه. رَبِّنا أَوْزِعْنِا أَنْ نشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَينا وَعَلَى وَالِدَينا وَأَنْ نَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِا بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ. ربنا آتنا في الدنيا حسنة و في الآخرة حسنة و قنا عذاب النار. ربنا تقبل منا إنك أنت السميع العليم. عباد الله. إن الله يأمر بالعدل و الإحسان و إيتاء ذي القربى و ينهى عن الفحشاء و المنكر و البغي يعظكم لعلكم تذكرون. فاذكروا الله العظيم يذكركم و اشكروه على نعمه يزدكم و لذكرُ الله أكبر.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2636895042263018731-9069303730514341270?l=racheedus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://racheedus.blogspot.com/feeds/9069303730514341270/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2009/01/kehormatan-wanita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/9069303730514341270'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/9069303730514341270'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2009/01/kehormatan-wanita.html' title='Kehormatan Wanita'/><author><name>Rasheed Redha</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02711158177502400218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SWDfAvyUEbI/AAAAAAAAAEw/-n5c93Zsy3o/S220/Sketsa+Wajah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2636895042263018731.post-1555667024633820634</id><published>2008-12-30T01:34:00.001-08:00</published><updated>2008-12-30T06:18:58.388-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial Budaya'/><title type='text'>Tragedi Palestina: Potret Kelemahan Umat Islam</title><content type='html'>Tiga hari lalu, lagi-lagi Israel menyerang Jalur Gaza. Lebih 250 orang jadi korban kebiadaban negeri Yahudi itu. Serangan mendadak Israel tersebut merupakan kado pahit saat orang Islam merayakan Tahun Baru Islam 1430 H dan kado Natal yang mengerikan bagi orang Nasrani Palestina. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Kondisi umat Islam di Palestina adalah potret yang terang benderang betapa lemahnya umat Islam di hadapan negara zionis Israel. Bahkan dunia internasional juga tak kalah lemahnya dalam menghadapi kebiadaban Israel. PBB tak ubahnya macan ompong di mata Israel. Seruan dan resolusi PBB tak pernah digubris negara itu. &lt;br /&gt;Aku terkadang tercenung, kapan umat Islam bisa bersatu padu dan menjadi kekuatan dunia sehingga bisa melindungi saudara-saudara mereka di Palestina lantas mengusir Israel dari tanah Palestina. Kapan? Mudah-mudahan saya tidak sedang bermimpi.&lt;br /&gt;Orang Yahudi memang sulit dipercayai. Hal itu sudah jelas ditegaskan dalam Alquran. Bahkan Nabi Muhammad sendiri merasakan betapa sakitnya pengkhianatan kaum Yahudi Quraizhah. Perjanjian demi perjanjian seolah tak ada artinya di mata orang Yahudi. Sungguh aneh jika kelompok Fatah Palestina masih juga mempercayai Israel Yahudi padahal berkali-kali dikhianati.&lt;br /&gt;Saya yakin, Tuhan tidak pernah tidur atau berpangku tangan saat terjadi berbagai penindasan dan ketidakadilan di muka bumi ini. Kalau tidak ada kekuasaan Tuhan yang mengendalikan dunia ini, pasti dunia sudah hancur dari dulu oleh tangan-tangan para tiran. Demikian kata Quran. Jadi, aku masih berfikir positif terhadap Tuhan. Aku tidak jadi atheis hanya karena tidak mengetahui bagaimana wujud kekuasaan Tuhan dalam mengendalikan alam semesta ini.&lt;br /&gt;Mungkin orang-orang Islam masih suka cakar-cakaran sendiri. Para pemimpin Islam masih sibuk dengan kekuasaannya sendiri. Masih suka diadu domba oleh Amerika. Atau masih suka menjadi kacung Amerika. &lt;br /&gt;Ah, sekali lagi, aku berharap suatu saat kelak orang Islam memiliki kekuatan ekonomi, militer, teknologi. Dengan demikian, ayo kita hadapi Amerika dan Israel dengan kepala tegak! Saya berharap suatu saat, umat Islam memilki kekuatan militer yang disegani sehingga Israel berfikir seribu kali untuk melakukan agresi ke Palestina. Ada sejumput optimisme dengan bangkitnya Iran di hadapan kecongkakan Israel dan negara-negara Barat. Hingga saat ini, Israel dan negara-negara tak berani menyerang Iran yang memang memiki kekuatan militer.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2636895042263018731-1555667024633820634?l=racheedus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://racheedus.blogspot.com/feeds/1555667024633820634/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/12/tragedi-palestina-potret-kelemahan-umat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/1555667024633820634'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/1555667024633820634'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/12/tragedi-palestina-potret-kelemahan-umat.html' title='Tragedi Palestina: Potret Kelemahan Umat Islam'/><author><name>Rasheed Redha</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02711158177502400218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SWDfAvyUEbI/AAAAAAAAAEw/-n5c93Zsy3o/S220/Sketsa+Wajah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2636895042263018731.post-683989512727163730</id><published>2008-12-26T21:36:00.001-08:00</published><updated>2008-12-30T01:07:45.811-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial Budaya'/><title type='text'>Rahma Azhari dan Sarah Azhari</title><content type='html'>Saya kira, tak ada yang menyangkal kalau kedua adik kakak dari keluarga Azhari itu memang cantik. Meski keduanya tak ada hubungan keluarga dengan ketua KPK, Antasari Azhari, atau dengan almarhum teroris, Dr. Azhari dari Malaysia. Sayang seribu sayang, kecantikan keduanya tidak disertai dengan sikap santun dan bersahaja sebagai salah satu manifestasi rasa syukur kepada Tuhan yang menganugerahkan kecantikan.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Alih-alih bersikap santun, keduanya justru mengumbar kemolekan tubuh ke media massa. Berulang kali, pose mesum mereka tersebar di media massa. Yang terakhir, adalah pose keduanya sedang berbugil ria dengan penuh ceria seolah tanpa dosa saat mandi.  Apapun dalihnya, publikasi itu tak kan terjadi jika mereka tidak pernah sama sekali berpose syur. Penampilan panas mereka selama ini tentu menjadi pintu masuk yang terbuka lebar bagi lelaki iseng yang kepanasan untuk menyebarkan pose-pose panas mereka. Siapa yang menanam angin, ia pun kelak menuai badai. &lt;br /&gt;Kini Rahma Azhari berurai air mata di depan para wartawan. Ia merasa imagenya rusak, malu, dan harga dirinya hancur. Ia tidak ingin anak perempuannya menganggap dirinya sebagai perempuan tidak benar.  Sungguh aneh sebenarnya. &lt;br /&gt;Jika tidak ingin image rusak, ngapain juga pake foto bugil. Ya, meski untuk konsumsi sendiri. Bukankah keduanya publik figur, sehingga apapun yang sensasional tentang mereka, pasti jadi bahan berita? Lucu bin aneh! Kalau tak ingin tercoreng arang, jangan bermain-main arang!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2636895042263018731-683989512727163730?l=racheedus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://racheedus.blogspot.com/feeds/683989512727163730/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/12/rahma-azhari-dan-sarah-azhari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/683989512727163730'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/683989512727163730'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/12/rahma-azhari-dan-sarah-azhari.html' title='Rahma Azhari dan Sarah Azhari'/><author><name>Rasheed Redha</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02711158177502400218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SWDfAvyUEbI/AAAAAAAAAEw/-n5c93Zsy3o/S220/Sketsa+Wajah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2636895042263018731.post-1363239813228225190</id><published>2008-12-23T07:29:00.001-08:00</published><updated>2008-12-23T09:46:16.314-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial Budaya'/><title type='text'>Di Pengungsiaan</title><content type='html'>Tak terasa aku dan keluarga telah enam hari berada di pengungsiaan. Banjir yang merendam rumahku dan sekitarnya membuatku serta keluarga harus mengungsi ke tempat yang aman. Pilihan tempat aman itu jatuh pada rumah, tepatnya gudang, yang dihuni oleh pembantu kami selama ini. Berjejalan di tempat yang sempit membuat interaksi kami begitu intens. Kini aku sekeluarga telah kembali ke rumah. Meski barang-barang masih banyak yang belum dibereskan.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Bulan Desember betul-betul bulan cobaan bagi kami. Berturut-turut terjadi: ibu mertuaku ditabrak motor hingga sekarang sudah dua minggu dalam kondisi koma di ruang ICU RS Mitra Cirebon; banjir menerjang desaku, termasuk rumahku; istriku tertusuk bekas tusuk sate di kaki hingga harus dibawa ke rumah sakit untuk divaksin anti tetanus; aku tergolek lemah diterjang demam karena kecapekan usai membereskan rumah paska banjir; adik sepupuku jatuh dari motor hingga mukanya penuh luka. &lt;br /&gt;Bulan Desember memang seringkali meninggalkan cerita pilu. Tahun 2003 lalu, di bulan Desember, banjir besar juga melanda hampir separuh Indramayu. Saat itu, di rumahku ketinggian air  sekitar 1,5 meter. Tsunami di Aceh juga terjadi pada bulan Desember.&lt;br /&gt;Apa yang bisa diambil hikmahnya atas semua kejadiaan ini? Ternyata kita memang harus banyak bersyukur. Betapapun banyak musibah menimpa diri kita, ternyata masih banyak anugerah yang diberikan oleh Sang Pencipta. Sayang kita seringkali gagap untuk mencermati anugerah-Nya. "Andai kau menghitung nikmat Allah, kau tak kan pernah mampu melakukannya." Begitu firman-Nya dalam Alquran. &lt;br /&gt;Bulan November lalu, istriku diterima sebagai CPNS. Bukankah itu sebuah nikmat-Nya? Masih banyak anugerah dan nikmat yang diberikan Tuhan kepada kita. Ketika aku di pengungsiaan, aku pun trenyuh. Betapa rumah yang lebih tepat disebut gudang ukuran 5 x 3 meter harus dijejali lima orang. Ternyata rumahku jauh lebih baik dari rumah itu. Bukankah hal itu harus membuatku banyak bersyukur?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2636895042263018731-1363239813228225190?l=racheedus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://racheedus.blogspot.com/feeds/1363239813228225190/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/12/di-pengungsiaan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/1363239813228225190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/1363239813228225190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/12/di-pengungsiaan.html' title='Di Pengungsiaan'/><author><name>Rasheed Redha</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02711158177502400218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SWDfAvyUEbI/AAAAAAAAAEw/-n5c93Zsy3o/S220/Sketsa+Wajah2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2636895042263018731.post-7808083729146579592</id><published>2008-12-17T23:44:00.001-08:00</published><updated>2009-01-03T09:43:07.515-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Banjir di Terisi Indramayu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SV-jgpLKQOI/AAAAAAAAADw/aARGtk9IXJw/s1600-h/DSC00373.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SV-jgpLKQOI/AAAAAAAAADw/aARGtk9IXJw/s200/DSC00373.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5287124268760056034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Banjir melanda setidaknya tiga desa, Karangasem, Rajasinga, dan Jatimulya, di Kecamatan Terisi Kabupaten Indramayu Jawa Barat. Air mulai masuk ke perumahan sekira pukul 13.00. Banjir akibat tanggul di sungai Cipanas jebol setelah debet air melonjak tajam yang datang dari hulu. Di Terisi sendiri, tidak terjadi hujan. &lt;br /&gt;Ketinggian air bervariasi. Rumah-rumah yang ada di pinggir sungai, nyaris setinggi atap. Sedang di sebagian rumah, air sudah masuk setinggi dada orang dewasa. Di jalanan, air setinggi lutut.&lt;br /&gt;Belum ada korban jiwa. Namun,  ada korban gadis bernama Puji (15) yang digigit ular saat air air mulai menggenang sekitar rumahnya. Kini korban dibawa ke RS Bhayangkara Losarang setelah Puskesmas Terisi tidak sanggup mengatasi. &lt;br /&gt;Sebagian pemuda memanfaatkan banjir dengan melayani penyeberangan motor menggunakan gerobak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2636895042263018731-7808083729146579592?l=racheedus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://racheedus.blogspot.com/feeds/7808083729146579592/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/12/banjir-di-terisi-indramayu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/7808083729146579592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/7808083729146579592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/12/banjir-di-terisi-indramayu.html' title='Banjir di Terisi Indramayu'/><author><name>Rasheed Redha</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02711158177502400218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SWDfAvyUEbI/AAAAAAAAAEw/-n5c93Zsy3o/S220/Sketsa+Wajah2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SV-jgpLKQOI/AAAAAAAAADw/aARGtk9IXJw/s72-c/DSC00373.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2636895042263018731.post-725237593513507569</id><published>2008-12-16T09:47:00.001-08:00</published><updated>2008-12-23T09:40:49.399-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suka Duka Penghulu'/><title type='text'>Pengemis Mau Poligami</title><content type='html'>Suatu hari usai Shalat Jum'at, di bulan Oktober 2008, ketika tengah memeriksa berkas-berkas di kantor, saya kedatangan sepasang lelaki perempuan yang sudah separuh baya. Sang laki-laki berbadan kurus dengan peci lusuh. Kaki dan tanggannya yang sebelah kanan (maaf) lebih kecil dan agak bengkok sehingga kalau jalan agak terpincang-pincang. Sedangkan si perempuan berperawakan agak gemuk dengan kulit kehitaman. &lt;br /&gt;Usai menjawab salam, saya persilahkan kedua orang itu untuk duduk di ruang tamu kantor. Sementara dua orang tukang ojek yang mengantar mereka berdua duduk di bangku depan kantor.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Ketika kutanya asal mereka, keduanya mengaku berasal dari sebuah desa di kecamatan lain, namun masih termasuk wilayah Indramayu. Singkat cerita, si lelaki paruh baya itu hendak menikah dengan perempuan yang saat itu duduk di sampingnya. Karena hendak menikah, saya pun menanyakan surat-surat kelengkapan administrasinya. Ternyata tidak ada! Saya juga menanyakan mana walinya. Lagi-lagi tidak ada!&lt;br /&gt;"Pak, kalau mau menikah resmi, silahkan dilengkapi surat-suratnya, dari desa dan KUA Kecamatan tempat Bapak tinggal. Terus perempuan juga harus ada walinya! Menikah itu bukan seperti orang mau beli kue di pasar. Kalau sudah pengen, langsung aja. Tidak memakai syarat macem-macem." ujarku dengan menahan gondok di hati. &lt;br /&gt;Setelah saya korek sedemikian rupa, sang lelaki itu mengaku seorang pengemis dan masih memiliki istri. Lho, hebat kan? Pengemis saja mau poligami! Pendapatannya sehari-hari rata-rata 50 ribu.  &lt;br /&gt;Setelah ngobrol macam-macam, akhirnya kedua orang itu pun pulang ke desanya. Tentu saja, saya tidak bersedia menikahkan kedua orang itu. Sepulangnya tamu, saya jadi tercenung. Betapa institusi pernikahan sedemikian rupa dibuat rendah. Tanpa surat keterangan asal-usul, tanpa adanya wali, tanpa ada izin poligami, tanpa keterangan status, seenaknya saja orang mau menikah. Sungguh fenomena yang membuat hatiku pilu. &lt;br /&gt;Memang menikah adalah sunnah Nabi Muhammad. Tapi tentu saja, pernikahan juga harus sesuai dengan aturan dan persyaratan yang ada.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2636895042263018731-725237593513507569?l=racheedus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://racheedus.blogspot.com/feeds/725237593513507569/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/12/suka-duka-penghulu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/725237593513507569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/725237593513507569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/12/suka-duka-penghulu.html' title='Pengemis Mau Poligami'/><author><name>Rasheed Redha</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02711158177502400218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SWDfAvyUEbI/AAAAAAAAAEw/-n5c93Zsy3o/S220/Sketsa+Wajah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2636895042263018731.post-6773512717849181204</id><published>2008-12-16T09:46:00.001-08:00</published><updated>2008-12-23T10:03:37.561-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Bimbang</title><content type='html'>Aku tersaput bimbang dalam sumbang&lt;br /&gt;kala tegang cari pegang&lt;br /&gt;Jangan Kau lari dari pelukku&lt;br /&gt;Biarkan aku menuntaskan rinduku&lt;br /&gt;sebelum membeku dalam asing-Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku meradang dibakar matahari&lt;br /&gt;Debu beterbangan menebarkan semu&lt;br /&gt;Dunia semakin tertatih&lt;br /&gt;meniti di lorong-lorong cahaya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temani aku meraup suka dalam ridha-Mu&lt;br /&gt;menepis lara dan menerjang kelam&lt;br /&gt;dalam siraman cahaya kasih-Mu&lt;br /&gt;Jangan biarku aku dipasung bisu dalam sepi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, 1993&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2636895042263018731-6773512717849181204?l=racheedus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://racheedus.blogspot.com/feeds/6773512717849181204/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/12/sastra.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/6773512717849181204'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/6773512717849181204'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/12/sastra.html' title='Bimbang'/><author><name>Rasheed Redha</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02711158177502400218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SWDfAvyUEbI/AAAAAAAAAEw/-n5c93Zsy3o/S220/Sketsa+Wajah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2636895042263018731.post-7839690945099701497</id><published>2008-12-11T20:12:00.001-08:00</published><updated>2008-12-14T00:48:53.407-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><title type='text'>Berlomba-Lomba jadi Caleg</title><content type='html'>Setiap kali saya berangkat ke kampus,  saya terpaksa melihat berbagai baliho dan poster dari para caleg dan capres di sepanjang jalan.  Sungguh, membuatku agak mual. Orang-orang berlomba-lomba  mengajukan diri sebagai wakil rakyat dan pemimpin. Padahal belum tentu mereka kapabel dan memiliki integritas moral untuk mengemban amanat sebagai wakil rakyat atau pemimpin.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Euforia demokrasi setelah sekian lama terkungkung dalam rezim otoriter Orde Baru, ternyata membuat rakyat Indonesia tak ubahnya kuda binal yang baru lepas dari kandang. Orang-orang menunjukkan sikap narsistik. Merasa hebat, merasa mampu, pintar, dan seterusnya.&lt;br /&gt;Bagiku, ini fenomena tidak sehat. Orang bisa dengan mudah mengajukan diri sebagai wakil rakyat atau capres. Dengan modal duit banyak, jatah kursi caleg bisa dibeli. Petinggi partai tak ubahnya cukong politik. &lt;br /&gt;Di sisi lain, partai-partai gurem yang tidak memiliki basis massa kuat, akhirnya mengajukan caleg asal-asalan. Bayangkan, seorang anak "ingusan" yang tak memiliki pengalaman politik, bisa nangkring di urutan atas caleg. Ketika saya tanya tentang tugas utama seorang anggota legislatif, ia hanya melongo bingung. Ironis! &lt;br /&gt;Saya setuju, kalau sistem kepartaian dipangkas. Sekarang jumlah partai sudah terlalu banyak. Banyak tokoh yang hanya karena kepentingannya di partai terdahulu tidak tertampung, ia pun buat partai baru. Mendirikan partai seolah seperti membuat karang taruna. Persoalan apakah partainya disukai rakyat atau tidak, menjadi tidak penting. &lt;br /&gt;Sayang sekali, undang-undang kepartaian memang masih memungkin orang untuk mendirikan partai tanpa ada batasan jumlah. Harus ada undang-undang yang betul menyeleksi dengan ketat partai. Dengan demikian, jumlah partai tidak gemuk seperti sekarang. Akhirnya, hal itu diharapkan akan menjadi saringan ketat yang menghasilkan partai-partai yang betul memiliki basis massa dan ideologi yang kuat. &lt;br /&gt;Para petualang politik yang hanya mengejar kekuasaan, harus dibatasi sepak terjangnya. Pembatasan jumlah partai bukanlah berarti melanggar HAM. Orang yang merasa mampu jadi pemimpin, silahkan mengasah dirinya dulu agar dipercaya orang. Jangan ketika tidak dipercaya, lantas berkoar-koar macam-macam. Hal itu hanya mencerminkan, dia memang belum layak jadi pemimpin yang bijak.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2636895042263018731-7839690945099701497?l=racheedus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://racheedus.blogspot.com/feeds/7839690945099701497/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/12/berlomba-lomba-jadi-caleg.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/7839690945099701497'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/7839690945099701497'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/12/berlomba-lomba-jadi-caleg.html' title='Berlomba-Lomba jadi Caleg'/><author><name>Rasheed Redha</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02711158177502400218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SWDfAvyUEbI/AAAAAAAAAEw/-n5c93Zsy3o/S220/Sketsa+Wajah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2636895042263018731.post-6740033560146676823</id><published>2008-11-29T15:17:00.000-08:00</published><updated>2008-12-01T09:31:22.432-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='In English'/><title type='text'>Bold and Beautiful</title><content type='html'>How many beautiful women and handsome men. But who can guarantee the beautiful women and handsome men also have a heart and good behavior? Even often beautiful women and handsome men are like the sweet fruit outside but no worm in it. Because of that, and not any beautiful women and men nan nan stacked so that a suitable partner for those who admire and are interested in it.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Physically, Jennifer Lopez is beautiful. Perhaps there are people who do not reject it. Physically, Brad Pitt also very handsome. However, let us think more. Often we admire the physical beauty of a person because we actually do not really know more details and closer to the people. We know only through television, tabloids, magazines and other mass media. There is a far distance between ourselves with objects that our people admire physical beauty. There are the make-up, camera angle, landing style, and others that make someone appear beautiful or handsome. Even he may just not the environment we imagine.&lt;br /&gt;Because we know more in less of the people we admire the beauty of the physical, so we do not even know the negative things that also are owned by people we admire it. Perhaps only a Luna Maya, for example, does not appear to be beautiful if he sleeps with a new face creased without make up and hair is untidy. Similarly, a Tora Sudiro may not appear to be stacked in the eyes when we know he is drunk stagger away in the fall of a dirty drain.&lt;br /&gt;Assessment of beauty or handsomeness someone also associated with inner beauty and behavior. In other languages, there is inner beauty. Therefore, many people, including me, also no longer considered "beautiful" to the Siti Nurhaliza when she "seize" the husband. While physical beauty is not complemented by the beauty and behavior, then it is time, the physical beauty become less meaningful. Physical beauty is not more of a temptation for those who toil mengaguminya. Beauty of a Astri Ivo using closed clothes and never heard problematic in the household, about 180 degrees different with the beauty of a Pamela Anderson that interfaces dent body and the shattered house. A beauty that is calm, beauty is the only cause anxiety because of her sexual appeal.&lt;br /&gt;On the other hand, a beauty or handsomeness admire other people, it should also be aware that not necessarily admired people who really fit with himself. Someone should have to learn to receive what the spouse who is supporting himself. We may partner is not as beautiful or handsome artist that we admire. However, we have really experienced and feel the love, goodness, love and our partner for this. While the people we admire beauty is not necessarily as it's now.&lt;br /&gt;So let, we learn to accept what the conditions with our partner for this. Javanese people say it with the term nrimo. Arabs say it qana'ah. Nothing beautiful women if he interfaces beauty to every man with a flirtatious behavior. There is no loyalty in love that he hold tight. Nothing that handsome man if he himself only utilize the smartness to hurt many women's hearts. He spread a lot of love for the cast to many women. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2636895042263018731-6740033560146676823?l=racheedus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://racheedus.blogspot.com/feeds/6740033560146676823/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/11/bold-and-beautiful.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/6740033560146676823'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/6740033560146676823'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/11/bold-and-beautiful.html' title='Bold and Beautiful'/><author><name>Rasheed Redha</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02711158177502400218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SWDfAvyUEbI/AAAAAAAAAEw/-n5c93Zsy3o/S220/Sketsa+Wajah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2636895042263018731.post-430358474101493189</id><published>2008-11-26T15:53:00.000-08:00</published><updated>2008-11-26T16:08:16.098-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial Budaya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Islam'/><title type='text'>Obrolan Poligami</title><content type='html'>Seorang lelaki  baru saja menikahi putri seorang ulama terkenal yang berpoligami.&lt;br /&gt;"Nak, saya berpesan padamu," kata si ulama yang kaya raya itu, "perlakukan istrimu dengan baik. Jangan kau menduakannya dengan berpoligami karena akan menyakiti istrimu."&lt;br /&gt;"Lho, bapak sendiri kan berpoligami?! Berarti bapak juga menyakiti ibu, istri tua bapak," protes sang menantu.&lt;br /&gt;"Betul, anakku. Tapi bapak telah menyadari sakitnya poligami adalah justru obat dari sakit yang jauh lebih besar, yaitu ego kepemilikan."&lt;br /&gt;"Ego kepemilikan bagaimana maksud bapak?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Hampir semua wanita tidak rela suaminya menikah lagi. Ada rasa memiliki yang kuat dalam diri wanita terhadap suaminya. Seolah suaminya adalah miliknya sendiri. Padahal tak ada apapun yang bisa kita miliki di dunia ini, termasuk suami, istri, anak, harta, jabatan, popularitas, dan lain-lain."&lt;br /&gt;"Memang tidak boleh ada rasa memiliki dalam diri kita? Repot dong kalau kita tidak memiliki. Nanti bisa-bisa suami atau istri kita berselingkuh dibiarin aja."&lt;br /&gt;"Hmm. Anakku, kita semua bukan pemilik. Kita semua hanyalah orang yang diberi titipan oleh Sang Pemilik sejati, Tuhan Pencipta jagat raya. Kita diberi amanat untuk menjaga dan merawat dengan sebaik-baiknya semua yang dititipkan kepada kita, baik berupa istri, suami, anak, harta, jabatan, ketenaran, dan lain-lain. Pada saatnya, rela atau tidak rela, semua itu akan diambil kembali oleh $ang Pemiliknya."&lt;br /&gt;"Maaf, bapak, mohon tidak tersinggung. Apa bukan karena ingin mengikuti hawa nafsu saja orang berpoligami? Pengen cari yang muda dan cantik?"&lt;br /&gt;"Ha..ha.. Bapak sudah sering dituduh begitu. Cantik dan muda hanyalah salah satu pintu untuk memasuki tujuan yang lebih agung. Pintu itu sah adanya dan orang boleh memasukinya. Namun sekali lagi, ia tetaplah pintu, bukan isi rumah sesungguhnya."&lt;br /&gt;"Ngomong-ngomong, kenapa Bapak meminta saya tidak berpoligami jika memang tujuan poligami seperti itu?"&lt;br /&gt;"Karena Bapak tahu, putri Bapak belum mampu melepas selubung ego kepemilikan dari hatinya. Dan kau pun belum cukup kuat untuk memikul tanggung jawab yang besar dan bersikap adil jika berpoligami."   &lt;br /&gt;"Lantas ibu sendiri bagaimana? Ibu kan juga mungkin sakit hati dipoligami oleh Bapak. Apa ibu sudah bisa membuang ego kepemilikannya?"&lt;br /&gt;"Ibu sudah mengetahui betapa penting membuang ego kepemilikan di dalam hati. Sekarang ibu sedang menjalani langsung hal itu. Tentu tidak selamanya mulus. Masih ada hal-hal manusiawi yang terjadi. Istri-istri Nabi sendiri masih suka cemburu."&lt;br /&gt;"Jadi, saya boleh poligami tidak, Pak?"&lt;br /&gt;"Belum saatnya, anakku. Poligami bukan datang dari keinginan pribadi yang diniatkan dari awal. Tapi lebih merupakan tuntutan keadaan. Ada misi sosial yang juga diemban. Sudahlah. Belajarlah lebih dulu."&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2636895042263018731-430358474101493189?l=racheedus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://racheedus.blogspot.com/feeds/430358474101493189/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/11/obrolan-poligami.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/430358474101493189'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/430358474101493189'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/11/obrolan-poligami.html' title='Obrolan Poligami'/><author><name>Rasheed Redha</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02711158177502400218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SWDfAvyUEbI/AAAAAAAAAEw/-n5c93Zsy3o/S220/Sketsa+Wajah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2636895042263018731.post-8455860765505254570</id><published>2008-11-23T03:38:00.000-08:00</published><updated>2009-01-04T16:50:15.227-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Islam'/><title type='text'>Tentang Kartun Nabi Muhammad</title><content type='html'>Baru-baru ini umat Islam Indonesia kembali dihebohkan dengan kartun Nabi Muhammad. Adalah blog Lapotuak dan Kebohongan dari Islam yang mempublikasikan kartun tersebut.  Untung saja pihak Wordpress selaku penyedia layanan kedua blog tersebut dengan sigap menutup keduanya. &lt;br /&gt;Tampaknya, umat Islam tidak pernah dibiarkan tenang oleh pihak-pihak yang memendam kebencian. Baru saja umat Islam Indonesia mulai reda dari kontroversi Ahmadiyah, kini persoalan lain dimunculkan kembali. Toleransi beragama ternyata masih menjadi pemanis bibir saja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2636895042263018731-8455860765505254570?l=racheedus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://racheedus.blogspot.com/feeds/8455860765505254570/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/11/tentang-kartun-nabi-muhammad.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/8455860765505254570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/8455860765505254570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/11/tentang-kartun-nabi-muhammad.html' title='Tentang Kartun Nabi Muhammad'/><author><name>Rasheed Redha</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02711158177502400218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SWDfAvyUEbI/AAAAAAAAAEw/-n5c93Zsy3o/S220/Sketsa+Wajah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2636895042263018731.post-4603098737557074998</id><published>2008-11-21T19:27:00.000-08:00</published><updated>2008-11-21T19:29:47.215-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial Budaya'/><title type='text'>Kolonialisme Modern</title><content type='html'>Dulu para pahlawan kita dengan gagah berani melawan para penjajah, Belanda dan Jepang. Meskipun persenjataan mereka tidak sebanding dengan yang dimiliki oleh pihak penjajah. Bayangkan, bambu runcing dan pedang melawan senjata api canggih dan meriam. Tapi, ternyata mereka tidak berputus asa dengan keadaan diri sendiri. Mereka tidak minder hanya karena kekuatan lawan jauh lebih besar dari kekuatan sendiri. &lt;br /&gt;Mereka tetap menyadari, memang di satu sisi sang penjajah menampilkan dirinya dengan wajah yang baik-baik melalui berbagai kebijakan politik seperti politik etis dan pembangunan berbagai infrastruktur, seperti rel kereta api dan lain. Namun di sisi lain, mereka juga mengeruk habis kekayaan alam negeri ini. Mereka menyiksa anak-anak negeri dengan kerja rodi. Mereka tumpas habis tanpa ampun para pejuang yang hendak mempertahankan kehormatan negeri ini. Bagi para penjajah, orang-orang Indonesia yang melawan angkat senjata adalah para pemberontak, inlander. Namun bagi orang Indonesia sendiri, mereka adalah para pejuang terhormat.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dan zaman pun berubah. Penjajahan secara fisik seperti dulu itu sudah lewat. Kini kita sudah menjadi negara merdeka. Ya, meskipun istilah “merdeka” itu bisa kita perdebatkan lebih lanjut. Negara-negara penjajah itu, Belanda dan Jepang, kini sudah menjalin hubungan diplomatik dengan Indonesia. Tampaknya tak ada beban sejarah atas segala kejahatan kolonialisme yang kedua negara itu lakukan terhadap negara kita. Sementara di sisi lain, kita pun tampaknya tak begitu memedulikan terhadap kejahatan kolonialisme tersebut. Dengan kata lain, mungkin kita memang betul-betul bangsa pemaaf atau bangsa yang naif dan inferior? &lt;br /&gt;Kini di zaman global yang semakin menyempitkan batas-batas geografis dan kultural sebuah negara, bangsa ini pun masih saja begitu terkesan inferior di hadapan negara-negara “maju”. Harus diakui, kita memang banyak ketinggalan dalam banyak aspek: ekonomi, teknologi, militer, dan lain-lain. Namun hal itu tidaklah menjadi justifikasi atas sikap inferior kita terhadap mereka. Harus saya ingatkan lagi, para pahlawan kita dulu, tetap berani berdiri tegak melawan para penjajah meski persenjataan mereka seadanya. &lt;br /&gt;Ada semacam sindrom inferority complex  yang dihinggapi oleh sebagian komponen bangsa ini, terutama para pemimpin dan cendekiawannya. Lihat saja, mereka begitu takluk dengan senjata-senjata modern non fisik yang diarahkan oleh negara-negara mantan penjajah itu. Memang senjata tersebut tidak begitu terlihat nyata sebagaimana zaman dulu. Senjata-senjata kolonialisme modern sekarang bukanlah senjata api laras panjang, meriam, bazoka, dan lain-lain. Namun, senjata-senjata itu adalah berwujud pemikiran-pemikiran yang tak disadari menggerogoti kemandirian bangsa kita. Sebut saja, misalnya, pemikiran tentang demokrasi, kapitalisme liberal, HAM, kesetaraan gender, dan lain-lain. Seolah semua pemikiran itu mutlak benar dan harus kita terima mentah-mentah jika ingin menjadi negara yang maju. Wow! &lt;br /&gt;Demokrasi bahkan telah menjadi berhala pemikiran bagi kebanyakan cendekiawan dan pemimpin kita. “Kita harus membangun negara yang demokratis,” begitu kira-kira slogan mereka. Namun bagi saya, demokrasi hanyalah satu cara, metode, jalan dalam menentukan arah negara ini. Tujuan negara yang terpenting adalah membangun masyarakat yang adil dan makmur, sejahtera lahir dan batin sebagaimana diamanatkan oleh UUD 1945. Jangan kita terperangkap menganggap cara sebagai tujuan. Demokrasi sekali lagi hanyalah cara, bukan tujuan. &lt;br /&gt;Banyak teman-teman saya di kampus dulu yang banyak belajar di negara Barat, seperti Kanada, Jerman, Amerika Serikat, Belanda, Australia, dan lain-lain. Saya termasuk orang yang tidak beruntung karena tidak pintar dan cerdas sehingga tidak mendapat beasiswa seperti mereka. Mungkin, ada orang yang berkata, pendapat saya hanya karena saya iri hati tidak mendapat beasiswa ke negeri-negeri Barat. Terserah saja. Tapi, saya berusaha untuk tidak menjadi orang suka iri hati. Saya harus terima keadaan saya yang masih bisa berkuliah hingga pasca sarjana di negeri ini, negeri sendiri. Masih banyak yang tidak bisa menikmati kuliah di negeri ini. Kalaupun, toh, saya mendapat beasiswa untuk belajar di negeri-negeri Barat, saya berusaha untuk tidak terpengaruh. Dalam istilah Arabnya, yakhtalithun wa la yataghayyarun. &lt;br /&gt;Nah, teman-teman saya yang belajar ke negeri-negeri Barat itu pun pulang dengan pemikiran yang “tercerahkan”. Mereka datang dengan pemikiran yang menggugat ke sana kemari. Mereka membawa pemikiran-pemikiran “modern” seperti demokratisasi, HAM, kesetaraan gender, liberalisme, pluralisme, dan lain-lain. Mereka datang dengan jumawa sembari seolah hendak menyatakan, “Inilah cara pemahaman yang benar.” Wow! Kita digiring untuk mengakui bahwa pemikiran-pemikiran kita yang selama ini diyakini adalah salah dan yang benar adalah model-model pemikiran a la Barat yang mereka bawakan. &lt;br /&gt;Saya pikir, teman-teman saya itu secara tidak langsung dan tanpa disadari sebenarnya sudah terjajah secara intelektual. Mereka justru membantu para penjajah modern untuk memuntahkan peluru dari senjata-senjata pemikiran mereka kepada bangsa ini. Ya, hal ini tak ubahnya seperti para wedana di zaman revolusi dulu yang bukannya membantu perjuangan rakyat Indonesia, namun justru membantu penjajah Belanda dan Jepang untuk menindas rakyat. &lt;br /&gt;Secara intelektual, kita akan tertindas jika tidak mengikuti arus pola pemikiran mereka. Kita akan dikatakan ketinggalan zaman, otoriter, konservatif, dan seterusnya jika tidak mempercayai kebenaran pemikiran-pemikiran tersebut. Pendapat-pendapat yang bertentangan dengan mainstream pemikiran mereka akan dimarjinalkan. Inilah betul-betul penindasan dan penjajahan intelektual yang tidak kasat mata. Namun bisa dirasakan jika kita masih menghargai kemandirian dan harga diri bangsa. Wallahu a’lam. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2636895042263018731-4603098737557074998?l=racheedus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://racheedus.blogspot.com/feeds/4603098737557074998/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/11/kolonialisme-modern.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/4603098737557074998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/4603098737557074998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/11/kolonialisme-modern.html' title='Kolonialisme Modern'/><author><name>Rasheed Redha</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02711158177502400218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SWDfAvyUEbI/AAAAAAAAAEw/-n5c93Zsy3o/S220/Sketsa+Wajah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2636895042263018731.post-8217472246775484370</id><published>2008-11-18T18:48:00.001-08:00</published><updated>2009-01-04T16:43:21.988-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Menunda Pekerjaan</title><content type='html'>Kita seringkali paling pintar mencari alasan untuk menunda waktu dan pekerjaan. Padahal alasan-alasan itu sering dibuat-buat dan tidak masuk akal. Ketika kesempatan semakin sempit bahkan hilang, baru kita tersadar betapa bodohnya diri kita yang menyia-nyiakan waktu. &lt;br /&gt;Kedisiplinan berarti pula memaksa diri sendiri untuk menjalani jadwal kegiatan dengan tepat waktu. Betapapun sering kemalasan menggoda kita untuk membuang waktu percuma dengan beribu alasan.&lt;br /&gt;Meskipun sering kali kita ditebas oleh pedang waktu, namun anehnya kita kembali mengulangi kebodohan kita dengan menyia-nyiakan waktu. Ya, hidup memang tidak mudah. Namun jika kita bisa belajar dari pengalaman, mestinya hidup terasa mudah dan indah. Terlalu berharga anugerah hidup jika kita buang percuma waktu dan kesempatan untuk berbuat kebaikan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2636895042263018731-8217472246775484370?l=racheedus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://racheedus.blogspot.com/feeds/8217472246775484370/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/11/menunda-pekerjaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/8217472246775484370'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/8217472246775484370'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/11/menunda-pekerjaan.html' title='Menunda Pekerjaan'/><author><name>Rasheed Redha</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02711158177502400218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SWDfAvyUEbI/AAAAAAAAAEw/-n5c93Zsy3o/S220/Sketsa+Wajah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2636895042263018731.post-5394701884832037858</id><published>2008-11-12T04:38:00.001-08:00</published><updated>2008-11-14T02:00:06.825-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><title type='text'>Ramai-ramai Jadi Capres</title><content type='html'>Tampaknya orang Indonesia lagi betul-betul menikmati euforia  demokrasi. Banyak tokoh menawarkan diri jadi calon presiden. SBY, Megawati, Wiranto, Hamengku Buwono, Rizal Malarangeng, Rizal Ramli, Prabowo Subianto, Dien Syamsudin, Ratna Sarumpaet , Sutrisno Bachir, Fadjroel Rachman, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Tapi seberapa layak mereka jadi presiden? Rakyat Indonesia mungkin mudah melupakan dan memaafkan kesalahan si capres di masa lalu. Atau mungkin si capres yang tidak tahu diri?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Fenomena banyaknya orang yang mencalonkan diri sebagai presiden menunjukkan dua sisi, positif dan negatif. Positifnya, masyarakat Indonesia semakin percaya diri untuk maju sebagai pemimpin di negeri ini. Bandingkan dengan di masa Orde Baru. Berani berkoar sebagai calon presiden selain Soeharto, berarti menantang maut. Namun negatifnya,  hal itu menunjukkan banyaknya orang yang tidak bisa menilai kemampuan dirinya. Bayangkan, persoalan bangsa yang sebesar ini hendak ditangani seorang yang tidak berpengalaman. Lho kok seperti black campaign McCain terhadap Obama?&lt;br /&gt;Mungkin demam Obama lagi menjangkiti sebagian capres itu.  Saya sendiri khawatir, apa para capres betul-betul hendak membangun negeri ini atau sekedar hendak menyalurkan nafsu berkuasa saja atau hendak memperkaya diri belaka. Wallahu a'lam.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2636895042263018731-5394701884832037858?l=racheedus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://racheedus.blogspot.com/feeds/5394701884832037858/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/11/ramai-ramai-jadi-capres.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/5394701884832037858'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/5394701884832037858'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/11/ramai-ramai-jadi-capres.html' title='Ramai-ramai Jadi Capres'/><author><name>Rasheed Redha</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02711158177502400218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SWDfAvyUEbI/AAAAAAAAAEw/-n5c93Zsy3o/S220/Sketsa+Wajah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2636895042263018731.post-1301328247131554663</id><published>2008-11-06T16:54:00.000-08:00</published><updated>2008-11-06T16:56:14.012-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial Budaya'/><title type='text'>Kebebasan Seks dan Moralitas</title><content type='html'>Ada yang kontradiktif di masyarakat modern, khususnya masyarakat Barat. Di satu sisi mereka begitu mengagungkan kebebasan, termasuk kebebasan seks. Sepasang lawan jenis atau bahkan sesama jenis, boleh memutuskan hidup bersama meski tanpa ikatan perkawinan. Ketika menjalani hidup bersama itulah, tentu saja mereka pun melakukan hubungan seksual layaknya suami istri. Di sisi lain, mereka juga bebas melakukan hubungan seksual dengan siapa pun, lawan jenis atau pun sejenis, selama “tidak ada yang dirugikan” dan dilakukan atas dasar “suka sama suka”. Ya, meskipun tanpa ikatan perkawinan. Jika sepasang teman saling menginginkan hubungan seksual, maka lakukan saja. Tak perlu ada yang ditakutkan. Selama keduanya melakukan dengan senang dan siap dengan segala risikonya, maka show must go on. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun di sinilah letak kontradiksinya. Di tengah begitu permisifnya mereka terhadap seks, namun ternyata mereka juga menyadari –diakui ataupun tidak—bahwa hal itu bukanlah sesuatu yang benar. Mereka juga menyadari bahwa keharusan untuk melakukan hubungan seksual hanya di dalam ikatan perkawinan adalah sesuatu nilai yang luhur dan terhormat. Hal itulah yang tampak pada kasus ketika Bill Clinton terlibat skandal dengan Monica Lewinsky. Masyarakat Amerika pun heboh dan mengecam sang presiden. Nyaris Clinton jatuh dari singgasananya karena skandal tersebut. Betapapun, masyarakat Amerika ternyata masih mengharapkan presiden mereka sebagai orang yang menjunjung tinggi moralitas. &lt;br /&gt;Begitu pula ketika pada pemilihan presiden Amerika yang baru saja terjadi. Hal ini menimpa calon wakil presiden dari Partai Republik, Sarah Palin. Perempuan cantik itu ternyata memiliki seorang anak perempuan yang sedang hamil besar padahal ia belum menikah. Hal itu tak urung membuat Palin menjadi bahan kecaman masyarakat Amerika. Kehamilan sang anak yang di luar nikah ternyata masih dianggap sesuatu yang buruk oleh masyarakat Amerika sehingga menjadi bahan pergunjingan yang menyudutkan bagi Palin. Sebagaimana diketahui, Sarah Palin pun gagal mendampingi John McCain sebagai wakil presiden. Meski juga disadari, faktor hamil di luar nikah bukanlah satu-satunya faktor penyebab kekalahan duet McCain dan Palin di pemilihan presiden Amerika tersebut. &lt;br /&gt;Berkaca dari fenomena itu, ternyata bisa dinyatakan bahwa manusia memang tidak bisa mengelabui hati nuraninya bahwa kebebasan seksual bukanlah sesuatu yang baik. Betapapun liberalnya sebuah masyarakat, ternyata mereka mengakui bahwa hubungan seks di luar nikah adalah sesuatu yang membuat kehormatan diri mereka bisa tercoreng, apalagi bagi seorang pemimpin atau calon pemimpin. Namun manusia memang sering kali berhati bebal. Meskipun menyadari bahwa kebebasan seks itu adalah sesuatu yang buruk dan menghancurkan kehormatan, tapi tetap saja melakukannya. Nah itu pula yang akhirnya membuat terjungkal sang calon (konon) menteri agama dari Golkar, Yahya Zaini. Ia terjungkal dari dunia politik karena ketahuan berhubungan seks dengan Maria Eva, yang jelas-jelas bukan istrinya. Wallahu a’lam. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2636895042263018731-1301328247131554663?l=racheedus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://racheedus.blogspot.com/feeds/1301328247131554663/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/11/kebebasan-seks-dan-moralitas.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/1301328247131554663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/1301328247131554663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/11/kebebasan-seks-dan-moralitas.html' title='Kebebasan Seks dan Moralitas'/><author><name>Rasheed Redha</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02711158177502400218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SWDfAvyUEbI/AAAAAAAAAEw/-n5c93Zsy3o/S220/Sketsa+Wajah2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2636895042263018731.post-7603299557329076247</id><published>2008-11-03T07:40:00.000-08:00</published><updated>2008-11-14T01:52:21.069-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial Budaya'/><title type='text'>Cantik dan Tampan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SQ84fDrBd_I/AAAAAAAAADY/-7c5dSUlgu4/s1600-h/Luna+Maya.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 125px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SQ84fDrBd_I/AAAAAAAAADY/-7c5dSUlgu4/s200/Luna+Maya.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5264488595632257010" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Betapa banyak perempuan cantik dan lelaki tampan. Tetapi siapa yang bisa menjamin perempuan cantik dan lelaki tampan itu juga memiliki hati dan perilaku yang baik? Bahkan sering kali perempuan cantik dan lelaki tampan itu laksana buah yang manis di luar tetapi ternyata ada ulat di dalamnya. Karena itulah, tidak serta merta setiap perempuan nan cantik dan lelaki nan tampan itu jadi cocok menjadi pasangan bagi orang yang mengagumi dan tertarik padanya.&lt;br /&gt;    Secara lahiriah, Luna Maya memang cantik. Mungkin tidak ada orang yang membantahnya. Secara fisik, Christian Sugiono juga ganteng nian. Namun mari kita merenung lebih dalam. Sering kali kita mengagumi keindahan fisik seseorang karena sebenarnya kita tidak betul-betul mengenal lebih detil dan lebih dekat terhadap orang tersebut. Kita mengenalnya hanya lewat televisi, tabloid, majalah, dan media massa lain. Ada jarak yang cukup jauh antara diri kita dengan obyek orang yang kita kagumi keindahan fisiknya. Ada make up, angel kamera, arahan gaya, dan lain-lain yang membuat seseorang tampak cantik atau tampan. Padahal mungkin saja, saat kita mengenal lebih dekat bagaimana kesehariannya, ia tidaklah seindah yang kita bayangkan.&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;    Karena kita kurang mengenal lebih dalam terhadap orang yang kita kagumi keindahan fisiknya itu, maka kita pun tidak mengenal hal-hal negatif yang juga dimiliki oleh orang yang kita kagumi itu. Mungkin saja seorang Luna Maya, misalnya, tidak akan tampak cantik jika ia baru bangun tidur dengan wajah kucel tanpa make upa serta rambut yang awut-awutan. Begitu pula seorang Tora Sudiro mungkin saja tidak akan tampak tampan di mata kita ketika mengetahuinya sedang mabuk sempoyongan lantas terjerembab di sebuah got yang kotor. &lt;br /&gt;    Penilaian terhadap kecantikan atau ketampanan seseorang juga berkaitan dengan keindahan batin dan perilaku. Dalam bahasa lain, ada inner beauty. Karena itulah, banyak orang, termasuk saya, juga tidak lagi menganggap “cantik” terhadap Siti Nurhaliza ketika ia “merebut” suami orang. Saat keindahan fisik tidak dibarengi dengan keindahan hati dan perilaku maka saat itulah, keindahan fisik menjadi kurang bermakna. Keindahan fisiknya tidak lebih dari godaan yang menjebak bagi orang yang mengaguminya. Kecantikan seorang Astri Ivo yang menggunakan busana tertutup dan tidak pernah terdengar bermasalah dalam rumah tangganya, tentu berbeda 180 derajat dengan kecantikan seorang Five Vi yang suka mengumbar lekuk tubuhnya dan rumah tangganya yang berantakan. Yang satu kecantikan yang menimbulkan keteduhan, sedang yang satunya kecantikan yang menimbulkan kegelisahan karena godaan seksualnya. &lt;br /&gt;    Di sisi lain, seorang yang mengagumi kecantikan atau ketampanan orang lain, mestinya juga harus menyadari bahwa belum tentu orang yang dikagumi betul-betul cocok dengan dirinya. Mestinya seseorang harus belajar menerima apa adanya pasangannya yang selama ini mendampingi dirinya. Mungkin pasangan kita selama ini tidak secantik atau setampan artis yang kita kagumi. Namun kita sudah betul-betul mengalami dan merasakan cinta, kebaikan, dan kasih sayang pasangan kita selama ini. Sementara orang yang kita kagumi kecantikan atau ketampanannya belum tentu ia sebaik pasangan kita sekarang. &lt;br /&gt;Jadi marilah, kita belajar untuk menerima apa adanya dengan kondisi pasangan kita selama ini. Orang Jawa bilang nrimo. Orang Arab bilang qana’ah. Tak ada gunanya perempuan cantik jika ia mengumbar kecantikannya kepada setiap lelaki dengan tingkah laku yang genit. Tak ada kesetiaan cinta yang ia pegang erat. Tak ada gunanya lelaki ganteng jika ia memanfaatkan kegantengannya hanya untuk menyakit banyak hati wanita. Ia tebarkan banyak cinta semu kepada banyak wanita. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2636895042263018731-7603299557329076247?l=racheedus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://racheedus.blogspot.com/feeds/7603299557329076247/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/11/cantik-dan-tampan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/7603299557329076247'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/7603299557329076247'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/11/cantik-dan-tampan.html' title='Cantik dan Tampan'/><author><name>Rasheed Redha</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02711158177502400218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SWDfAvyUEbI/AAAAAAAAAEw/-n5c93Zsy3o/S220/Sketsa+Wajah2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SQ84fDrBd_I/AAAAAAAAADY/-7c5dSUlgu4/s72-c/Luna+Maya.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2636895042263018731.post-6553099670853587499</id><published>2008-10-28T21:35:00.000-07:00</published><updated>2008-11-02T15:29:40.637-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Islam'/><title type='text'>Pernikahan dan Syekh Puji</title><content type='html'>Menikah adalah salah satu sunah Rasul yang patut kita ikuti sebagai orang Islam. Dengan menikah kita dikatakan telah menjalankan separuh agama. Menikah adalah salah bentuk unik ajaran Islam yang mengandung dua sisi sekaligus, duniawi dan ukhrawi, kepuasan jasmani dan kepuasan rohani; aspek individu dan aspek sosial. &lt;br /&gt;Dalam pernikahan, seorang Islam menjalankan tugas-tugas duniawi dan juga tugas ukhrawi. Tugas duniawi adalah seperti bekerja mencari nafkah. Tugas ukhrawi misalnya membimbing keluarga agar bertakwa kepada Allah. Kepuasan jasmani adalah dengan berhubungan badan dan kepuasan rohani adalah dengan memperoleh kasih sayang dari pasangan masing-masing. Aspek individu adalah bahwa menikah adalah pilihan bebas seseorang namun sekaligus juga mengandung aspek sosial bahwa menikah berarti menjalin tali persaudaraan dengan banyak orang.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Menikah tidak boleh dianggap persoalan remeh-temeh kemudian seseorang bisa seenaknya menikah tanpa melihat syarat dan rukun. Menikah yang dilakukan dengan tidak memperhatikan syarat dan rukun hanya akan menjadikan pernikahan yang tidak sah dan pasangan yang melakukannya terjerembab dalam perbuatan zina. &lt;br /&gt;Dalam undang-undang pernikahan No. 1 Tahun 1974, sudah diatur sedemikian rupa agar pernikahan betul-betul mencapai tujuannya, membina keluarga kekal yang sakinah mawaddah wa rahmah. Karena itulah, berbagai persyaratan pun dirumuskan agar bisa ditaati oleh rakyat. &lt;br /&gt;Menikah dengan orang yang masih memiliki hubungan darah, misalnya antara paman dengan keponakan, adalah pernikahan terlarang yang jelas-jelas ditegaskan dalam Alquran. Seorang paman, baik berasal dari pihak ibu maupun ayah si calon istri, adalah terlarang untuk menikahi keponakannya Jika pernikahan seperti ini tetap dilakukan, maka pernikahan itu tidaklah ada artinya di mata hukum. Sama saja tidak menikah. &lt;br /&gt;Begitu pula ketika menikah tanpa wali, maka pernikahan tersebut adalah batal demi hukum. Terlepas bahwa Imam Hanafi membolehkan nikah tanpa wali, namun hasil ijtihad para ulama Indonesia yang tertuang dalam bentuk Undang-undang Pernikahan No. Tahun 1974, jelas menyatakan bahwa pernikahan harus menggunakan wali. Hal ini semakin mempertegas bahwa pernikahan tidak hanya melibatkan antara sang suami dan sang istri semata. Tapi, juga orang lain seperti wali dan dua orang saksi. &lt;br /&gt;Pernikahan yang dilakukan oleh orang yang masih di bawah umur, seperti yang terjadi pada kasus Syekh Puji di Semarang, baru-baru ini, merupakan sebuah bentuk pelanggaran terhadap undang-undang perkawinan yang berlaku di negeri ini. Hal itu juga merupakan sebuah bentuk kesewenang-wenangan orang tua yang memanfaatkan kepolosan sang anak. &lt;br /&gt;Pernikahan dini mempunyai resiko terjadinya perceraian karena ketidakmatangan dan ketidaksiapan mental mereka yang menikah. Jika pernikahan kemungkinan besar hanya akan menimbulkan ketidakbahagiaan dan perceraian, tentu hal itu harus dicegah agar jangan sampai terjadi. Hal inilah yang mendasari mengapa undang-undang perkawinan menetapkan bahwa umur minimal perempuan untuk menikah adalah 16 tahun dan lelaki 19 tahun. &lt;br /&gt;Syekh Puji berlindung di balik pemahamannya tentang syariat yang menurutnya membolehkan menikahi anak perempuan yang masih kecil. Hal itu juga karena Nabi Muhammad sendiri menikahi Siti Aisyah ketika ia masih berumur 7 tahun. Namun pemahaman tersebut adalah sesuatu yang tidak fair. Hal itu sama saja dengan menganggap bahwa kebudayaan Arab 14 abad yang lalu saat Nabi Muhammad hidup adalah sama dengan kebudayaan modern saat ini. &lt;br /&gt;Saat itu, pernikahan dengan anak perempuan seusia Siti Aisyah adalah sesuatu yang sangat lumrah, bukan sesuatu yang aneh. Tak ada sekolah formal seperti saat sekarang yang membuat anak-anak perempuan bisa menghabiskan masa kecilnya di sekolah. Tidak usah jauh-jauh, pada zaman penjajahan saja, ketika pendidikan adalah sesuatu yang mewah dan hanya diperuntukkan untuk orang-orang kaya, saat itu banyak perempuan yang menikah di usia 13-15 tahun.  Karena itulah, adalah sangat naif jika menyamaratakan kebudayaan Arab 14 abad silam dengan kebudayaan modern saat ini. &lt;br /&gt;Karena termasuk ibadah yang mempunyai nilai sakral, pernikahan pun tidak boleh dilakukan untuk tujuan main-main. Ketika memutuskan untuk menikah, maka tujuannya adalah untuk membina keluarga yang kekal, bukan untuk membangun keluarga yang hanya akan bercerai dalam jangka waktu pendek. Untuk itulah, persiapan mental, spiritual, dan material, harus betul-betul dimiliki oleh orang yang hendak menikah. &lt;br /&gt;Banyak kasus di masyarakat kita yang terjadi. Pernikahan dilakukan hanya untuk menutupi malu karena si perempuan sudah hamil lebih dulu. Padahal saat itu, sang pengantin masih dalam usia dini. Tak ayal, kebanyakan pernikahan dilakukan di usia dini hanya akan berakhir dengan perceraian. Saat itulah, hubungan keluarga pun menjadi retak. Luka di hati yang ditimbulkan pun tidak mudah untuk diobati. Jika anak lahir, anak pun menjadi korban. Hal inilah yang harus betul-betul diperhatikan jika memang kita hendak menikahkan anak kita. &lt;br /&gt;Pergaulan bebas anak memang berisiko besar terjadinya kehamilan di luar nikah yang akhirnya memaksa terjadinya pernikahan dini. Untuk itulah, pendidikan nilai-nilai agama dan pengawasan terhadap pergaulan anak merupakan hal yang mutlak diperhatikan oleh orang tua yang masih menghendaki anaknya selamat di dunia dan akhirat. Jangan sampai anak-anak kita terperosok ke dalam hubungan seksual di luar nikah. &lt;br /&gt;Hubungan seksual dalam Islam adalah sesuatu sakral, suci, dan bagian dari ibadah. Karena itulah, ada etika yang harus dilakukan bagi setiap orang yang hendak melakukannya. Hubungan seksual hanya dilakukan oleh dua orang yang saling mencintai dalam lembaga pernikahan yang sah. Hubungan seksual tidaklah dipahami hanya sebagai kebutuhan biologis layaknya buang air kecil. Namun ia harus dipahami lebih tinggi dan mulia daripada sekedar pemahaman seperti itu. Hubungan seksual dalam Islam juga bertujuan sebagai media mencurahkan rasa kasih sayang kepada pasangan masing-masing. Karena itulah, saat hubungan seksual selesai dilakukan, ada perasaan kasih sayang yang semakin erat mengikat antara keduanya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2636895042263018731-6553099670853587499?l=racheedus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://racheedus.blogspot.com/feeds/6553099670853587499/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/10/cantik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/6553099670853587499'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/6553099670853587499'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/10/cantik.html' title='Pernikahan dan Syekh Puji'/><author><name>Rasheed Redha</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02711158177502400218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SWDfAvyUEbI/AAAAAAAAAEw/-n5c93Zsy3o/S220/Sketsa+Wajah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2636895042263018731.post-990520242901870390</id><published>2008-10-24T01:17:00.000-07:00</published><updated>2008-10-24T02:06:42.373-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Islam'/><title type='text'>Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ)</title><content type='html'>Tiga hari ini, saya mengikuti kegiatan Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) tingkat Kabupaten Indramayu yang ke-41 sebagai official. Banyak hal yang kulihat dan kurasakan. Ternyata acara tingkat kabupaten itu, tidak layak dikatakan sebagai lomba tingkat kabupaten tapi tingkat Jawa Barat dan Banten. Para peserta datang dari berbagai penjuru dari daerah di Jawa Barat dan Banten. Para peserta dari luar Indramayu itu merupakan para jawara yang sebagian sudah malang melintang di MTQ tingkat nasional.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kemudian terjadi? Tak ayal, para peserta lokal Indramayu yang tidak memiliki pengalaman bertanding, pasti tersingkir oleh para jawara dari luar Indramayu itu. Pada gilirannya, fenomena peserta pesanan dari luar itu menimbulkan suasana bertanding yang tidak sehat. Siapa yang berani membayar besar dan mau mengeluarkan modal banyak, merekalah yang akan menyabet banyak medali. Kecamatan yang tidak berani mengeluarkan modal, jangan berharap bisa menyabet banyak medali. &lt;br /&gt;Hal ini mestinya menjadi perhatian para pemerhati dunia MTQ di Indramayu. Betatapun fenomena peserta dari luar itu sudah tidak sehat lagi. Menurut pengamatan saya, hampir 50 % lebih para peserta itu dari luar Indramayu. Hal ini akan membunuh potensi lokal. Di samping itu, pembinaan MTQ dari pihak Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur'an (LPTQ) juga terlihat tidak berjalan dengan baik. Jika berjalan dengan baik, tentu potensi-potensi lokal yang selama ini sudah terlihat bisa dibina dengan baik. &lt;br /&gt;Indramayu sendiri sebenarnya banyak memiliki mantan jawara MTQ di tingkat provinsi maupun nasional. Sayang sekali, pembinaan memang belum berjalan. Meskipun sebenarnya Bupati Yance sendiri memiliki komitmen untuk mengembangkan potensi lokal. Bahkan konon LPTQ Indramayu sudah diberi dana besar oleh pihak Pemkab Indraayu untuk melakukan pembinaan. Sayang sekali, LPTQ tak lebih dari sebuah organisasi yang kerjanya hanya pada saat MTQ berlangsung saja. Kegiatan pembinaan tidak berjalan dengan baik, atau malah tidak berjalan sama sekali. &lt;br /&gt;Semoga hal ini bisa menjadi perhatian bagi seluruh pihak yang terkait. Indramayu mestinya bisa berbicara banyak di tingkat provinsi bahkan nasional, jika pembinaan potensi lokal berjalan dengan baik. Kalau perlu, para pelatih didatangkan dari luar Indramayu untuk memperkuat para pelatih yang sudah ada. Wallahu a'lam.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2636895042263018731-990520242901870390?l=racheedus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://racheedus.blogspot.com/feeds/990520242901870390/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/10/musabaqah-tilawatil-quran-mtq.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/990520242901870390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/990520242901870390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/10/musabaqah-tilawatil-quran-mtq.html' title='Musabaqah Tilawatil Qur&apos;an (MTQ)'/><author><name>Rasheed Redha</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02711158177502400218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SWDfAvyUEbI/AAAAAAAAAEw/-n5c93Zsy3o/S220/Sketsa+Wajah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2636895042263018731.post-5400312067086010441</id><published>2008-10-14T06:28:00.000-07:00</published><updated>2008-10-23T12:17:01.506-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial Budaya'/><title type='text'>Ada Apa denganmu, Indramayu?</title><content type='html'>Setelah hampir sepuluh tahun tinggal di Indramayu, saya semakin menyadari betapa uniknya kota mangga tersebut. Betapa tidak, banyak kontradiksi yang saya lihat di depan mata. Dan anehnya, semua kontradiksi berjalan seiring di tengah masyarakat seolah tanpa masalah. Orang-orang seolah membiarkan begitu saja betapa banyak problem sosial yang terjadi di tengah masyarakat. Apakah ini yang dinamakan gejala, meminjam istilah Erich Fromm, masyarakat yang sakit? Mungkin juga.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Di kota Indramayu, perda tentang anti miras sudah disahkan sejak bertahun-tahun yang lalu. Tapi apa lacur yang terjadi? Sepuluh orang lebih mati sia-sia karena berpesta ria di malam Hari Raya Idul Fitri dan seusai shalat Id! Sungguh ironis! Sebelumnya, di bulan Ramadhan, ketika orang-orang (Islam) mestinya mendekatkan diri kepada Tuhan dan memperbanyak ibadah, 21 orang lebih tewas mengenaskan karena, lagi-lagi, pesta miras. Ada apa denganmu, Indramayu? &lt;br /&gt;Ada lagi kontradiksi yang menyesakkan dada. Di Indramayu, banyak para santri yang belajar di berbagai pesantren, baik di Jawa Timur, maupun di daerah-daerah lain. Di Indramayu sendiri, hampir setiap kecamatan ada pesantren. Hampir setiap desa ada Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) dan Taman Pendidikan Alquran (TPA). Bahkan para penghafal Alquran (hafiz/hafizah) juga lumayan banyak. Lulusan Al-Azhar Kairo juga tidak sedikit jumlahnya. Pemerintah Kabupaten Indramayu juga mewajibkan untuk mengenakan jilbab kepada para karyawan perempuan yang beragama Islam di seluruh instansi pemerintahan dan juga kepada para siswi beragama Islam.  &lt;br /&gt;Namun yang terjadi di tengah masyarakat, tingkat prostitusi dan traficking cukup tinggi. Jika ada anak gadis seusia anak SMP atau SMA dan memiliki para lumayan serta berasal dari keluarga miskin, maka jangan harap anak itu lepas dari pantauan para kaki tangan mucikari yang siap menjual mereka ke Jakarta, Batam, atau di Indramayu saja. Orang tua pun dengan sadar menjual anak-anak gadis mereka untuk membantu perekonomian keluarga. Memang sangat mudah untuk mendeteksi seorang perempuan Indramayu apakah ia seorang perempuan “nakal” atau bukan. Lihat saja penampilannya. Jika ia berpenampilan seksi bergaya bak artis ibukota, berdandan menor, dan berkeliaran di malam hari, maka kemungkinan besar ia adalah perempuan "nakal!"&lt;br /&gt;Ada sebuah cerita tragis yang terjadi di Amis, salah satu desa di Indramayu. Alkisah, ada seorang ayah yang nekad menjual tanah berikut rumah yang ia tempati. Tak ayal ia pun tak punya tanah dan rumah lagi. Hal itu ia lakukan guna memperoleh modal demi mempercantik dan merubah penampilan kedua anaknya. Setelah kedua anak berpenampilan cantik laksana artis sinetron, keduanya pun dipekerjakan sebagai pelacur kelas tinggi di Jakarta. Setelah menjadi pelacur kelas atas, keduanya mengirimkan uang secara rutin kepada sang ayah yang sudah bercerai dengan istri yang juga mantan seorang pelacur. Tidak hanya uang, keduanya pun membangun rumah megah berarsitektur modern yang menjadi rumah paling bagus di Amis saat itu. &lt;br /&gt;Namun Tuhan memang tidak tidur. Ketika sekitar dua tahun lalu terjadi bencana angin puting beliung di desa tersebut, rumah nan megah itu pun luluh lantak tak bersisa. Kedua anaknya lantas berhenti dari profesi sebagai PSK dan menikah. Menyadari pasokan uang dari sang anak terhenti karena berhenti dari pekerjaan sebagai PSK, sang ayah marah besar dan seolah menganggap kedua anaknya itu sebagai anak durhaka yang tidak patuh kepada orang tua.      &lt;br /&gt;Di Indramayu, adalah sangat biasa jika anak gadis berumur 17-20 tahun menikah. Ya, pernikahan dini. Dan apa yang terjadi kemudian dengan pernikahan mereka. Kebanyakan pernikahan itu berujung dengan perceraian. Sebagai seorang petugas pencatat nikah yang tiap hari bergelut tentang pernikahan, saya tahu persis tentang hal itu. Pernikahan bagi para pengantin muda itu, tampaknya tak lebih dari sekedar warming up untuk kelak menikah lagi dua atau tiga kali.  Atau juga pernikahan itu tak lebih dari sekedar untuk menutup malu keluarga karena sang gadis telah hamil di luar nikah. &lt;br /&gt;Mungkin ada sesuatu yang salah yang harus dibenahi di masyarakat Indramayu. Sepanjang pengamatan saya, memang budaya hura-hura sangat kental di Indramayu. Seorang tukang ojek atau tukang becak bahkan rela menghutang ke sana kemari untuk mengadakan acara khitanan anaknya. Acara itu pun digelar besar-besar dengan mengundang organ tunggal atau sandiwara di siang hingga malam hari. Sebelumnya sang anak yang dikhitan juga diarak menggunakan acara Singa Depok yang diiringi dengan dangdut tarling. Orang-orang pun, muda tua, laki-laki dan perempuan, dengan berjoget ria sembari mabuk di belakang arak-arakan Singa Depok. Ketika organ tunggal dilangsungkan, sang tuan rumah juga menyediakan berkrat-krat minuman keras untuk pemuda-pemudi bermabuk ria saat penyanyi tarling beraksi di atas panggung. &lt;br /&gt;Berbagai persoalan sosial semestinya menjadi perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Indramayu dan juga seluruh elemen masyarakat yang ada. Sudah sepatutnya ada rekayasa sosial sedemikian rupa agar berbagai persoalan tersebut bisa diminimalisir juga tidak bisa dihilangkan sama sekali. Kelak ketika pilkada bupati mendatang, tampaknya harus ada kontrak politik agar jika calon bupati terpilih harus berani mengatasi berbagai persoalan tersebut. Ya, tidak hanya berupaya mengumpulkan pundi-pundi uang untuk mengembalikan ongkos pilkada.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2636895042263018731-5400312067086010441?l=racheedus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://racheedus.blogspot.com/feeds/5400312067086010441/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/10/ada-apa-denganmu-indramayu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/5400312067086010441'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/5400312067086010441'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/10/ada-apa-denganmu-indramayu.html' title='Ada Apa denganmu, Indramayu?'/><author><name>Rasheed Redha</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02711158177502400218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SWDfAvyUEbI/AAAAAAAAAEw/-n5c93Zsy3o/S220/Sketsa+Wajah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2636895042263018731.post-5208144785101315547</id><published>2008-10-08T01:29:00.000-07:00</published><updated>2008-10-24T00:52:43.319-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><title type='text'>Membela RUU Pornografi</title><content type='html'>Sungguh menarik untuk mencermati kontroversi Rancangan Undang-Undang Pornografi. Kita bisa melihat betapa masyarakat terbelah menjadi kubu yang pro dan kontra. Dari kedua kubu tersebut, kita melihat unsur masyarakat mana saja yang mendukung dan menolak. Kita bisa melihat bahwa kubu yang pro mayoritas terdiri dari organisasi-organisasi sosial dan politik yang berbau Islam, seperti NU, MUI, Muhammadiyah, dan lain-lain. Dengan kata lain, orang-orang Islam yang merindukan tegaknya moralitas yang menjunjung tinggi kesopanan dan tata susila, mendukung RUU tersebut. Sedangkan kubu kontra adalah organisasi sosial dan politik yang sekuler dan non muslim, seperti PDS, PDIP, LBH Apik, Islam Liberal, dan lain-lain. Bisa dikatakan pula, kubu yang kontra adalah mereka yang tidak menyukai adanya undang-undang yang mengandung unsur-unsur hukum Islam serta tidak menyukai kebebasan berekspresi a la Barat diatur sedemikian rupa oleh undang-undang.&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengancam disintegrasi bangsa? &lt;br /&gt;Alasan tersebut merupakan alasan yang sangat dibuat-buat. Mari kita lihat dengan jernih dari RUU Pornografi tersebut. Bagi saya, tidak ada satu pun pasal atau ayat yang berpotensi untuk menimbulkan disintegrasi bangsa. Sungguh tidak masuk akal mengaitkan persoalan pelarangan pornografi dengan disintegrasi. Tidak nyambung! Dan jika penolakan RUU Pornografi disertai dengan ancaman untuk memisahkan diri dari kesatuan RI, maka hal itu sudah masuk wilayah subversi. Jika sudah masuk wilayah subversi, maka para pelakunya tentu bisa diproses sesuai dengan hukum yang berlaku. Ancaman tersebut menunjukkan betapa para penolak itu masih kekanak-kanakan dan belum dewasa dalam bernegara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriminilasasi perempuan?&lt;br /&gt;Perempuan sebagaimana juga lelaki bukanlah pelaku kriminal selama dia tidak melakukan tindakan kriminal. Lantas di mana letak kriminalisasinya? Jika seseorang perempuan maupun lelaki, melakukan suatu tindakan yang termasuk kategori kriminal, misalnya, melakukan tarian telanjang di pasar, maka adalah masuk akal jika ia dikenai hukuman. Dengan demikian, yang perlu diperhatikan adalah tindakannya, bukan diri atau tubuhnya. &lt;br /&gt;Ketika undang-undang mengatur agar seorang perempuan tidak boleh memperlihatkan di ruang publik bagian-bagian tubuhnya yang vital, maka bagiku hal itu bukanlah bentuk kriminalisasi terhadap perempuan. Tetapi justru undang-undang tersebut mengatur agar para perempuan, termasuk juga lelaki, menghormati dirinya dan tidak menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Larangan tersebut justru agar para perempuan menyadari bahwa betapapun tubuh seseorang, laki-laki atau perempuan, tidak selamanya mutlak milik dirinya yang bisa diperlakukan seenaknya. Jika saya memiliki pisau, maka tidak berarti saya dengan bebas menggunakannya seenak saya sendiri. Saya tentu tidak boleh menggunakannya untuk membunuh seseorang. Demikian pula dengan halnya dengan tubuh seseorang. &lt;br /&gt; Pelarangan terhadap eksploitasi tubuh justru adalah sebuah upaya penghormatan terhadap manusia, baik perempuan maupun laki-laki. Adalah tindakan yang sangat tidak menghargai keberadaan sebagai manusia, jika seseorang bisa dengan bebas mempertontonkan tubuhnya tanpa sehelai benang pun di muka publik. Apa bedanya manusia dengan seekor kambing yang tidak berpakaian di tanah lapang jika manusia juga boleh bertelanjang ria di ruang publik?! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskriminasi perempuan?&lt;br /&gt;Menganggap bahwa payudara perempuan adalah lebih merangsang daripada payudara laki-laki bukanlah berarti sebuah diskriminasi terhadap perempuan. Namun, hal itu adalah sebuah pengakuan yang jujur bahwa tubuh perempuan memang berbeda dengan tubuh laki-laki. Tidak hanya bagi laki-laki yang berpikiran normal, bahkan bagi perempuan pun, penampilan seorang perempuan yang mempertontonkan payudaranya di muka umum bisa menimbulkan rasa risih dan rangsangan. Dengan demikian, tudingan diskriminasi terhadap perempuan adalah sebuah tudingan yang mengada-ada. Mungkin tudingan itu sebenarnya hanya pantas dikeluarkan oleh orang-orang yang menganut paham nudisme. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pengekangan kebebasan berekspresi?&lt;br /&gt;Kebebasan berekspresi tidak lama sama dengan kebebasan untuk mengekspresikan ketelanjangan dan pornografi. Kebebasan berekspresi tidaklah berarti kebebasan tanpa batas. Betapapun, masyarakat memerlukan aturan atau undang-undang yang mengatur kebebasan anggota masyarakat. Hal itu karena jika kebebasan tidak diatur, maka akan timbul kekacauan di tengah masyarakat. Jika kran kebebasan dibuka seluas-luasnya, maka atas nama kebebasan berekspresi orang bisa mengadakan pertunjukan tari telanjang di lapangan terbuka, misalnya. Mungkin ada yang bertanya: di mana letak kekacauannya? Kekacauan tidak selalu berbentuk fisik. Hancurnya norma-norma kesusilaan dan rasa malu di tengah masyarakat adalah salah satu bentuk kekacauan yang terjadi jika pornografi dibiarkan bebas tanpa batas atas nama kebebasan berekspresi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengatur Distribusi Materi Pornografi? &lt;br /&gt;Mengatur materi yang mengandung pornografi bukanlah solusi yang tepat untuk menanggulangi dampak negatif pornografi. Kita bisa belajar dari kasus Amerika. Di sana materi pornografi dibatasi sedemikian rupa. Majalah porno seperti Playboy dan Penthouse tidak dijual bebas di setiap toko. Di samping itu, majalah itu pun tidak ditampilkan secara terbuka di toko yang menjualnya. Hanya orang-orang yang betul dewasa yang boleh membelinya. Film juga diberi label X, XX, XXX untuk menunjukkan tingkat pornografinya. Orang yang di bawah umur tidak boleh menonton film-film yang telah diberi label X. &lt;br /&gt;Namun apa yang terjadi dengan Amerika setelah terjadi pengaturan dan pembatasan materi pornografi? Berdasarkan laporan, di sana justru pemerkosaan justru terjadi hampir setiap menit. Pelecehan dan kekerasan seksual justru bertengger di tingkat yang tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain. Nah, mestinya hal itu menyadarkan kita semua bahwa mengatur distribusi materi pornografi tidaklah menjadi jaminan bahwa pornografi tidak menimbulkan ekses negatif. &lt;br /&gt;Mengatur bahwa materi pornografi boleh diakses oleh orang dewasa adalah bukanlah solusi yang tepat. Betapapun, orang dewasa pun tidak bisa dijamin bahwa mereka tidak akan melakukan kekerasan seksual setelah mereka menikmati materi pornografi, baik berupa media cetak maupun elektronik. Sebagaimana yang juga terjadi di Indonesia, di tayangan-tayangan kriminalitas seperti Buser dan Patroli kita sering melihat kasus-kasus di mana orang-orang tua, bahkan kakek-kakek, yang justru melakukan pemerkosaan setelah mereka menonton VCD porno. &lt;br /&gt;Karena itulah, pencegahan dampak negatif pornografi mestinya dengan melarang total distribusi materi-materi yang mengandung pornografi. Kalaupun toh ada pengecualian, hal itu sebagaimana yang telah diatur dalam RUU Anti Pornografi, adalah hal-hal yang berkaitan dengan budaya dan kesenian, seperti budaya koteka di Papua dan pariwisata pantai di Bali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Campur Tangan Negara terhadap Persoalan Privat? &lt;br /&gt;Negara tentu saja tidak berhak mencampuri urusan privat warga negaranya. Karena jika negara berhak mengatur urusan privat warga negaranya, maka hal itu menimbulkan kekacauan di tengah masyarakat. Kebebasan masyarakat akan sirna. Namun di mana letak ukuran urusan privat? Setiap orang yang bertelanjang dan berhubungan intim di kamarnya sendiri bersama pasangannya yang sah, tentu negara dan masyarakat tidak berhak untuk mencampuri atau melarangnya. Seseorang bisa membuat film tentang hubungan intimnya dengan pasangannya sendiri jika hal itu untuk konsumsi dirinya sendiri. Namun jika film itu sudah dipublikasikan, maka hal itu sudah masuk wilayah pidana. Hal itu bukanlah persoalan privat yang tidak bisa dimasuki oleh aparat negara. &lt;br /&gt;Setiap perempuan juga berhak untuk berpakaian sesuai dengan yang dia inginkan. Namun ketika dia telah masuk sebuah institusi yang mengatur pakaian seragam tertentu, maka ia pun tidak bisa seenaknya berpakaian. Hal ini menunjukkan bahwa ketika seseorang, baik laki-laki maupun perempuan, masuk ke ranah publik, maka ia tidak lagi bebas untuk berpakaian sebagaimana yang dia inginkan. Namun jika ia berada di rumahnya sendiri, orang mau bertelanjang setiap hari pun, tidak akan ada polisi yang akan menangkapnya. Sebaliknya, ketika seorang perempuan jalan-jalan di pasar dengan membiarkan payudaranya melambai-lambai seperti nyanyian nyiur di pantai, tentu saja orang-orang akan menganggapnya gila. Aparat hukum berhak menangkapnya karena menimbulkan keresahan dan melanggar tata susila. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertentangan dengan Hak Asasi Manusia?&lt;br /&gt;Hak asasi yang mana yang dilanggar? RUU Pornografi tidaklah memberangus hak asasi seseorang. Yang diatur oleh rancangan undang-undang itu adalah bahwa tindakan seseorang yang mengandung unsur-unsur pornografi. Setiap orang berhak menggunakan hak asasinya selama tidak menimbulkan keresahan dan kekacauan di tengah masyarakat. Bagi saya, tidaklah dikatakan melanggar Hak Asasi Manusia, jika negara melarang orang-orang untuk melakukan pertunjukan erotis yang mengeksploitasi seks. Hal itu karena perbuatan tersebut memang bisa menimbulkan rusaknya norma-norma dan tata susila di tengah masyarakat. Pertunjukan tari erotis (striptease) yang dilarang oleh undang-undang justru hendak menegaskan kehormatan perempuan. Betapapun, perempuan tidak boleh dieksploitasi oleh distribusi seks dan dijadikan hanya sebagai komoditas layaknya barang dagangan. Sungguh, adalah suatu pelecehan terhadap harkat dan martabat perempuan jika terjadi eksploitasi perempuan oleh industri seks dalam bentuk pertunjukan striptease, pemotretan model bugil, dan pembuatan film porno.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pornografi Bukanlah Soal Moralitas Semata &lt;br /&gt;Adalah naif jika pornografi hanya dianggap persoalan moralitas semata. Pornografi lebih merupakan kejahatan yang harus diatur dalam sebuah undang-undang. Adanya orang yang memerkosa setelah ia menonton VCD porno yang marak dijual di pinggir-pinggir jalan, bukanlah semata persoalan moralitas bahwa si pelaku adalah orang yang bermoral bejat. Pencegahan terjadinya dampak negatif dari pornografi tidak bisa diserahkan kepada pendidikan moral semata yang dilakukan oleh pihak keluarga. &lt;br /&gt;RUU Pornografi tidaklah berpretensi untuk memperbaiki moral bangsa secara keseluruhan. Undang-undang tetaplah memiliki sesuai dengan fungsinya sebagai undang-undang. Persoalan bangsa tetap menjadi tanggung jawab seluruh komponen bangsa. Memang diakui, dengan UU tersebut bukan berarti semua persoalan bangsa akan selesai. &lt;br /&gt;Betapapun, persoalan korupsi, gizi buruk, busung lapar, pembalakan liar, perlindungan TKW, dan lain-lain, tetaplah persoalan bangsa yang juga diatasi. Tapi bukan berarti banyaknya persoalan itu menghilangkan urgensi masalah pornografi sehingga harus dibuat undang-undang. Ingat, Indonesia adalah surga pornografi kedua setelah Rusia. Hanya sekedar mengalihkan persoalan, dan bukannya memecahkan persoalan jika mempertanyakan mengapa negara harus repot-repot mengatur cara berpakaian seorang perempuan, seperti persoalan-persoalan lain seperti di atas masih banyak terjadi. &lt;br /&gt;Karena itu pula, adalah logika berpikir yang sesat, jika mengatakan bahwa RUU APP harus ditolak, tapi di sisi lain juga menolak pornografi. Jika memang menolak pornografi, mestinya mendukung undang-undang yang berusaha memberantas pornografi tersebut. Kalaupun RUU Pornografi sekarang dianggap masih ada kelemahan, maka yang harus dilakukan adalah memperbaikinya, bukan justru menolaknya mentah-mentah. Adanya berbagai kelemahan, bukan berarti lantas harus menghilangkan substansi regulasinya.  &lt;br /&gt;Adalah aneh mengatakan bahwa kita tidak perlu adanya RUU APP karena undang-undang yang ada sudah mencukupi. Justru karena undang-undang yang ada tidak memadai, maka RUU Pornogarafi tersebut disusun. Selama ini definisi pornografi belum diungkapkan dengan jelas dalam undang-undang yang sudah ada, karena itulah  RUU APP disusun dan dibuat definisi pornografi. Kalaupun toh definisi itu masih belum mencukupi, tentu bisa dirumuskan kembali, bukan dengan menolak mentah-mentah RUU APP. Karena penolakan itu berarti kita set back.  &lt;br /&gt;RUU Pornografi justru berusaha untuk melindungi perempuan dan anak-anak. Tindakan mengeksploitasi bagian-bagian tubuh yang vital --yang dianggap tindakan pidana oleh RUU tersebut sehingga harus dihukum bagi orang yang melakukannya, laki-laki maupun perempuan,-- justru merupakan tindakan yang merendahkan martabat perempuan menjadi hanya sekedar komoditas dalam kancah kapitalisme. &lt;br /&gt;Penanggulangan pornografi tidak bisa hanya dilakukan oleh masyarakat sendiri secara kultural. Pornografi telah menjadi kejahatan yang begitu dahsyat. Kita tidak bisa hanya berharap kepada orang tua masing-masing agar melindungi anaknya dari serbuan pornografi yang begitu meruyak. &lt;br /&gt;Pemahaman orang yang berbeda terhadap obyek yang dianggap merangsang hasrat seksual, bukanlah berarti kita menganggap bahwa pornografi tidak bisa diatur dan dibuat undang-undangnya. Itu adalah logika berpikir yang meloncat. Meski berbeda-beda, masyarakat tetap membutuhkan kepastian hukum mana yang merangsang mana yang tidak. &lt;br /&gt;Menentang RUU Pornografi dengan beralasan adanya kekhawatiran hilangnya budaya di Papua adalah sebuah alasan yang sulit dimengerti. Kita seolah hendak membiarkan saudara kita di Papua terus berada dalam keterbelakangan dan budaya primitif  tak ubahnya di zaman batu. Betapa tidak kita seolah tidak boleh mengubah mereka yang masih banyak hanya mengenakan koteka, bertelanjang dada, menutup alat vital sekedarnya. &lt;br /&gt;Menentang RUU Pornografi dengan menampilkan pertunjukan erotis di jalan-jalan adalah tindakan yang sangat tidak bertanggung jawab. Hal ini justru menunjukkan bahwa para penentang itu memang hendak membela kebebasan yang tidak bertanggung jawab, tidak peduli dengan moralitas dan tata krama, dan tidak peduli akibat perbuatan mereka terhadap anak-anak yang menonton pertunjukan mereka.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2636895042263018731-5208144785101315547?l=racheedus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://racheedus.blogspot.com/feeds/5208144785101315547/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/10/membela-ruu-pornografi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/5208144785101315547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/5208144785101315547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/10/membela-ruu-pornografi.html' title='Membela RUU Pornografi'/><author><name>Rasheed Redha</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02711158177502400218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SWDfAvyUEbI/AAAAAAAAAEw/-n5c93Zsy3o/S220/Sketsa+Wajah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2636895042263018731.post-2123045472956805689</id><published>2008-10-07T22:49:00.000-07:00</published><updated>2008-10-24T01:05:47.563-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khutbah'/><title type='text'>KENIKMATAN DAN KEBAHAGIAAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Khutbah Jum'at&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحمد لله الذي مُعِزِّ من أطاعه و اتقاه. و مُذِلِّ من خالف أمره و عصاه. و هادي من تَوَجَّهَ إليه وَ اسْتَهْدَاه. أحمده سبحانه و تعالى حمدا يملأ أرضه و سماه. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له. و لا معبود بحقٍ سواه. شهادة أَدَّخِرُها ليوم لا ينفع فيه والدٌ ولدَه و لا و لدٌ أباه. وَ أَشْهَدُ أَنَّ سيدنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ الذي اصطفاه و اجتباه. اللهم صل و سلم على عبدك ز رسولك محمد و على اله و أصحابه و من نصره و اتبع هداه. أما بعد: فيا أيها الناس اتقوا الله تعالى فقد فاز من أطاعه و اتقاه. و خسر و خاب من كفر به و عصاه. و اعلموا أن التقوى هي الوقاية من عذاب النار. و انتهوا من الغفلات ة الإغترار. قال الله تعالى في القرآن الكريم: وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ اْلآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hadirin sidang Jum'at yang dimuliakan Allah &lt;br /&gt;Marilah kita senantiasa berupaya meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita sepanjang hayat masih dikandung badan. Hal itu karena hidup memang penuh cobaan dan ujian. Jika kita tidak terus meningkatkan keimanan dan ketakwaan, maka mungkin kita akan terjerumus dalam godaan dan perangkap kehidupan dunia yang fana ini. Kehidupan merupakan ladang ujian yang dipersiapkan oleh Allah untuk melihat kualitas seorang. Allah berfirman: &lt;br /&gt;الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ: الملك: 2) &lt;br /&gt;Artinya: Allah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.   (QS. Al-Mulk: 2)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang tentu ingin memperoleh kebahagiaan, kesenangan, dan kenikmatan  Mereka pun akhirnya menghabiskan waktu sepanjang hidup dalam upaya untuk memperoleh kebahagiaan dan kenikmatan. Dalam pencarian terhadap kesenangan dan kebahagiaan itulah, justru banyak orang yang gagal dan akhirnya diperbudak oleh hawa nafsu. Orang yang sangat menyukai minuman keras, misalnya, menghabiskan waktunya sehingga tak terlewat satu hari pun tanpa mabuk-mabukan. Setiap uang hasil jerih payahnya bekerja ia habiskan untuk membeli berbotol-botol minuman keras. Pada  saat ia sudah dikuasai oleh hawa nafsunya untuk mabuk-mabukkan itulah, maka justru ia semakin menjauh dari kenikmatan dan kebahagiaan yang ingin ia cari. Justru ia menggali liang kesengsaraannya sendiri. Betapapun, minuman keras pasti akan merusak jiwa dan badannya sendiri, serta menghalangi kita dari mengingat Allah.&lt;span class="fullpost"&gt; Allah berfirman: &lt;br /&gt;إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ (91)&lt;br /&gt;Artinya:  Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (QS. Al-Maidah: 91)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirin sidang Jum'at yang dimuliakan Allah &lt;br /&gt;Orang-orang pun mencari kebahagiaan melalui berbagai cara. Bagi sebagian orang, mereka rela menghabiskan waktu, pikiran, tenaga, dan harta untuk mencari perempuan yang cantik atau lelaki yang tampan sebagai pasangan hidupnya. Seolah kecantikan atau ketampanan merupakan salah satu ukuran kebahagiaan dan kenikmatan bagi mereka. Mereka mengira bahwa jika mereka telah mendapatkan pasangan hidup yang cantik atau tampan, maka tentu mereka akan senang dan bahagia. Tapi ternyata setelah mereka mampu mendapatkan pasangan yang cantik atau ganteng, ternyata sering kali bukan kebahagiaan dan kesenangan yang mereka peroleh. Yang mereka peroleh justru prahara rumah tangga berkepanjangan yang berujung kepada perceraian. Rasa sakit hati dan penderitaan justru melingkup jiwa mereka. Padahal yang sebenarnya yang perlu dicari adalah kesalehan pribadi, bukan cantik atau gantengnya seseorang. Dalam hal ini, Nabi Muhammad bersabda: &lt;br /&gt;الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ (رواه مسلم و النسائي و أحمد)&lt;br /&gt;Artinya: Dunia adalah tempat untuk bersenang-senang. Dan sebaik-baik tempat bersenang-senang adalah perempuan yang salehah.  (H.R. Muslim, Nasai, dan Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirin sidang Jum'at yang dimuliakan Allah &lt;br /&gt;Ada juga sebagian orang yang menganggap bahwa kekayaan itulah yang akan membuat hidup mereka senang dan bahagia. Tak ayal, mereka pun berlomba dan bekerja keras untuk memperoleh harta sebanyak-banyaknya. Mereka mengira, jika sudah kaya raya, dan segala kebutuhan terpenuhi, pastilah mereka akan senang bahagia. Tapi yang sering kali terjadi justru sebaliknya. Saat mereka berlimpah kekayaan, saat itu pula derita demi derita datang menghampiri. Mereka justru disibukkan dengan berbagai cara agar harta tetap mereka miliki dan tidak hilang, sehingga mereka terus diliputi rasa gelisah dan khawatir. Tidur pun tak nyenyak dan hidup tak tenang. Saat sebagian hartanya diambil oleh Allah, baik lewat perampokan, pencurian, penipuan, bencana alam, dan sebagainya, mereka pun dirundung kesedihan. &lt;br /&gt;Padahal kita hanyalah dititipi oleh Allah untuk mengelola harta tersebut dengan sebaik-baiknya demi kebaikan dan mensyukurinya. Sebenarnya secara hakiki, kita tidak pernah bisa memiliki harta. Jangankan harta yang sekarang ada pada kita, seluruh alam semesta dan segala isinya adalah milik Allah semata. Allah berfirman:  &lt;br /&gt;وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ(ال عمران: 109 )&lt;br /&gt;Artinya: Kepunyaan Allahlah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan. (QS. Ali Imran: 109)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga sebagian orang yang mengira bahwa jika nafsu berahinya dilampiaskan dengan banyak perempuan cantik, maka saat itulah mereka memperoleh kenikmatan dan kebahagiaan. Namun justru kebahagiaan yang dicari seolah tak jua datang menghampiri, karena kepuasan berahi tidak akan pernah ada habisnya. Setiap kali nafsu berahinya dituruti, maka nafsu itu terus meminta untuk dituruti dan ditambahi, sehingga akhirnya justru memasung jiwanya. Ia akan terus mencari cara memuaskan hawa nafsunya sehingga menjadi lingkaran setan yang tak berujung. Padahal hawa nafsu akan cenderung menjerumuskan diri kita ke dalam kejahatan, kecuali jika kita mampu mengendalikannya. Allah berfirman: &lt;br /&gt;إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي  (يوسف: 53) &lt;br /&gt;Artinya:  Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. (QS. Yusuf: 53)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga yang menganggap bahwa kebahagiaan dan kesenangannya adalah dengan menduduki jabatan atau kekuasaan. Ia mengira bahwa jika suatu jabatan ia peroleh, maka ia pun akan senang dan bahagia. Namun justru kebahagiaan yang dicari justru menjadi keresahan yang tak bertepi. Setiap kali suatu jabatan ia peroleh, ia pun hendak mencari lagi jabatan yang lebih tinggi dan lebih luas. Sehingga akhirnya pencarian jabatan itu terus-menerus menghantui jiwanya. Dan ketika suatu jabatan hilang dari tangannya, ia pun diperangkap oleh kesedihan dan keresahan yang tak berkesudahan. Padahal hanya Allah yang sebenarnya Penguasa dan Pemilik kekuasaan seutuhnya. Dialah yang memberi dan mencabut kekuasaan pada makhluk-Nya. Dalam hal ini, Allah berfirman: &lt;br /&gt;قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (ال عمران: 26)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Ali Imran: 26)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirin sidang Jum'at yang dimuliakan Allah &lt;br /&gt;Sebagaimana dikatakan Al-Ghazali dalam Kimia Kebahagiaan, kebahagiaan yang sesungguhnya dan yang tertinggi adalah pertemuan dengan Allah dan bisa menatap wajah-Nya. Hal itu karena Allah adalah pencipta setiap kenikmatan dan kebahagiaan yang ada di alam semesta ini. Sementara setiap kenikmatan dan kebahagiaan yang bersumber pada hal-hal yang bersifat lahiriah, tidaklah akan kekal. Kebahagiaan dan kenikmatan demikian biasanya akan sirna seiring dengan perjalanan waktu. Ia akan berujung pada kebosanan dan kegelisahan. Sementara kebahagiaan pertemuan dengan Allah adalah sesuatu yang bersifat batiniah. Ia tidak akan sirna begitu saja. Ia tidak akan dihinggapi oleh rasa bosan. &lt;br /&gt;Karena itulah, jangan terperangkap dalam pencarian yang tak berujung. Saat kita terus berupaya mengejar kesenangan duniawi, maka sebenarnya kita seolah hendak meminum air samudra. Nabi Isa a.s. bersabda: “Pencinta dunia ini seperti seseorang yang minum air laut; makin banyak minum, makin hauslah ia sampai akhirnya mati akibat kehausan yang tak terpuasi.” &lt;br /&gt;Akhirnya, marilah kita terus bertakwa dan meningkatkan kualitas ketakwaan dan keimanan. Karena dengan meningkatnya kualitas ketakwaan dan keimanan kita, maka pada saat itu pula kebahagiaan hidup semakin banyak kita raih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بارك الله لي و لكم بالآيات و الذكر الحكيم و تقبل مني و منكم تلاوته انه هو السميع العليم. و قل رب اغفر و ارحم و أنت خير  الراحمين. &lt;br /&gt;ooOoo&lt;br /&gt;الحمد لله الذي هدانا لهذا وما كنا لنهتدي لو لا أن هدانا الله. أشهد أن لا اله إلا الله وحده لا شريك له. و أشهد أن محمدا عبده و رسوله لا نبي بعده .فيا عباد الله اتقوا الله حق تقاته و لا تموتن إلا و أنتم مسلمون.  قال الله تعال في كتابه الكريم: إن الله و ملائكته يصلون على النبي. يا أيها الذين أمنوا صلوا عليه و سلموا تسليما. اللهم صل على سيدنا محمد و على آل سيدنا محمد كما صليت على سيدنا إبراهيم و على آل إبراهيم. اللهم اغفر للمسلمين و المسلمات و المؤمنين و المؤمنات الأحياء منهم و الأموات. ربنا اغفر لنا و لإخواننا الذين سبقونا بالإيمان و لا تجعل في قلوبنا غلا للذين امنوا ربنا إنك رؤف رحيم. رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا في ابتغاء فضلك. اللهم أرنا الحق حقا و ارزقنا اتباعه و ارنا الباطل باطلا و ارزقنا اجنتابه. رَبِّنا أَوْزِعْنِا أَنْ نشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَينا وَعَلَى وَالِدَينا وَأَنْ نَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِا بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ. اللهم افتح مسامع قلوبنا لذكرك و ارزقنا طاعتك و طاعة رسولك و عملا بكتابك. اللهم إنا نعوذبك من قلوب لا تخشع و من دعاء لا يسمع و من نفوس لا تشبع و من علم لا ينفع. اللهم انصر من نصر الدين و اخذل من خذل المسلمين. ربنا آتنا في الدنيا حسنة و في الآخرة حسنة و قنا عذاب النار. سبحانك ربك رب العزة عما يصفون و سلام على المرسلين و الحمد لله رب العالمين.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2636895042263018731-2123045472956805689?l=racheedus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://racheedus.blogspot.com/feeds/2123045472956805689/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/10/kenikmatan-dan-kebahagiaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/2123045472956805689'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/2123045472956805689'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/10/kenikmatan-dan-kebahagiaan.html' title='KENIKMATAN DAN KEBAHAGIAAN'/><author><name>Rasheed Redha</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02711158177502400218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SWDfAvyUEbI/AAAAAAAAAEw/-n5c93Zsy3o/S220/Sketsa+Wajah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2636895042263018731.post-7023303839778797035</id><published>2008-09-30T04:41:00.000-07:00</published><updated>2008-10-24T01:10:35.264-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial Budaya'/><title type='text'>Dan Tuhan pun Berlebaran</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SOJqs5Ay2lI/AAAAAAAAACY/RYe73tMYVGo/s1600-h/Mang+Olik.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SOJqs5Ay2lI/AAAAAAAAACY/RYe73tMYVGo/s200/Mang+Olik.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251877434918361682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh: &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Abdul Kholiq&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lebaran berarti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;lebar, lebur, luber&lt;/span&gt; yang notabene merupakan sifat Allah Yang Maha Pengampun bagi manusia yang memang banyak membuat kekeliruan terhadap sesamanya, Penciptanya, dan bumi yang disediakan untuk mereka. Kalau kita melihat kecenderungan manusia dalam kehidupannya, kita menyadari bahwa mungkin manusia memang layak dihukum oleh Allah. Akibat kelalaian dan kecerobohan yang dibuat manusia, Allah pun punya banyak alasan untuk memberikan manusia hukuman yang setimpal. Tapi Gusti Allah sangat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;lebur&lt;/span&gt;; artinya memaafkan, mengampuni. Dalam Quran pun dinyatakan, Allah memiliki sifat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ghafur&lt;/span&gt; artinya mengampuni, memaafkan. Jika Gusti Allah tidak memiliki sifat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ghafur&lt;/span&gt;, manusia tentu dalam kehancuran. Dan manusia pun harus bisa memaknai segala sifat ketuhanan untuk bisa diterapkan pada kehidupan sesamanya. Pemaknaan itu dengan cara bahwa pengampunan harus melewati proses kesadaran dan pengakuan bahwa ia telah melakukan kekeliruan dan bersedia untuk memperbaiki kekeliruan tersebut.&lt;span class="fullpost"&gt; Jika kita telah mengambil sepatu milik teman kita, cara maaf adalah mengembalikan sepatu itu pada teman kita, meskipun tidak cukup dengan mohon maaf saja. Begitu juga kesalahan-kesalahan yang dibikin manusia terhadap Tuhannya. Manusia harus bersedia menggantikan kekeliruan yang dibuatnya dengan segala kesadaran untuk tidak mengulanginya lagi. Maka Tuhan pun akan melebur kesalahan-kesalahan dengan menggantikan jalan-jalan kemudahan bagi manusia. &lt;br /&gt;   Lebaran bagi banyak kalangan hanya sanggup dimaknai dengan baju baru dan bersilaturahmi. Mereka belum sampai untuk bisa menukik jauh ke dalam, menyelinap di balik makna-makna lebaran. Memang banyak manusia kurang berminat untuk menikmati keindahan makna-makna yang terkandung dalam setiap hal yang bersentuhan dengan dirinya. Lebih banyak hanya bisa dinikmati secara fisik ketimbang secara rohani, yang sebenarnya jauh lebih nikmat ketimbang menikmati baju-baju baru. Kita pun menyadari betapa sedikitnya penikmat jalan-jalan rohani. Di sisi lain, saat ini sedang terjadi proses pendangkalan dan pembusukan pada berbagai hal, karena ukuran-ukuran yang sering digunakan adalah ukuran seragam, peci, baju, titel haji, gelar akademik, yang sangat memungkinkan terjadi kekeliruan-kekeliruan fatal dalam penentuan sikap. &lt;br /&gt;Idul Fitri --yang dirayakan jutaan orang dengan biaya yang tidak sedikit-- kurang bisa dimaknai dengan kecerdasan yang memadai. Seluruh manusia hiruk-pikuk merayakan dengan berbagai kegiatan, termasuk mega takbiran yang diselenggarakan pemerintah. Mereka menyangka bahwa dengan menyerukan takbir seantero langit, Tuhan pun merasa senang. Tapi Gusti Allah yang seharusnya diagungkan justru tidak dibesarkan bahkan dilupakan. Jika mereka, pemerintah, hendak berlebaran berarti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;lebar&lt;/span&gt;. Artinya, seharusnya mereka selesai dan rampung dari cara-cara untuk merampok kesejahteraan rakyat lantas memperbaiki kinerja yang masih amburadul; melihat kebijakan yang sedang berlangsung yang memungkinkan untuk rakyat bisa merasakan berlebaran sepanjang kehidupan bangsa;  bukan hanya berlebaran sesaat; bergembira saat pulang kampung bertemu dengan sanak saudara; dan melupakan sesaat keresahan hidup. Memang tampaknya bangsa Indonesia tidak pernah berlebaran sesungguhnya,&lt;br /&gt;   Lebaran pun dijadikan sebagai ajang mengalihkan kegelisahan masyarakat urban yang tidak menemukan arti lebaran yang sesungguhnya. Hal itu karena kebijakan penguasa hanya seperti baju leberan, yang dipakaikan untuk orang yang sakit dan bukan mengobatinya agar sehat. Dengan membeli baju baru, mereka mengira hal itu bisa melupakan sakit mereka. Bangsa ini sedang melakukan penghancuran diri sendiri; memiskinkan diri sendiri; dengan  merendahkan kebesaran-Nya. Dan yang paling mendasar, mereka tidak mengerti akan kebesaran-Nya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2636895042263018731-7023303839778797035?l=racheedus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://racheedus.blogspot.com/feeds/7023303839778797035/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/09/tuhan-pun-berlebaran-dengan-sedih.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/7023303839778797035'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/7023303839778797035'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/09/tuhan-pun-berlebaran-dengan-sedih.html' title='Dan Tuhan pun Berlebaran'/><author><name>Rasheed Redha</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02711158177502400218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SWDfAvyUEbI/AAAAAAAAAEw/-n5c93Zsy3o/S220/Sketsa+Wajah2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SOJqs5Ay2lI/AAAAAAAAACY/RYe73tMYVGo/s72-c/Mang+Olik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2636895042263018731.post-3090783116804927899</id><published>2008-09-29T09:40:00.000-07:00</published><updated>2008-10-24T01:12:08.177-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Islam'/><title type='text'>Shalat Berjamaah: Latihan Kepemimpinan dalam Islam</title><content type='html'>Kemarin malam, saya shalat tarawih di mushalla belakang rumah saya. Yang menjadi imam adalah paman saya yang usianya hampir 70 tahun. Saya sendiri berdiri tepat di belakang beliau. Saat itu, saya akui saya kurang khusyuk dalam shalat. Ketika sang imam kurang rakaatnya, saya pun jadi ragu-ragu untuk mengingatkan beliau. Walhasil, shalat pun diakhiri dengan jumlah rakaatnya yang kurang dari semestinya. Dus kesalahan imam harus ditanggung oleh seluruh makmum shalat tarawih saat itu. Orang-orang pun mengkritik saya yang tidak mengingatkan sang imam. Ah, memang tidak mudah untuk senantiasa khusyuk dalam shalat.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Dari kejadian tersebut, saya pun jadi tercenung. Ya, mencermati bagaimana orang Islam melaksanakan shalat berjamaah, adalah suatu yang menarik. Dalam ibadah tersebut, tercermin bagaimana memilih seorang pemimpin; bagaimana sang pemimpin melaksanakan kepemimpinannya; bagaimana rakyat menghadapi pemimpin mereka. &lt;br /&gt;Sungguh indah ibadah shalat berjamaah. Orang Islam tidak hanya dididik untuk mengagungkan Tuhan, tapi juga bagaimana ia bersikap di tengah masyarakat. Mari kita perhatikan baik-baik. Dalam hukum Islam, imam shalat berjamaah adalah dipilih dari orang terbaik yang memang layak untuk memimpin shalat. Ia harus memiliki pengetahuan agama yang cukup, memiliki bacaan yang fasih, suaranya keras, berperilaku yang baik, dan lain-lain. &lt;br /&gt;Hal ini menunjukkan betapa Islam mengajarkan bahwa kita tidak boleh ceroboh dalam memilih pemimpin. Orang yang kita tunjuk sebagai pemimpin adalah orang berkualitas yang memang memiliki kualifikasi sebagai pemimpin yang baik. Pemimpin adalah orang yang betul-betul cakap, mampu, dan amanah untuk mengemban amanat dari rakyat.&lt;br /&gt;Seorang imam dalam shalat berjamaah adalah juga seorang pemimpin yang harus ditaati oleh para makmumnya. Setiap perintah dan aba-aba sang imam harus diikuti oleh para makmum. Tidak boleh para makmum mendahului atau tidak segera mengikuti perintah yang diberikan sang imam. Hal ini menunjukkan betapa Islam mengajarkan kepada orang-orang Islam untuk menaati pemimpin mereka; menaati hukum yang telah ditetapkan oleh sang pemimpin. &lt;br /&gt;Meski kita diajarkan untuk menaati sang pemimpin, shalat berjamaah juga mengajarkan bagaimana rakyat boleh bahkan harus mengoreksi sang pemimpin jika melakukan kesalahan. Dalam shalat berjamaah, jika seorang imam salah dalam membaca Surah Alquran atau keliru dalam jumlah rakaat, misalnya, maka para makmum harus menegurnya dengan cara tertentu, yaitu bagi laki-laki dengan cara mengucapkan “subhanallah” dan bagi perempuan dengan cara menepukkan tangan ke tubuhnya. Hal ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin bukanlah malaikat yang tidak bisa melakukan kesalahan. Bahkan suatu Nabi pun pernah kesalahan dalam shalat berjamaah, sehingga beliau ditegur para makmum, lantas melakukan sujud sahwi. &lt;br /&gt;Adanya tata cara tertentu dalam mengoreksi imam menunjukkan bahwa mengoreksi pemimpin harus mengikuti cara-cara tertentu yang santun dan tidak sembarangan. Hal ini agar kepemimpinan tetap berjalan dengan baik, dan shalat tetap terus dilangsungkan. Ketika kesalahan telah diperbaiki, sang imam melakukan sujud sahwi di akhir shalat, sebagai pertanda bahwa ia memang telah melakukan suatu kesalahan. Hal ini juga menunjukkan betapa seorang pemimpin harus dengan lapang dada dan berjiwa besar mengakui kesalahannya dan menerima kritikan dari rakyatnya. &lt;br /&gt;Kritikan atau teguran dalam shalat berjamaah dilakukan oleh orang-orang yang berada di shaf paling depan yang paling dekat dengan imam. Hal ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin harus dikawal oleh orang-orang yang cakap dan memiliki pengetahuan yang berada di sekelilingnya. Karena itulah, dalam shalat berjamaah, orang-orang yang berada di shaf paling depan mestinya adalah orang-orang yang pandai dan cakap yang betul-betul bisa mengerti bagaimana seharusnya shalat dilakukan. Dengan demikian, orang-orang itu betul-betul bisa mengetahui ketika terjadi kesalahan dilakukan oleh sang imam. &lt;br /&gt;Nah hal ini juga menunjukkan betapa dalam sebuah masyarakat, para tokoh dan cendekiawan yang memiliki pengetahuan dan kecakapan harus berada di dekat pemimpin sehingga betul-betul bisa mengoreksi sang pemimpin jika terjadi kesalahan. Para pemimpin tidak boleh dikelilingi oleh orang-orang yang tidak cakap dan tidak mengerti bagaimana tugasnya. Jika para pembantu sang pemimpin terdiri dari orang-orang yang tidak cakap, maka masyarakat akan menjadi korban jika pemimpin melakukan kesalahan dan tidak ada yang bisa atau berani mengoreksinya. &lt;br /&gt;Ketika seorang imam melakukan sesuatu yang bisa membatalkan shalatnya, misalnya, dengan berkentut, maka ia pun harus digantikan oleh orang yang berada di dekatnya yang memang cakap untuk menjadi imam pengganti. Sementara shalat berjamaah pun tetap terus bisa dilaksanakan. Hal ini menunjukkan betapa orang-orang yang berada di sekeling imam adalah orang-orang yang betul-betul mampu dan cakap sehingga jika terjadi sesuatu yang membuat sang pemimpin harus lengser dari kekuasaannya, mereka bisa menggantikannya tanpa harus menimbulkan kekacauan. &lt;br /&gt;Karena shalat berjamaah memberikan peluang bagi para makmum untuk mengingatkan atau bahkan menggantikan sang imam, maka para makmum pun tidak boleh lengah atau mengantuk dalam mengawasi jalannya kepemimpinan sang imam. Hal ini menggambarkan bahwa Islam mengajarkan kepada orang-orang Islam agar tidak lengah dan lupa mengawasi jalannya pemerintahan. Orang-orang Islam tidak boleh larut dengan pikiran dan kepentingan mereka masing-masing sehingga melupakan bahwa mereka adalah bagian dari jamaah yang harus ikut mengawasi jalannya kepemimpinan. Tugas pengawasan ini terutama dilakukan oleh tokoh atau orang-orang pandai yang memang mengerti bagaimana seharusnya memimpin. &lt;br /&gt;Ada satu hal lagi yang membuat ajaran shalat berjamaah menjadi begitu indah. Shalat berjamaah merupakan ajang latihan bagi kita  untuk menjadi seorang pemimpin yang baik. Kita dilatih untuk mengasah jiwa kepemimpinan. Seorang imam dituntut mampu untuk memobilisasi orang-orang agar mau shalat berjamaah. Tentu tidak mudah untuk mengajak agar orang-orang rela melakukan shalat berjamaah. Betapapun orang per orang masing-masing memiliki ego dan kepentingan bermacam-macam. Mengajak melakukan shalat berjamaah berarti mengajak orang lain untuk melepaskan ego dan kepentingannya agar sudi menjadi makmum (pengikut) di bawah komando seorang imam (pemimpin). Jika kita berhasil mengajak orang lain untuk shalat berjamaah, maka kita sudah berhasil setapak untuk menjadi seorang pemimpin yang baik. Sebagai latihan awal, kita bisa membiasakan shalat berjamaah di lingkungan keluarga kita sendiri: istri dan anak sebagai para pengikut (makmum). .Jika kita sudah terbiasa menjadi pemimpin (imam) di lingkungan yang kecil, maka kita memiliki pengalaman untuk menjadi pemimpin di skala yang lebih besar. &lt;br /&gt;Begitulah. Betapa indah ajaran Islam. Sayang sekali, orang-orang Islam sendiri banyak yang tidak menyadarinya. Wallahu a’lam.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2636895042263018731-3090783116804927899?l=racheedus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://racheedus.blogspot.com/feeds/3090783116804927899/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/09/shalat-berjamaah-simbol-kepemimpinan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/3090783116804927899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/3090783116804927899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/09/shalat-berjamaah-simbol-kepemimpinan.html' title='Shalat Berjamaah: Latihan Kepemimpinan dalam Islam'/><author><name>Rasheed Redha</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02711158177502400218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SWDfAvyUEbI/AAAAAAAAAEw/-n5c93Zsy3o/S220/Sketsa+Wajah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2636895042263018731.post-514568917985905784</id><published>2008-09-27T09:02:00.001-07:00</published><updated>2008-11-15T09:41:27.644-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial Budaya'/><title type='text'>Perempuan Berbugil Ria</title><content type='html'>Perempuan yang membuka auratnya, bahkan hingga auratnya yang paling pribadi, merupakan perempuan pemberani. Pasukan berani malu! Sungguh, perempuan yang berani menggadaikan kehormatannya dengan harga sangat murah! Mengapa murah? Karena kehormatan perempuan memang sangat mahal sehingga tidak bisa diukur dengan materi. Apalah artinya uang jutaan dari hasil pemotretan foto bugil jika kemudian kehormatan sebagai perempuan lenyap dari dirinya.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Di belahan dunia yang paling sekuler dan liberal sekalipun, seorang wanita yang menghargai dan menghormati dirinya tidak akan memamerkan aurat tubuhnya di depan umum. Tanyakan saja, pada Hillary Clinton, apakah ia mau berfoto bugil di depan kamera lantas foto itu dipublikasikan ke khalayak umum. Aku yakin ia pasti menolak ide gila itu. Bukannya popularitas yang akan ia dapat guna menggapai impiannya sebagai presiden Amerika, tapi justru cacian dan makian yang justru semakin menjatuhkannya ke liang paling dasar dari bursa pencalonan presiden Amerika. &lt;br /&gt;Mungkin ada yang berkata, “Terang aja, Hillary tidak mau. Dia kan merasa nggak cantik. Tidak seksi dan fashionable.” Meskipun Hillary Clinton seorang perempuan cantik, dulunya merupakan artis yang seksi, pernah difoto bugil, dan masih muda, tetap saja ia kini tidak akan mau mempertaruhkan reputasinya sebagai perempuan terhormat yang juga istri dari mantan seorang presiden. Saya yakin, ia tidak sudi memamerkan auratnya di muka umum layaknya para fotomodel Playboy atau Penthouse. Ia tidak akan bertindak konyol dengan mencampakkan peluangnya untuk menjadi presiden hanya karena foto bugil yang juga konyol. Masih dalam ingatan kita, betapa banyak hujatan dan cacian kepada Dewi Soekarno yang notabene mantan istri Presiden Soekarno. Saat itu dengan bangganya, Dewi Soekarno berfoto bugil ria dan dipublikasikan ke seantero jagat. &lt;br /&gt;Dengan demikian, konsep aurat perempuan yang diperkenalkan oleh Islam, sebenarnya diakui pula oleh masyarakat di belahan manapun di muka bumi, termasuk negeri paling liberal dan sekuler sekalipun. Kebebasan seks dan kebebasan informasi ternyata tidak serta merta menghilangkan habis nurani manusia tentang arti menjaga aurat dan kehormatan diri. &lt;br /&gt;Terkadang aku berpikir, betapa anehnya perempuan modern di masyarakat sekarang. Mereka berteriak tidak mau dilecehkan. Tapi di sisi lain, mereka dengan sukarela menjadikan dirinya sasaran pelecehan orang lain. Jika Dewi Persik tidak ingin dilecehkan, maka jagalah kehormatan dirinya; bungkuslah tubuhnya dengan sopan. Bukan dengan memamerkan lekuk-lekuk tubuhnya di depan banyak orang, termasuk para lelaki kurang ajar yang mudah terpancing berahinya. Sungguh tidak logis. &lt;br /&gt;Aku pernah membaca koran tentang seorang artis Italia yang doyan berbugil ria di depan kamera, bahkan di depan banyak orang di tengah lapangan sepak bola jika klubnya berhasil menang. Tak ayal ia pun dikenal sebagai artis yang seksi dan mampu mengaduk-aduk berahi para lelaki yang melihatnya. Tentu saja logis, jika kemudian ada lelaki yang mengajaknya tidur bersama. Tentu saja masuk akal, jika kemudian banyak lelaki menganggapnya sebagai perempuan yang bisa diajak kencan. Karena itu, menjadi lucu jika kemudian sang artis itu mencak-mencak ketika ada beberapa pemain sepak bola terkenal yang mengajaknya bermain seks. Bukankah artis itu sendiri sudah menyediakan dirinya sendiri secara suka rela untuk dianggap sebagai perempuan murahan? Kenapa harus marah-marah? &lt;br /&gt;Terkadang para feminis membantah bahwa hal itu karena kaum lelaki yang tidak bisa menghargai perempuan dan pikirannya sudah kotor. Kalau lelaki yang melihat seorang perempuan berpakaian seksi, tapi pikirannya tidak kotor dan melayang kemana-mana, tentu tidak akan terjadi masalah. &lt;br /&gt;Sesungguhnya, menurutku, pendapat kaum feminis adalah sangat absurd. Apa yang terpikir oleh seorang lelaki di dalam otaknya juga merupakan refleksi dari apa yang dilihatnya. Ada prinsip sebab akibat, prinsip kausalitas. Adalah suatu hal yang lumrah jika lelaki akan terangsang jika melihat pemandangan yang mengaduk-aduk berahinya. Justru merupakan tidak normal, jika lelaki memandang perempuan yang berpenampilan seksi, namun tidak terangsang. Persoalannya kemudian, apakah rangsangan itu bisa dikendalikan oleh si lelaki atau tidak. Itu yang berbeda antara satu lelaki dengan lelaki lain. &lt;br /&gt;Hukum Islam kuyakini bersifat universal, sangat manusiawi, rasional, dan alamiah. Hukum Islam menyuruh perempuan menutup auratnya dan menyuruh lelaki serta perempuan untuk menjaga penglihatannya. Hal itu karena sudah sangat jelas, aurat perempuan yang terbuka dan pandangan lelaki yang tidak dikendalikan adalah bisa menjadi sumber malapetaka. Pemerkosaan adalah harga yang mahal untuk menebus kebebasan yang diobral di masyarakat kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perlu Dikasihani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perempuan yang berbugil ria sebenarnya perlu dikasihani. Mengapa? Karena sesungguhnya ia telah merendahkan dirinya sendiri sehingga tak ubahnya seperti binatang. Ia telah melepaskan harkat dirinya sebagai manusia. Bagaimanapun, binatang tidak memerlukan baju. Binatang juga tidak memiliki rasa malu. Sesuai dengan naluri kebinatangannya, seekor binatang betina berperilaku menggoda sang pejantan. Sementara sang pejantan berusaha mendekati sang betina sehingga bisa memuaskan naluri berahi.  &lt;br /&gt;Begitupula dengan seorang perempuan yang membuka bajunya dan memamerkan auratnya. Sesungguhnya saat itu, ia tak ubahnya seekor binatang betina yang sedang menggoda sang pejantan. Binatang tidak memerlukan lembaga perkawinan untuk melampiaskan nafsu berahinya. Dengan demikian, manusia yang melakukan hubungan tidak dalam ikatan lembaga perkawinan, sesungguhnya mereka sedang meniru perilaku binatang. Atau paling tidak, mereka sedang kembali ke zaman manusia primitif yang memang tidak mengenal lembaga pernikahan. &lt;br /&gt;Apa yang akan terjadi jika manusia sudah merendahkan dirinya sehingga ke derajat binatang? Kesengsaraan dan kehinaan. Makhluk yang berperilaku tidak sesuai dengan tujuan penciptaannya, maka sesungguhnya ia berperang melawan kodratnya. Peperangan itu hanya akan melahirkan kesengsaraan dan kehinaan. Bukankah manusia diciptakan agar ia bisa menjadi makhluk yang mulia di antara makhluk-makhluk Tuhan yang lain? Manusia telah dianugerahi akal, hati nurani, dan dipandu oleh kitab suci. Perangkat-perangkat itu bisa ia gunakan untuk mencapai derajat yang tinggi sebagai makhluk dan meraih kebahagiaan yang lebih hakiki. &lt;br /&gt;Kebahagiaan bukanlah diukur dari kepuasan seksual. Jika kepuasan seksual adalah ukuran kebahagiaan, tentu saja para pelacur adalah orang-orang yang paling berbahagia di muka bumi ini. Dus, orang yang tidak menjalani kebahagiaan hidup seks bebas adalah orang yang paling tidak berbahagia. Tapi, lihatlah. Apakah para pelacur itu berbahagia dengan kebahagiaannya? Saya yakin, tidak. Betapa banyak pelacur yang meregang nyawa diterjang penyakit kelamin. Betapa banyak pelacur yang hidup terlunta-lunta di hari tuanya karena telah mengukir kehinaan di jidatnya dengan perbuatan lacurnya. Justru kebahagiaan yang sebenarnya adalah ketika manusia mampu mengendalikan nafsu seksualnya. Karena sesungguhnya, nafsu seksual jika senantiasa dituruti, ia akan menyiksa manusia hingga manusia menjadi budak nafsu itu sendiri. Sebaliknya, jika nafsu seksual dikendalikan dan disalurkan sesuai dengan titah Tuhan, ia akan menjadi mosaik kebahagiaan yang menghiasi hidup manusia.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2636895042263018731-514568917985905784?l=racheedus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://racheedus.blogspot.com/feeds/514568917985905784/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/09/perempuan-berbugil-ria.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/514568917985905784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/514568917985905784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/09/perempuan-berbugil-ria.html' title='Perempuan Berbugil Ria'/><author><name>Rasheed Redha</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02711158177502400218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SWDfAvyUEbI/AAAAAAAAAEw/-n5c93Zsy3o/S220/Sketsa+Wajah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2636895042263018731.post-3554150400183665106</id><published>2008-09-26T09:51:00.000-07:00</published><updated>2008-09-26T09:58:33.948-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khutbah'/><title type='text'>Islam dan Korupsi</title><content type='html'>اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَ دِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلىَ الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. وَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ اَلِهِ وَ صَحْبِه أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ: فَياَ عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَ لاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَ أَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوا لاَ تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ باِلْبَاطِلِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirin sidang Jumat yang mulia&lt;br /&gt;Marilah kita senantiasa meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allah. Karena keimanan dan ketakwaan kita bukanlah suatu hal yang tetap dan tidak bisa berubah. Iman dan takwa bisa mengalami perubahan, naik atau turun, bertambah atau berkurang. Karena itulah, kita pun harus senantiasa menjaga, memperbaharui, dan meningkatkan iman serta takwa kita. Apalagi di tengah zaman yang semakin menghalalkan segala cara,  kita tidak pernah tahu, apakah besok kita masih tergolong orang yang beriman atau justru terjerumus ke dalam lubang kekafiran. Maka dari itu, hanya kepada Allah sajalah kita memohon, agar senantiasa memperoleh taufiq dan hidayah-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidang Jumat yang dimuliakan Allah &lt;br /&gt;Salah satu upaya kita menjaga keimanan dan ketakwaan kita adalah dengan cara mencari harta yang halal. Dengan kata lain, harta yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari, hendaknya diperoleh dari cara-cara yang sesuai dengan ketentuan agama dan negara. Sebaliknya, Allah pun melarang kita menggunakan cara-cara batil (melanggar hukum) dalam memperoleh harta. Allah berfirman: &lt;br /&gt;وَلاَ تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (البقرة: 188)&lt;br /&gt;Dan janganlah sebagian kalian memakan harta orang lain dengan cara yang batil dan (janganlah) kalian membawa (urusan) harta itu kepada hakim, agar kalian dapat memakan sebagian harta benda orang lain itu dengan cara licik, padahal kalian menyadari. (QS. al-Baqarah: 188)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harta yang diperoleh dengan cara yang bersih dan halal, akan mendatangkan ketenteraman dan ketenangan meskipun jumlahnya sedikit. Apalagi jika harta yang bersih dan halal itu, disikapi dengan rasa syukur kepada Allah, Dzat yang Maha Kaya dan Maha Pemberi Rizki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidang Jum’at, jama’ah Islamiyah yang dimuliakan Allah&lt;br /&gt;Salah satu cara tidak halal dalam memperoleh harta adalah korupsi. Namun justeru sekarang korupsi merupakan salah satu bentuk kejahatan yang banyak terjadi. Jika pada pemerintahan beberapa waktu silam, korupsi hanya terjadi pada segelintir orang yang dekat dengan pusat kekuasaan negara, maka saat ini ia menjadi kejahatan yang terjadi nyaris di semua lembaga di negeri ini, mulai dari yang paling bawah di tingkat desa, hingga paling atas di tingkat pusat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski banyak merugikan negara dan kemaslahatan umat, para pelaku korupsi di negeri ini justru banyak yang terlepas dari jeratan hukum. Pada ayat di atas, Allah sendiri telah mensinyalir adanya orang yang membawa persoalannya ke pengadilan, namun ia tidak bermaksud untuk mencari keadilan. Pengadilan itu justru ia manfaatkan guna membebaskan dirinya dari jeratan hukum dan membuatnya seolah berhak untuk mengambil harta yang bukan miliknya. Saat itulah, pengadilan pun sudah bisa dibeli. Sungguh rasa keadilan masyarakat seolah tercabik-cabik. Jika seorang pencuri ayam, bisa langsung ditangkap atau bahkan dihakimi massa, maka pencuri uang negara milyaran rupiah, bahkan ada yang sampai trilyun, bisa dengan mudah lepas, tanpa menjalani hukuman apapun! Dan juga yang sangat menyakitkan, terkadang para koruptor itu justru tetap menjadi pemimpin-pemimpin kita; tampil di tengah-tengah masyarakat seolah tidak merasa berdosa apapun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah&lt;br /&gt;Kita sebagai umat Islam, bagaimanapun telah diajarkan oleh Nabi SAW untuk menyerukan kebaikan dan mencegah kemungkaran; termasuk mencegah kemungkaran dalam bentuk korupsi. Dalam sebuah hadis beliau bersabda:&lt;br /&gt;مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ (وواه مسلم)&lt;br /&gt;Barangsiapa di antara kalian yang mengetahui suatu kemungkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan tangan (kekuasaan)-nya. Jika ia tidak mampu (merubah dengan tangannya), maka rubahlah dengan lisannya. Jika ia juga tidak mampu (merubah dengan lisannya), maka rubahlah dengan hatinya. Dan itu merupakan selemah-lemahnya iman. (H.R. Muslim). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus mencegah kejahatan korupsi sesuai dengan kemampuan kita masing-masing sesuai dengan urut-urutan pencegahan yang diajarkan oleh Nabi di atas. Jika kita sebagai rakyat kecil yang tidak memiliki kekuasaan dan jabatan apapun, maka paling tidak kita menolak kemungkaran itu di dalam hati. Namun itu adalah jalan terakhir jika dua cara pencegahan sebelumnya, dengan tangan dan lisan, tidak mampu kita lakukan. Penolakan di dalam hati itu merupakan wujud selemah-lemahnya iman.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bagian dari masyarakat, kita tidak bisa bersikap masa bodoh dengan kemungkaran-kemungkaran tersebut. Kita tidak bisa berlindung di balik alasan: “Masalah negara sudah yang memikirkan. Kita sebagai rakyat kecil tidak perlu pusing-pusing memikirkannya.” Tidak! Kita tidak boleh beralasan seperti itu, karena kita semua sama-sama ikut bertanggung jawab terhadap baik buruknya masyarakat dan negara. Jika kita membiarkan saja kemungkaran-kemungkaran itu terjadi di depan mata kita, maka berarti kita membiarkan masyarakat kita menjadi rusak. Jika masyarakat telah rusak, maka azab Allah tidak hanya menimpa kepada orang-orang yang melakukan kejahatan saja, tapi juga orang-orang baik yang tidak melakukan apa-apa. Sebagaimana jika kita membiarkan para pencuri menebangi kayu-kayu jati di Alas Cikamurang sehingga hutan kita menjadi gundul, maka banjir yang akan datang tidak hanya menimpa para pencuri itu, tapi kita semua akan merasakan kerugiannya, termasuk anak-anak, ternak, sawah, dan harta benda lain yang kita miliki. Karena itulah,  Allah berfirman:&lt;br /&gt;وَاتَّقُوا فِتْنَةً لاَ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (الأنفال:25)&lt;br /&gt;Dan peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (Qs. Al-Anfal: 25).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah&lt;br /&gt;Sebenarnya masih ada cara yang bisa kita lakukan sebagai rakyat kecil dalam menghadapi kemungkaran-kemungkaran tersebut. Masih ada cara minimal yang bisa dilakukan oleh umat Islam sebagai wujud pencegahan kemungkaran. Misalnya, cara itu adalah dengan tidak memilih dan mengangkat para pemimpin yang dicurigai terlibat korupsi. Bagaimana mungkin kita berharap masyarakat menjadi lebih baik, adil, dan sejahtera jika pemimpin yang kita pilih adalah orang yang tidak jujur dan tidak bisa mengemban amanah?! Sungguh sangat naif jika kita memilih orang-orang semacam itu sebagai pemimpin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, jangan kita mau menerima sumbangan dalam bentuk apapun dari para pejabat yang diduga kuat banyak melakukan tindak korupsi. Kita baru menerima sumbangan itu jika kita mengetahui persis bahwa sumbangan tersebut merupakan hartanya pribadi yang diperoleh secara halal dan tidak melanggar hukum. Atau kita bisa menerima sumbangan tersebut jika kita mengetahui persis bahwa sumbangan itu memang diperuntukkan dan dianggarkan secara resmi untuk diri kita atau lembaga kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita mau menerima sumbangan dari seorang pejabat yang diduga kuat banyak melakukan tindak korupsi, misalnya untuk lembaga pendidikan atau keagamaan yang kita kelola, maka sadar atau tidak kita berarti telah menggunakan uang haram, atau paling tidak syubhat. Kemudian, jika sesuatu dibiayai dengan uang haram, maka ia tidak akan berjalan dengan baik. Selain itu, jika kita menerima sumbangan dari para pejabat korup itu, maka tanpa sadar kita seolah menghalalkan tindakan korupsi yang ia lakukan. Dengan kata lain, secara tidak langsung kita menghalalkan sesuatu yang sebenarnya haram. Dalam kaitan tersebut, Nabi menjelaskan: &lt;br /&gt;َالْحَلاَلُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُورٌ مُشْتَبِهَةٌ فَمَنْ تَرَكَ مَا شُبِّهَ عَلَيْهِ مِن الإِثْمِ كَانَ لِمَا اسْتَبَانَ أَتْرَكَ وَمَنْ اجْتَرَأَ عَلَى مَا يَشُكُّ فِيهِ مِنْ الْإِثْمِ أَوْشَكَ أَنْ يُوَاقِعَ مَا اسْتَبَانَ وَالْمَعَاصِي حِمَى اللهِ مَنْ يَرْتَعْ حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يُوَاقِعَهُ (رواه البخاري)&lt;br /&gt;Halal itu jelas dan haram itu juga jelas. Sedang yang berada di antara keduanya adalah hal-hal yang subhat (samar). Maka barangsiapa meninggalkan hal-hal yang subhat, maka berarti ia telah meninggalkan sesuatu yang telah jelas haram. Barangsiapa yang berani melakukan sesuatu yang diduga termasuk dosa, maka berarti ia nyaris tergelincir melakukan sesuatu yang jelas haram. Dan kemaksiatan adalah larangan Allah. Barangsiapa yang mendekati larangan tersebut, berarti ia nyaris tergelincir melakukan larangan tersebut. (H.R. Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirin sidang Jum’at rahimakumullah &lt;br /&gt;Sekali lagi kita marilah kita tingkatkan keimanan dan ketakwaan kita. Salah satunya adalah dengan cara mencari harta yang halal; lantas mensyukuri dan mengelolanya dengan sebaik mungkin. Di antara cara mensyukuri anugerah harta yang diberikan oleh Allah tersebut adalah dengan cara mengeluarkan zakat atau sedekah. Harta yang kita miliki akan diberkahi Allah jika ia bisa bermanfaat, baik untuk diri kita sendiri maupun untuk orang lain. Karena itulah,  mumpung mesjid kita ini sedang melaksanakan proyek pembangunan madrasah, maka marilah kita berlomba-lomba menyumbangkan sebagian harta kita untuk kegiatan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harta yang disumbangkan tersebut kelak akan menjadi amal jariah yang akan menolong kita di akhirat nanti. Harta yang kita sumbangkan dengan tulus ikhlas merupakan ungkapan terima kasih kita kepada Allah yang telah memberikannya kepada kita. Jika kita mengurangi jumlah harta kita, karena menyumbangkannya di jalan Allah, maka tanpa kita sadar, sesungguhnya Allah akan menambah jumlah harta kita melebihi dari jumlah yang telah kita sumbangkan.  Hal itu Allah tegaskan dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيم ٌ(البقرة: 261)&lt;br /&gt;Perumpamaan  orang-orang yang menyumbangkan hartanya di jalan Allah adalah laksana menanam sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir. Pada tiap-tiap bulir berisi seratus biji. Begitulah, Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapapun yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. al-Baqarah: 261).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;باَرَكَ اللهُ لِي وَ لَكُمْ بِاْلأَياَتِ وَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَ تَقَبَّلَ مِنيِّ وَ مِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَ قُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَ ارْحَمْ وَ أَنْتَ خَيْرُ  الرَّاحِمِيْنَ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى هَدَانَا لِهَذَا وَماَ كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْ لاَ اَنْ هَدَاناَ اللهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلهَ إِلاَّ الله وحده لا شريك له. وَ أَشْهَد أن محمدا عبده و رسوله لا نيي بعده. قال الله تَعَالىَ فِي كِتَابِه الكريم: ان الله و ملائكته يصلون على النبي. يا أيها الذين أمنوا صلوا عليه و سلموا تسليما. اللهم صل على سيدنا محمد و على ال سيدنا محمد كما صليت على سيدنا إبراهيم و على ال إبراهيم. اللهم اغفر للمسلمين و المسلمات و المؤمنين و المؤمنات الاحياء منهم و الاموات. ربنا اغفر لنا و لإخواننا الذين سبقونا بِاْلإِيْمَانِ و لا تجعل فى قلوبنا غلا للذين امنوا ربنا إنك رؤف رحيم. رب اغفر لنا ولوالدينا ولمن دخل بيوتنا مؤمنين وللمؤمنين والمؤمنات ولا تزد الظالمين إلا تبارا. اللهم أصلح لنا ديننا الذى هو عصمة أمرنا و أصلح لنا دنيانا التي فيها معاشنا  و أصلح لنا آخرتنا التي فيها معادنا و اجعل الحياة زيادة لنا في كل خير و اجعل الموت راحة لنا من كل شر. ربنا اتنا فى الدنيا حسنة و فى الأخرة حسنة و قنا عذاب النار. سبحانك ربك رب العزة عما يصفون و سلام على المرسلين و الحمد لله رب العالمين.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2636895042263018731-3554150400183665106?l=racheedus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://racheedus.blogspot.com/feeds/3554150400183665106/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/09/islam-dan-korupsi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/3554150400183665106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/3554150400183665106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/09/islam-dan-korupsi.html' title='Islam dan Korupsi'/><author><name>Rasheed Redha</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02711158177502400218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SWDfAvyUEbI/AAAAAAAAAEw/-n5c93Zsy3o/S220/Sketsa+Wajah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2636895042263018731.post-9204115301650307749</id><published>2008-09-26T01:50:00.000-07:00</published><updated>2008-09-26T01:59:04.226-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial Budaya'/><title type='text'>Dendam itu Belum Berkesudahan</title><content type='html'>Oleh: Syafi'i Ma'arif&lt;br /&gt;Dimuat di Republika: 19-08-2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat kita di Indonesia sedang gencar-gencarnya mengukuhkan tali&lt;br /&gt;persaudaraan lintas iman, dan sampai batas-batas yang jauh telah&lt;br /&gt;memberi hasil yang sangat positif, masih ada saja pihak di belahan&lt;br /&gt;bumi sana yang berupaya membuyarkannya, sekalipun tidak secara&lt;br /&gt;langsung. Kali ini kita soroti Patrick Sookhdeo, seorang tokoh&lt;br /&gt;penginjil melalui artikel yang berjudul '' The Myth of a Moderate&lt;br /&gt;Islam'' dalam majalah Spectator (London, 30 Juli 2005), dan telah&lt;br /&gt;dibantah oleh penulis Vincenzo Oliveti yang dimuat dalam majalah&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Islamica &lt;/span&gt;dengan judul '' The Myth of 'the Myth of Moderate Islam',''&lt;br /&gt;beberapa waktu yang lalu. Di mata Sookhdeo, apa yang dikenal dengan&lt;br /&gt;Islam moderat dan berwajah ramah hanyalah sebuah mitos, tidak ada di&lt;br /&gt;dunia nyata. Wajah Islam yang hakiki, katanya, adalah kebengisan,&lt;br /&gt;kegarangan, dan kekerasan, seperti yang ditampilkan oleh  segelintir&lt;br /&gt;kelompok radikal, militan, bahkan teroris. Tuduhan semacam inilah yang&lt;br /&gt;dikuliti Oliveti melalui tulisannya di atas.&lt;br /&gt;Dalam artikel yang cukup panjang dengan data sejarah yang akurat,&lt;br /&gt;Oliveti menilai Sookhdeo telah dengan sengaja memutarbalikkan fakta&lt;br /&gt;yang sebenarnya, demi dendamnya kepada Islam yang belum juga&lt;br /&gt;berkesudahan. Memang, sangat menyakitkan tuduhan penginjil ini yang&lt;br /&gt;menyimpulkan bahwa terorisme adalah wajah Islam yang sebenarnya.&lt;br /&gt;Artinya, menurut penginjil ini, mayoritas umat Islam adalah pendukung&lt;br /&gt;teror. Bahwa ada sekelompok kecil umat yang terlibat dalam aksi&lt;br /&gt;kekerasan dan teror memang tidak perlu ditutupi, tetapi membuat&lt;br /&gt;generalisasi adalah sebuah dusta.&lt;br /&gt;Agar tidak mengada-ada, Oliveti menurunkan angka-angka ini: Kurang&lt;br /&gt;dari 5 persen umat Islam yang dapat dimasukkan dalam kategori&lt;br /&gt;fundamentalis; dari yang 5 persen ini, kurang dari 0,01 persen yang&lt;br /&gt;punya kecenderungan untuk melakukan  teror atau tindak kekerasan atas&lt;br /&gt;nama agama. Dengan kata lain, paling banter hanyalah seorang dari&lt;br /&gt;200.000 Muslim yang mungkin dapat dimasukkan sebagai teroris.&lt;br /&gt;Selebihnya adalah manusia normal belaka yang cinta damai dan&lt;br /&gt;antikekerasan. Tetapi, mengapa sejak Tragedi 11 September 2001, segala&lt;br /&gt;tuduhan busuk tetap saja dilemparkan kepada Islam sampai detik ini,&lt;br /&gt;sekalipun sudah semakin melemah?&lt;br /&gt;Oliveti kemudian menelusuri data teologis dalam Kristen dan Islam&lt;br /&gt;tentang praktik paksaan dalam agama. Tulis Oliveti: ''Tidak dijumpai&lt;br /&gt;dalam sejarah Islam sebuah doktrin yang menyamai doktrin St Agustinus,&lt;br /&gt;cognite intrare (dorong mereka masuk--artinya 'paksa mereka&lt;br /&gt;pindah iman'). Justru dalam Alquran yang ada kebalikannya: 'Tidak ada&lt;br /&gt;paksaan dalam agama (2: 256)'.'' Gagasan Agustinus yang menakutkan itu&lt;br /&gt;bahwa semua orang harus dipaksa ''menyesuaikan diri'' kepada ''iman&lt;br /&gt;Kristen yang benar'' selama  berabad-abad telah menumpahkan darah yang&lt;br /&gt;tidak ada taranya.&lt;br /&gt;ungguh umat Kristen lebih menderita di bawah kuasa peradaban Kristen&lt;br /&gt;daripada di bawah kekuasaan Romawi pra-Kristen atau di bawah kekuasaan&lt;br /&gt;lain sepanjang sejarah. Jutaan dianiaya atau disembelih atas nama&lt;br /&gt;agama Kristen selama periode-periode kebid'ahan Arian, Donatist, dan&lt;br /&gt;Albigenesia. Belum lagi kita berbicara tentang bermacam inkuisisi,&lt;br /&gt;atau Perang Salib, di kala tentara Eropa berkata, saat menyembelih&lt;br /&gt;umat Kristen dan Arab Muslim: ''Bunuh mereka semua, Tuhan akan tahu&lt;br /&gt;sendiri.''&lt;br /&gt;Masa lampau yang gelap ini jangan lagi disegarkan dengan cara-cara&lt;br /&gt;keji yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab,&lt;br /&gt;saat semua pemeluk agama kini ditantang untuk menyelamatkan jenis&lt;br /&gt;manusia dari harakiri perdaban modern. Penginjil Sookhdeo harus&lt;br /&gt;menyadari bahwa menuduh pihak lain secara semena-mena sama saja dengan&lt;br /&gt;mengkhianati Injil itu sendiri.  Oliveti melanjutkan: ''Tidak perlu&lt;br /&gt;dikatakan, semua pelanggaran di atas--dan sungguh semua pelanggaran&lt;br /&gt;umat Kristen sepanjang abad--yang demikian itu sama sekali tidak ada&lt;br /&gt;kaitannya dengan Yesus Kristus dan atau bahkan dengan Perjanjian Baru.&lt;br /&gt;Sesungguhnya, tak seorang Muslim pun per definisi pernah atau akan&lt;br /&gt;pernah menyalahkan semuanya ini atas pundak Yesus Kristus. Maka,&lt;br /&gt;bagaimana ini berlaku sehingga Sookhdeo menyalahkan&lt;br /&gt;pelanggaran- pelanggaran Muslim (sekalipun lebih kecil dibandingkan&lt;br /&gt;pelanggaran Kristen) atas Alquran ...?''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa banyak darah tertumpah pada waktu terjadi Gerakan Reformasi dan&lt;br /&gt;Anti-Reformasi di Eropa? Menurut catatan Oliveti, tidak kurang dari&lt;br /&gt;2/3 penduduk Kristen Eropa yang terbantai pada waktu itu. Itu belum&lt;br /&gt;lagi dihitung perang-perang yang lain, pogrom (pembantaian&lt;br /&gt;terorganisasi) , revolusi, dan genosida (pembunuhan  secara teratur&lt;br /&gt;terhadap sebuah etnis, suku bangsa), Perang Napoleon; perdagangan&lt;br /&gt;budak Afrika yang menghabiskan nyawa sebesar 10 juta; berapa juta pula&lt;br /&gt;yang musnah akibat penaklukan-penakluk an kolonial. Jangan Anda tanya&lt;br /&gt;lagi berapa banyak penduduk asli Amerika yang dibantai oleh orang&lt;br /&gt;Eropa, baik di Amerika Utara, Tengah, ataupun Selatan, angkanya&lt;br /&gt;mencapai 20 juta selama tiga generasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita bergerak ke abad ke-20, angkanya semakin mengerikan.&lt;br /&gt;Peradaban Barat telah mengubah peperangan ke kutub ekstrem. Perkiraan&lt;br /&gt;konservatif yang mati di abad ke-20 lebih dari 250 juta. Dari jumlah&lt;br /&gt;ini umat Islam hanya bertanggung jawab kurang dari 10 juta. Umat&lt;br /&gt;Kristen atau mereka yang berlatar belakang Kristen telah membunuh&lt;br /&gt;lebih dari 200 juta. Jumlah terbesar berasal dari Perang Dunia (PD) I&lt;br /&gt;sejumlah 20 juta; setidak-tidaknya 90 persen dari angka ini dilakukan&lt;br /&gt;oleh orang ''Kristen''. Angka yang lebih dahsyat lagi  terjadi selama&lt;br /&gt;PD II sebesar 90 juta, sekurang-kurangnya 50 persen dilakukan oleh&lt;br /&gt;pihak ''Kristen''. Selebihnya terbunuh di Asia Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oliveti kemudian bertanya: ''Dengan sejarah yang serbasuram ini,&lt;br /&gt;terlihat bahwa kita semua orang Eropa harus bertempur dengan fakta&lt;br /&gt;bahwa Perdaban Islam dalam kenyataannya malah kurang brutal jika&lt;br /&gt;disandingkan dengan Peradaban Kristen. Apakah Holocaust terhadap lebih&lt;br /&gt;enam juta Yahudi yang terbunuh berlaku dengan latar belakang Peradaban&lt;br /&gt;Muslim?''&lt;br /&gt;Tetapi, Oliveti tidak menurunkan angka berapa pula yang terbunuh&lt;br /&gt;akibat pertempuran dan konflik sesama Muslim, demi kekuasaan, dalam&lt;br /&gt;berbagai periode sejarah, sebagai yang terbaca dalam ''Perspektif' '&lt;br /&gt;saya dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Gatra&lt;/span&gt;, 31 Juli-6 Agustus 2008, hlm 106. Tampaknya&lt;br /&gt;darah lebih banyak tertumpah akibat konflik sesama Muslim dibandingkan&lt;br /&gt;dengan antara Muslim dan non-Muslim. Tengok apa yang terjadi di Irak&lt;br /&gt;dan  Afghanistan, dan sampai batas-batas tertentu di Indonesia pada&lt;br /&gt;waktu yang lalu, semuanya adalah pembunuhan oleh Muslim terhadap&lt;br /&gt;Muslim, apa pun ideologi politik yang melatarbelakanginya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kepada data terbaru Oliveti. Selama abad ke-20, kekuasaan&lt;br /&gt;Barat atau Kristen bertanggung jawab atas kematian umat manusia&lt;br /&gt;sekurang-kurangnya 20 kali lebih besar dibandingkan dengan kekuasaan&lt;br /&gt;Muslim. Di abad ini Barat telah membinasakan manusia dengan jumlah&lt;br /&gt;raksasa, lebih dahsyat dari seluruh korban yang terjadi sepanjang&lt;br /&gt;sejarah Islam. Ini berlangsung sampai detik ini. Ambil contoh&lt;br /&gt;pembantaian 900 ribu rakyat Ruwanda tahun 1994, di mana penduduknya&lt;br /&gt;lebih 90 persen Kristen; atau tengok pula genosida atas lebih dari 300&lt;br /&gt;ribu Muslim plus pemerkosaan atas lebih 100 ribu wanita Muslim oleh&lt;br /&gt;Serbia Kristen di Bosnia pada 1992-1995. Maka, secara statistik,&lt;br /&gt;Peradaban Kristen adalah yang terbanyak menumpahkan darah dan  yang&lt;br /&gt;paling kejam dibandingkan dengan peradaban manapun sepanjang sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh Oliveti mengkritik penggunaan senjata nuklir yang&lt;br /&gt;semestinya cukup alasan bagi Barat untuk merasa malu di depan umat&lt;br /&gt;manusia di muka bumi. Amerika Serikat telah menciptakan senjata nuklir&lt;br /&gt;dan telah pernah menggunakannya. Bangsa-bangsa Barat lainnya juga&lt;br /&gt;berupaya memonopoli persenjataan yang bisa membawa kiamat itu.&lt;br /&gt;Sekalipun Islam punya konsep tentang perang yang sah (seperti halnya&lt;br /&gt;agama Kristen dan Budha), tidak pernah ada dalam kultur Islam (atau&lt;br /&gt;dalam kultur manapun yang bertahan sampai sekarang) yang mengidolakan&lt;br /&gt;semuanya seperti yang terdapat dalam kultur Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, manusia Barat menganggap dirinya suka damai, tetapi dalam&lt;br /&gt;kenyataannya kelembutan dan keluhuran Perjanjian Baru, dan watak&lt;br /&gt;cinta-damai demokrasi, jarang sekali tecermin dalam kultur rakyat umum&lt;br /&gt;Barat. Yang berlaku dalam kultur itu, seperti  terlihat dalam film-film&lt;br /&gt;Hollywood, TV Barat, permainan video, musik populer, dan hiburan&lt;br /&gt;sport--adalah untuk mengagungkan dan menanamkan kekerasan. Maka,&lt;br /&gt;tidaklah mengherankan tingkat angka pembunuhan jauh lebih tinggi di&lt;br /&gt;dunia Barat tinimbang di negeri-negeri Muslim. Mengapa seorang&lt;br /&gt;Sookhdeo tidak mau becermin?&lt;br /&gt;Komentar saya, terasa sekali kemarahan Oliveti terhadap seorang&lt;br /&gt;penginjil yang tidak adil dalam membaca masa lampau Barat yang sarat&lt;br /&gt;dengan pertumpahan darah. Tetapi, kemarahan serupa juga wajib kita&lt;br /&gt;alamatkan kepada kelompok kecil Muslim yang senang membajak Tuhan,&lt;br /&gt;demi darah Muslim dan non-Muslim&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2636895042263018731-9204115301650307749?l=racheedus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://racheedus.blogspot.com/feeds/9204115301650307749/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/09/dendam-itu-belum-berkesudahan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/9204115301650307749'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/9204115301650307749'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/09/dendam-itu-belum-berkesudahan.html' title='Dendam itu Belum Berkesudahan'/><author><name>Rasheed Redha</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02711158177502400218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SWDfAvyUEbI/AAAAAAAAAEw/-n5c93Zsy3o/S220/Sketsa+Wajah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2636895042263018731.post-2332651125296919740</id><published>2008-09-24T09:00:00.000-07:00</published><updated>2008-09-24T09:07:25.098-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Filsafat'/><title type='text'>Mengenal Diri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SNplkLvfmfI/AAAAAAAAAB0/E4qOZgi3CiU/s1600-h/socrates.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SNplkLvfmfI/AAAAAAAAAB0/E4qOZgi3CiU/s320/socrates.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5249619987955423730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;P&lt;/span&gt;ertanyaan tentang siapa diri kita; siapa aku; yang mana jati diri kita sesungguhnya adalah pertanyaan-pertanyaan klasik yang telah menyita perhatian banyak para filosof. Pernyataan tersebut adalah sesuatu yang penting untuk kita lontarkan. Hal itu karena menyangkut tentang eksistensi kita sebagai seorang manusia. Bagaimana mungkin orang hidup bertahun-tahun tetapi tidak mengenal siapa dirinya sesungguhnya? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 24pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Dalam sebuah kalam hikmah terkenal --yang banyak disalahartikan sebagai hadis Nabi Muhammad—diungkapkan &lt;i&gt;man ‘arafa nafsah, faqad ‘arafa rabbah. Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhan&lt;/i&gt;. Dengan kata lain yang dibalik, siapa yang ingin mengenal Tuhan, maka kenalilah dirinya terlebih dahulu.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 24pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Lantas siapa diri kita sebenarnya. Jika “aku” adalah dikaitkan dengan jasad, tentu tidak tepat. Seorang Luna Maya, misalnya, bukanlah hanya terdiri wajahnya yang cantik. Meskipun wajahnya tiba-tiba tersiram air keras, dan membuat wajahnya jadi hancur berantakan, tetaplah ia dikatakan seorang manusia yang bernama Luna Maya, ia tidak berubah jadi seekor kambing. Jadi dengan demikian, jati diri seseorang tidaklah berkaitan erat dengan fisiknya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 24pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Apakah jati diri manusia dikaitkan dengan otaknya? Hal ini juga tampaknya tidak tepat. Einstein sekalipun otaknya yang cerdas itu diambil dari jasadnya yang sudah mati, ia tetaplah seorang manusia bernama Einsten. Ia tidak berubah menjadi robot. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 24pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Apakah jati diri manusia dikaitkan dengan kedudukannya? Ah, hal itu juga tidak tepat. Soekarno tetaplah seorang manusia, meskipun kekuasaannya sebagai presiden “dirampas” oleh Soeharto dengan semana-mena melalui akal-akalan Supersemar. Meskipun Soekarno tidak lagi jadi presiden, ia tetaplah seorang manusia bernama Soekarno yang memiliki ciri khas tertentu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 24pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Apakah jati diri manusia juga berdasarkan nama? Ah, tidak juga. Coba kita tanyakan pada Shakespeare. Ia jawab, “Apa arti sebuah nama?!” Meskipun, seorang Imam Samudera memiliki beberapa nama, misalnya, ia tetaplah merujuk kepada seseorang tertentu yang kita kenal sebagai seorang teroris Bom Bali I. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 24pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Lantas, gimana dong? Apakah manusia dikaitkan dengan nyawanya? Tampaknya ini juga kurang tepat. Seorang Nabi Muhammad meskipun nyawanya sudah tidak lagi menyatu dengan jasadnya, ia tetaplah seorang nabi yang dipuja oleh seluruh orang Islam di seantero jagad. Ia tetaplah merujuk kepada seseorang yang telah membuat sejarah besar di muka bumi yang dikemudikan dinobatkan oleh Michael H. Hart sebagai nomor satu di antara para tokoh yang pernah ada di dunia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 24pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Apakah eksistensi manusia ditentukan pula oleh perbuatannya? Hidup adalah perbuatan, kata Sutrisno Bachir beriklan di berbagai media massa. Apa betul? Mari kita cek. Andaikan Sutrisno Bachir tidak melakukan sesuatu, misalkan ia tidak berkampanye, apakah lantas ia tidak menjadi seorang Sutrisno Bachir lagi? Tentu tidak kan. Ia tetaplah apa adanya, dengan atau tanpa berbuat sesuatu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 24pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Mungkin, ini yang terakhir. Apakah manusia dengan hati nuraninya? Lho, hati nurani itu yang mana? Ini juga pertanyaan yang rumit. Hati nurani, menurutku pemahamanku yang ilmunya sejengkal, adalah berkaitan dengan sesuatu unsur dalam diri seseorang yang membuatnya bisa membedakan mana yang benar mana yang salah. Hati nurani adalah panduan ilahiah yang ditanamkan Tuhan dalam diri manusia. Karena itulah, Nabi Muhammad bersabda, “Ada sesuatu di dalam manusia yang jika ia baik, maka baiklah seluruh dirinya. Namun jika ia rusak, maka rusaklah seluruh dirinya. Sesuatu itu adalah hati nurani.” Nah hati nurani itulah yang harus kita pelihara dan jaga agar ia tetap terus menjadi panduan ilahiah yang senantiasa menerangi jalan hidup kita. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 24pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Ah, terus terang, aku juga masih bingung. Mari kita merenung lagi. Yang jelas, bagiku, manusia memiliki hati nurani, jasad, nyawa, nama, kedudukan tertentu, dan mampu melakukan perbuatan sendiri. Jadi manusia memang makhluk unik. Ia harus berbuat untuk kebaikan, dipandu oleh hati nuraninya. Perbuatan baik seorang manusia pasti akan membuatnya menjadi seseorang yang berharga di dunia dan akhirat. Perbuatan jahat akan membuatnya menjadi orang yang sengsara di dunia dan akhirat. Salah satu hadis Nabi yang sangat kupercayai hingga hari ini adalah, “Orang yang terbaik adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.”&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  lang="IN" &gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu a’lam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 24pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  lang="IN" &gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2636895042263018731-2332651125296919740?l=racheedus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://racheedus.blogspot.com/feeds/2332651125296919740/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/09/mengenal-diri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/2332651125296919740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/2332651125296919740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/09/mengenal-diri.html' title='Mengenal Diri'/><author><name>Rasheed Redha</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02711158177502400218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SWDfAvyUEbI/AAAAAAAAAEw/-n5c93Zsy3o/S220/Sketsa+Wajah2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SNplkLvfmfI/AAAAAAAAAB0/E4qOZgi3CiU/s72-c/socrates.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2636895042263018731.post-7465145993091209131</id><published>2008-09-23T09:26:00.000-07:00</published><updated>2008-09-26T01:28:17.398-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Islam'/><title type='text'>Irshad Manji</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Seorang Irshad Manji dengan bangga menyatakan dirinya seorang lesbian. Sungguh suatu fenomena yang membuat diriku bertanya-tanya: ada apa gerangan dengan feminisme? Apakah feminisme lantas melahirkan para perempuan pemberontak? Para perempuan yang memberontak terhadap tatanan norma sosial dan agamanya? Para perempuan yang membuang jauh-jauhnya kodrat mereka sebagai perempuan yang melahirkan dan mengasuh anak? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pilihan Irshad Manji untuk menjadi seorang lesbian adalah sebuah pilihan yang sungguh berani. Lucunya, ketika dikejar dengan landasan pilihannya tersebut di dalam Alquran, ia pun akhirnya tersudut dengan hanya menjawab “Tidak tahu: apakah yang dikutuk Tuhan adalah tindakan homoseksualitas kaum Luth ataukah tindakan kekerasan seksual.” Adalah absurd menyerahkan sebuah pilihan hidup kepada sebuah ketidaktahuan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Jika hanya Tuhan dan nurani dirinya yang menjadi sandaran hidupnya, maka ini semakin sulit untuk dimengerti. Bagaimana mungkin bisa terjadi: menjadi seorang Islam yang beriman –sebagaimana yang diklaim oleh dirinya—sementara di sisi lain ia menolak berbagai ajaran dalam Islam yang mestinya ia imani. Bagaimana ia tahu tentang cara beriman kepada Tuhan dalam Islam jika ia tidak mempercayai Alquran dan hadis Nabi? Apakah nurani dirinya selalu berada dalam kebenaran? Bagaimana mengukur kebenaran nuraninya tersebut. Sungguh suatu yang sulit dimengerti. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Jika memang Irshad Manji dengan rendah hati menyatakan betapa sedikitnya ilmu manusia dengan ilmu Tuhan, mengapa ia juga tidak dengan rendah hati mengakui bahwa ilmu Tuhan tentu lebih luas dari dirinya sehingga Tuhan menyatakan tindakan homoseksualitas kaum Luth adalah sesuatu yang keji. Ketika Tuhan sudah menyatakan homoseksualitas sebagai sesuatu yang keji, mengapa Irshad justru dengan bangga menjalani kehidupan sebagai lesbian? Bukakah hal itu sama saja dengan menentang Tuhan yang dipercayainya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Jika betul bahwa hanya Tuhan yang dipercayainya, maka mestinya ia pun mempercayai apa yang dikatakan oleh Tuhan. Jika Tuhan telah menyatakan bahwa perbuatan homoseksual adalah tindakan yang keji, maka mengapa ia tidak dengan rendah hati mempercayai perkataan Tuhan tersebut? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mungkin persoalannya, Irshad tidak betul-betul meyakini apakah betul bahwa Alquran adalah seluruhnya perkataan Tuhan? Jika memang Irshad tidak meyakini Alquran sebagai perkataan Tuhan, lantas dari mana lagi ia mempercayai kebenaran tentang Tuhan? Dari nuraninya? Sungguh sangat riskan jika kepercayaan terhadap Tuhan hanya dipasrahkan kepada nurani seorang manusia yang bisa salah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tampaknya, Irshad sendiri tidak konsisten dengan pilihannya untuk mempercayai hanya dua entitas: Tuhan dan nuraninya. Bagaimana ia mengenal Tuhan sesuai dengan ajaran Islam yang ia anut jika Alquran dan hadis tidak sepenuhnya ia percayai? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2636895042263018731-7465145993091209131?l=racheedus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://racheedus.blogspot.com/feeds/7465145993091209131/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/09/irshad-manji.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/7465145993091209131'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/7465145993091209131'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/09/irshad-manji.html' title='Irshad Manji'/><author><name>Rasheed Redha</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02711158177502400218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SWDfAvyUEbI/AAAAAAAAAEw/-n5c93Zsy3o/S220/Sketsa+Wajah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2636895042263018731.post-7108753764630569030</id><published>2008-09-23T06:15:00.000-07:00</published><updated>2008-09-26T01:35:59.543-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Islam'/><title type='text'>Pandangan Para Ulama tentang Taqnin al-Ahkam</title><content type='html'>&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;&lt;span style=""&gt;A.&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;" dir="ltr"  &gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pendahuluan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Wacana &lt;i&gt;taqnin al-ahkam &lt;/i&gt;dalam hukum Islam merupakan salah satu persoalan yang memicu kontroversi luas di kalangan umat Islam. Ada kubu yang menyetujui dan ada pula kubu yang menentangnya, bahkan dengan begitu sengit. Hal itu karena &lt;i&gt;taqnin al-ahkam &lt;/i&gt;termasuk wacana yang relatif baru. Di Indonesia sendiri, wacana &lt;i&gt;taqnin &lt;/i&gt;hukum-hukum Islam juga ramai dibicarakan ketika Orde Baru runtuh dan masuk Orde Reformasi seiring dengan ditetapkannya kebijakan otonomi di berbagai daerah. Banyak perda-perda syariat bermunculan di berbagai daerah. Yang paling banyak menyita perhatian, tentu saja kasus di Aceh yang telah menetapkan undang-undang &lt;i&gt;(qanun) &lt;/i&gt;Syariat tentang beberapa hal tertentu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Fenomena perda-perda syariat itu sendiri tak ayal menuai banyak tanggapan baik yang pro maupun kontra. Kalangan non-muslim tentu saja banyak yang memprotes dan menganggap bahwa hal itu adalah upaya untuk menjadikan Indonesia sebagai negara Islam. Di samping itu, orang-orang Islam yang berhaluan liberal juga dengan gigih menentangnya. Formalisasi syariat dalam bentuk perda-perda, terutama perda maksiat, dituding mereka sebagai bentuk intervensi pemerintah terhadap domain privat masyarakat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;B.&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pengertian &lt;i&gt;Taqnin &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Secara etimologis, kata &lt;i&gt;taqnin &lt;/i&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:100%;"&gt;تقنين&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) merupakan bentuk masdar dari &lt;i&gt;qannana &lt;/i&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:100%;"&gt;قَنَّنَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), yang berarti membentuk undang-undang. Kata ini merupakan serapan dari Bahasa Romawi. Namun ada juga yang berpendapat, berasal dari Bahasa Persia. Seakar dengan &lt;i&gt;taqnin &lt;/i&gt;adalah kata &lt;i&gt;qanun &lt;/i&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:100%;"&gt;قََانُوْن&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) yang berarti ukuran segala sesuatu, dan juga berarti jalan atau cara &lt;i&gt;(thariqah)&lt;/i&gt;.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Secara terminologis, &lt;i&gt;taqnin al-ahkam &lt;/i&gt;berarti mengumpulkan hukum-hukum dan kaidah-kaidah penetapan hukum &lt;i&gt;(tasyri’) &lt;/i&gt;yang berkaitan dengan masalah hubungan sosial, menyusunnya secara sistematis, serta mengungkapkannya dengan kalimat-kalimat yang tegas, ringkas, dan jelas dalam bentuk bab, pasal, dan atau ayat yang memiliki nomor secara berurutan, kemudian menetapkannya sebagai undang-undang atau peraturan, lantas disahkan oleh pemerintah, sehingga wajib para penegak hukum menerapkannya di tengah masyarakat.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;C.&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sejarah Awal &lt;i&gt;Taqnin al-Ahkam &lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Menurut hemat penulis, &lt;i&gt;taqnin al-ahkam &lt;/i&gt;juga bisa dirunut jauh ke masa Rasulullah SAW. Artinya, &lt;i&gt;taqnin &lt;/i&gt;bukanlah sesuatu yang betul-betul baru sebagaimana dituduhkan oleh para ulama Wahabi Arab Saudi. Sebagaimana diketahui oleh sejarah, Nabi Muhammad pernah menetapkan Piagam Madinah yang mengatur kehidupan masyarakat, baik antara sesama muslim maupun dengan non muslim. Piagam Madinah tersebut merupakan salah satu bentuk &lt;i&gt;taqnin &lt;/i&gt;yang pernah dilakukan oleh pemerintahan Rasulullah SAW saat itu. Namun meski ada upaya &lt;i&gt;taqnin &lt;/i&gt;tersebut&lt;i&gt;, &lt;/i&gt;Rasulullah juga masih membuka peluang perbedaan pendapat di kalangan para sahabatnya. Sikap akomodatif Rasulullah terhadap perbedaan pendapat bisa banyak ditemukan dalam sejarah hukum Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Dalam perjalanan sejarah hukum Islam selanjutnya, upaya menyatukan masyarakat dalam satu pandangan atas suatu putusan hukum juga dipelopori oleh Abdullah bin al-Muqaffa. Ironisnya, Ibnu al-Muqaffa kemudian dihukum mati oleh penguasa saat itu dengan tuduhan sebagai seorang zindiq.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Saat itu, ia menyarankan kepada Abu Ja’far al-Manshur untuk menetapkan &lt;i&gt;taqnin &lt;/i&gt;dalam sebuah surat yang ia namakan &lt;i&gt;Risalah ash-Shahabah. &lt;/i&gt;Ia mengusulkan kepada sang khalifah untuk mengumpulkan hukum-hukum fikih dan mewajibkan para hakim menggunakannya dalam memutuskan perkara.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Usul Ibnu al-Muqaffa kemudian betul-betul ditindaklanjuti oleh al-Manshur. Saat itu, sang khalifah bertemu dengan Imam Malik, salah seorang tokoh ulama besar saat itu. Sang ulama diminta oleh al-Manshur diminta untuk menyusun kompilasi hukum Islam. Namun, Imam Malik menolak permintaan itu dan berkata, “Masyarakat sudah terbiasa dengan berbagai macam pendapat. Mereka mendengar banyak hadis dan meriwayatkan banyak riwayat. Mereka mengambil pendapat yang diarahkan kepada mereka dan mengamalkannya meskipun mereka juga terbiasa dengan perbedaan pendapat di tengah para sahabat Rasulullah SAW. Melarang mereka untuk meyakini apa yang mereka yakini adalah sesuatu yang berbahaya. Biarkan saja masyarakat apa adanya. Biarkan setiap anggota masyarakat memilih pandangan yang sesuai dengan kondisi mereka.”&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Di dua abad terakhir ini, di kalangan dunia Islam, memang sudah ada upaya untuk melakukan &lt;i&gt;taqnin al-ahkam. &lt;/i&gt;Salah satunya adalah &lt;i&gt;al-Fatawa al-Hindiyah &lt;/i&gt;yang disusun oleh para ulama India. Dalam karya itu, disusun oleh undang-undang yang berkaitan tentang ibadah, sanksi &lt;i&gt;(uqubah), &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;mu’amalah. &lt;/i&gt;Selain &lt;i&gt;al-Fatawa al-Hindiyah, &lt;/i&gt;ada juga &lt;i&gt;al-Ahkam al-Adliyyah &lt;/i&gt;yang mengandung sejumlah hukum tentang jual beli, dakwaan, dan vonis. Kompilasi ini disahkan pada tahun 1869 oleh Kekhalifahan Utsmani dan memuat 1.851 masalah yang umumnya berdasarkan pada mazhab Hanafi. Kompilasi ini diberlakukan di kebanyakan negara-negara Arab hingga pada pertengahan abad 10. Hanya saja kompilasi ini kemudian tidak lagi mencukupi segala persoalan-persoalan baru yang timbul di masyarakat. Pada perkembangan berikutnya, kompilasi ini kemudian diperbaharui dan dimasukkan pengaruh-pengaruh dari undang-undang sipil.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Di Arab Saudi saat diperintah oleh Raja Abdul Aziz, Ahmad bin Abdullah al-Qari, ketua Mahkamah Tinggi Syari’ah di Mekkah, juga menyusun suatu kompilasi hukum Islam berdasarkan mazhab Ahmad bin Hanbal. Al-Qari meringkas pandangan-pandangan hukum Imam Ahmad yang bersumber dari berbagai karya utamanya. Kompilasi ini mengandung 2.382 masalah dan diterbitkan dengan judul &lt;i&gt;Majallah al-Ahkam al-Adliyyah. &lt;/i&gt;Sayang, para ulama saat itu ramai-ramai menolak kompilasi tersebut.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftn7" name="_ftnref7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl"  style="text-align: right; direction: rtl; unicode-bidi: embed;font-family:arial;"&gt;&lt;span dir="ltr"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;D.&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Dasar Pemikiran &lt;i&gt;Taqnin &lt;/i&gt;di Kalangan Ulama Klasik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Meskipun istilah &lt;i&gt;taqnin &lt;/i&gt;di kalangan ulama klasik tidak dikenal, namun hal tersebut bisa ditarik kepada permasalahan tentang hukum mewajibkan para hakim untuk memegang satu pendapat tertentu yang mereka gunakan untuk memutuskan suatu perkara dan tidak boleh melanggar pendapat tersebut meskipun secara pribadi mereka memiliki ijtihad sendiri. Tentang hal ini, para ulama klasik terbagi menjadi dua kelompok, &lt;i&gt;pertama &lt;/i&gt;melarang dan &lt;i&gt;kedua &lt;/i&gt;membolehkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Menurut &lt;i&gt;kelompok pertama&lt;/i&gt;, tidak boleh mempersyaratkan seorang hakim untuk berpegangan pada satu mazhab tertentu dalam memutuskan suatu perkara. Pandangan ini merupakan pandangan mayoritas ulama, baik dari kalangan Maliki, Syafi’i, dan Hambali, seperti Abu Yusuf, Muhammad bin al-Hasan yang notabene keduanya adalah murid Abu Hanifah. Abu Qudamah juga berpendapat bahwa hal pandangan itu sudah tidak diperselisihkan lagi.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftn8" name="_ftnref8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ibnu Taimiyyah juga berpendapat demikian dan menyepakati pandangan tersebut.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftn9" name="_ftnref9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Para ulama yang melarang tersebut mendasarkan pandangan mereka pada beberapa dalil, seperti ayat: &lt;i&gt;Maka putuskanlah hukum di antara manusia dengan kebenaran (QS. Shad: 26). &lt;/i&gt;Kebenaran tidaklah terbatas pada mazhab tertentu. Terkadang kebenaran justru terdapat di luar mazhab yang diikuti oleh seorang hakim.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftn10" name="_ftnref10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Dengan demikian, pemerintah tidak berhak melarang masyarakat untuk melaksanakan hasil ijtihadnya agar bisa meringankan dan memberikan keleluasaan kepada mereka. Karena itulah, Umar bin Abdul Aziz pernah berkata, “Aku kurang senang jika para sahabat Rasulullah SAW tidak berbeda pendapat. Hal itu jika mereka bersepakat atas suatu pendapat, maka jika ada seseorang yang berbeda dengan pendapat itu maka orang itu pun bisa dianggap tersesat. Namun jika mereka berbeda pendapat, maka orang pun bisa mengambil salah satu pendapat dan orang yang lain mengambil pendapat yang lain pula. Dengan demikian, terdapat keleluasaan untuk memilih.”&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftn11" name="_ftnref11" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Sedangkan menurut kubu kedua, penguasa boleh mewajibkan kepada para hakim atau aparat penegak hukum untuk memutuskan suatu perkara dengan satu mazhab tertentu. Pandangan ini dipegang oleh Abu Hanifah, yang kemudian tidak disetujui oleh kedua muridnya seperti yang diungkapkan di atas. Abu Hanifah beralasan, wewenang untuk mengadili dibatasi oleh waktu, tempat dan diberikan kepada orang tertentu pula. Jika penguasa mengangkat seseorang sebagai hakim, maka jabatan itu dibatasi pada tertentu, tempat, atau masyarakat tertentu. Hal ini karena orang tersebut adalah bertugas sebagai wakil penguasa. Jika penguasa melarang hakim untuk memutuskan perkara berdasarkan berbagai mazhab yang ada, maka hakim pun tidak boleh melakukannya. Ia hanya boleh memutuskan berdasarkan kitab undang yang telah disahkan penguasa.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftn12" name="_ftnref12" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Dari uraian di atas, tampaknya pendapat yang lebih kuat adalah pendapat pertama yang diikuti oleh mayoritas para ulama. Sedangkan alasan Abu Hanifah maka ia mungkin bisa dijawab dengan bahwa jika seorang hakim telah mengetahui persoalan sebenarnya dari perkara yang ia tangani dan ia juga mengerti hukum Allah dan rasul-Nya, maka ia wajib mengikuti kebenaran yang ia telah ketahui itu. Betapapun hukum hanyalah milik Allah dan Rasul-Nya. Inilah yang dimaksud dengan &lt;i&gt;adil (al-adl), &lt;/i&gt;dalam ayat Alquran: &lt;i&gt;Dan jika kalian memutuskan suatu perkara di tengah masyarakat, maka putuskanlah dengan &lt;b&gt;adil&lt;/b&gt; (QS: an-Nisa: 58).&lt;/i&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftn13" name="_ftnref13" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;E.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Para Pendukung &lt;i&gt;Taqnin &lt;/i&gt;dan Argumentasi Mereka &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Mayoritas para ulama besar kontemporer memperbolehkan &lt;i&gt;taqnin al-ahkam. &lt;/i&gt;Di antara mereka adalah Syaikh Shalih bin Ghashun, Abdul Majid bin Hasan, Abdullah bin Mani’, Abdullah Khayyath, dan Rasyid bin Khunain.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftn14" name="_ftnref14" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Selain mereka, yang juga bisa disebut sebagai pendukung &lt;i&gt;taqnin &lt;/i&gt;adalah Musthafa az-Zarqa,&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftn15" name="_ftnref15" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Muhammad Abu Zahrah, Ali al-Khafif, Yusuf al-Qardhawi, Wahbah az-Zuhaili, dan lain-lain.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftn16" name="_ftnref16" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Di antara dalil yang mereka gunakan untuk memperkuat pandangan mereka adalah sebagai berikut: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -27pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Firman Allah Surah an-Nisa: 59 &lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl"  style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: rtl; unicode-bidi: embed;font-family:arial;"&gt;&lt;span dir="ltr" lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" lang="AR-SA" &gt;يَاأَيُّهَا&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="line-height: 150%;font-size:100%;" lang="AR-SA" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" lang="AR-SA" &gt;الَّذِينَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="line-height: 150%;font-size:100%;" lang="AR-SA" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" lang="AR-SA" &gt;ءَامَنُوا&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="line-height: 150%;font-size:100%;" lang="AR-SA" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" lang="AR-SA" &gt;أَطِيعُوا&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="line-height: 150%;font-size:100%;" lang="AR-SA" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" lang="AR-SA" &gt;اللَّهَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="line-height: 150%;font-size:100%;" lang="AR-SA" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" lang="AR-SA" &gt;وَأَطِيعُوا&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="line-height: 150%;font-size:100%;" lang="AR-SA" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" lang="AR-SA" &gt;الرَّسُولَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="line-height: 150%;font-size:100%;" lang="AR-SA" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" lang="AR-SA" &gt;وَأُولِي&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="line-height: 150%;font-size:100%;" lang="AR-SA" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" lang="AR-SA" &gt;الْأَمْرِ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="line-height: 150%;font-size:100%;" lang="AR-SA" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" lang="AR-SA" &gt;مِنْكُمْ.... (النساء: 59)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 45pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;.....&lt;i&gt;(QS. an-Nisa: 59).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 45pt; text-align: justify; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Bagi mereka, berdasarkan ayat tersebut, jika pemerintah &lt;i&gt;(ulil amri) &lt;/i&gt;tidak memerintahkan suatu kemaksiatan dan perintah itu tidak bertentangan dengan hukum-hukum syariat, maka wajib bagi rakyat untuk menaatinya. Dalam konteks ini, keharusan untuk melakukan &lt;i&gt;taqnin &lt;/i&gt;tidaklah mengandung unsur maksiat. Sikap para penegak hukum yang melaksanakan undang-undang dimana mereka memang diwajibkan untuk mengikutinya adalah suatu bentuk ketaatan kepada pemerintah sebagaimana diperintahkan oleh ayat tersebut.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftn17" name="_ftnref17" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -27pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Keharusan untuk mengikuti satu pendapat tertentu merupakan suatu kebijakan yang pernah terjadi di masa awal Islam pada era pemerintahan Utsman bin Affan saat ia menetapkan Mushaf Utsmani &lt;i&gt;(Mushaf al-Imam) &lt;/i&gt;sebagai satu-satunya mushaf Alquran yang resmi. Ia kemudian memerintahkan untuk membakar mushaf-mushaf yang lain selain mushaf resmi tersebut. Hal itu dilakukan demi kemaslahatan umat dan menjaga agar Alquran mempunyai satu mushaf yang resmi sehingga tidak menimbulkan perpecahan di kalangan umat. Kebijakan Utsman bin Affan ini akhirnya diakui sebagai suatu kebijakan yang benar.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftn18" name="_ftnref18" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -27pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Suatu pendapat tertentu yang kemudian ditetapkan sebagai undang-undang yang harus diikuti oleh semua orang, haruslah dihasilkan dengan pemikiran yang mendalam dan pembahasan yang luas. Undang-undang itu juga ditetapkan harus dengan memperhatikan &lt;i&gt;maqashid syariah &lt;/i&gt;demi kemaslahatan umat. Dengan demikian, jika undang-undang itu tidak ditaati, maka berarti menyia-nyiakan usaha keras para ulama yang telah menghasilkannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -27pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Di sisi lain, tidak semua para hakim memiliki pengetahuan yang luas dan dalam, sehingga mereka pun tidak mampu melakukan ijtihad dan tidak bisa menetapkan mana pendapat yang paling valid di antara banyak pendapat di berbagai mazhab. Bahkan terkadang dalam satu mazhab pun, banyak pendapat yang saling berbeda satu sama lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -27pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Di samping itu, jika pemerintah tidak menetapkan mana pendapat paling valid yang dijadikan sebagai undang-undang sehingga menjamin kepastian hukum, maka hal itu bisa menimbulkan perbedaan putusan antara satu pengadilan dengan pengadilan lain, atau antara satu hakim dengan hakim yang lain. Hal ini tentu saja akan menimbulkan ketidakpastian hukum di tengah masyarakat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 45pt; text-align: justify; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Pengetahuan para hakim yang tidak sama juga bisa menimbulkan masalah jika tidak ada satu undang-undang tertentu yang harus diikuti bersama. Mungkin seorang hakim yang pengetahuannya luas, bisa memutuskan suatu perkara dengan baik. Namun seorang hakim yang pengetahuannya terbatas bisa menentang putusan itu karena ketidaktahuannya terhadap dasar keputusan itu.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftn19" name="_ftnref19" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 45pt; text-align: justify; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;F.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Para Penolak &lt;i&gt;Taqnin &lt;/i&gt;dan Argumentasi Mereka &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Mereka yang menolak &lt;i&gt;taqnin &lt;/i&gt;dan menolak kewajiban untuk menaatinya terdiri dari sebagian para ulama besar kontemporer dari Arab Saudi. Di antara mereka adalah Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid,&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftn20" name="_ftnref20" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[20]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan,&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftn21" name="_ftnref21" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Bassam,&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftn22" name="_ftnref22" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[22]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Jabirin, Abdurrahman bi Abdullah al-Ajlan, Syaikh Abdullah bin Muhammad al-Ghunaiman, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah ar-Rajihi, dan lain-lain.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftn23" name="_ftnref23" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[23]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Mereka mendasarkan pandangan mereka tersebut pada dalil-dalil Alquran, as-Sunnah, ijma’ dan logika. Berikut adalah argumentasi mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Allah telah memerintahkan untuk memutuskan perkara dengan adil &lt;i&gt;(al-qisth)&lt;/i&gt; dalam firman-Nya: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl"  style="text-align: justify; direction: rtl; unicode-bidi: embed;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:100%;"&gt;وَإِنْ حَكَمْتَ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ. (&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:100%;"&gt;المائدة: 42)&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dan jika kau memutuskan perkara di antara mereka, maka putuskanlah &lt;b&gt;dengan adil&lt;/b&gt; (al-qisth). Sesungguhnya, Allah mencintai orang-orang yang berbuat adil (QS. al-Maidah: 42). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Kata &lt;i&gt;al-qisth &lt;/i&gt;berarti adil. Bagi seorang hakim, keputusan yang adil adalah yang sesuai dengan apa yang ia yakini setelah meneliti dalil-dalil syara’, bukan yang sesuai dengan undang-undang yang diwajibkan untuk ia ikuti. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dalam menetapkan hukum, seorang hakim harus tetap memegang teguh prinsip tauhid. Dalam hal ini, kewajiban untuk mengikuti undang-undang menunjukkan adanya unsur meremehkan prinsip tauhid, yaitu ketaatan hanya kepada hukum Allah. Hal itu karena sang hakim yang menaati undang-undang, berarti ia lebih mengutamakan pendapat yang dihasilkan oleh manusia biasa yang tidak &lt;i&gt;ma’shum &lt;/i&gt;daripada pendapat Rasulullah yang &lt;i&gt;mas’hum. &lt;/i&gt;Padahal Allah juga berfirman: &lt;i&gt;Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya&lt;/i&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;(QS. al-Hujurat: 1). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sabda Rasulullah SAW: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Hakim itu ada tiga macam, dua masuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;neraka dan hanya satu masuk surga. Satu, hakim yang masuk surga adalah ia yang mengetahui kebenaran dan memutuskan berdasarkan kebenaran tersebut. Dua, hakim yang mengetahui kebenaran, namun ia tidak memutuskan berdasarkan kebenaran tersebut. Hakim ini masuk neraka. Ketiga, hakim yang memutuskan perkara di antara manusia padahal ia tidak tahu kebenarannya. Hakim ini juga masuk neraka.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftn24" name="_ftnref24" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[24]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Hadis di atas merupakan ancaman bagi para hakim yang memutuskan perkara bukan berdasarkan kebenaran yang ia yakini. Para ulama sepakat atas haramnya para hakim yang bertindak demikian. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mengharuskan para hakim untuk memutuskan berdasarkan pendapat yang valid &lt;i&gt;(rajih) &lt;/i&gt;yang telah ditetapkan untuk mereka adalah sesuatu yang tidak sejalan dengan apa yang telah terjadi di zaman Rasulullah SAW, Khulafa ar-Rasyidin, dan orang-orang salaf yang saleh. Sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya kebijakan seperti itu terjadi di zaman Dinasti Abbasyiah. Saat itu, Abu Ja’far al-Manshur mengusulkan kepada Imam Malik, namun beliau menolak usulan tersebut. Dengan demikian, wacana &lt;i&gt;taqnin &lt;/i&gt;adalah sesuatu yang ditolak oleh kaum salaf. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Undang-undang hukum positif yang diterapkan oleh pengadilan-pengadilan sipil di berbagai negara, ternyata sering kali mengandung kontradiksi dan kekeliruan. Keputusan-keputusan pengadilan sering kali bertentangan satu sama lain. Dengan demikian, penetapan undang-undang dan kewajiban untuk mengikutinya tidak menjamin mencegah terjadi kesalahan dan kontradiksi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Keharusan untuk mengadakan &lt;i&gt;taqnin &lt;/i&gt;akan justru akan membuat masyarakat tidak leluasa dalam menetapkan keputusan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;7.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Perselisihan dalam masalah hukum merupakan sesuatu yang juga terjadi zaman Khalifah ar-Rasyidin dan para salaf saleh. Bahkan terkadang seorang hakim bisa menghasilkan dua keputusan yang mirip. Keputusan yang kedua tidak berarti menggugurkan keputusan sebelumnya. Hal ini tidak bisa dijadikan alasan untuk melakukan &lt;i&gt;taqnin &lt;/i&gt;dan mengharuskan hakim untuk hanya mengikuti satu pandangan tertentu saja. Bagaimana pun, orang-orang dulu justru lebih hati-hati daripada kita sekarang dalam menjaga kepentingan agama dan dalam memelihara kebebasan masyarakat untuk berbeda pendapat. Perbedaan pendapat tersebut tidak bisa dijadikan untuk meragukan kemampuan para hakim dan menuduh mereka tidak kompeten. Bagaimana pun, pada prinsipnya, seorang yang diangkat sebagai hakim adalah orang yang memiliki ilmu pengetahuan memadai, bisa dipercaya, dan bertanggung jawab. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;8.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ketika melongok kepada berbagai kitab fiqih, kita pun memaklumi bahwa di sana terdapat banyak perbedaan pendapat. Para ulama yang memiliki kompetensi memang dituntut untuk melakukan ijtihad masing-masing. Salah ataupun benar hasil ijtihad mereka, tetap mereka memperoleh pahala sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW. Jika memang ada pendapat yang salah, maka adalah kewajiban ulama lain untuk meluruskannya dan mengembalikannya kepada pendapat yang benar. Para ulama juga berpendapat, bahwa suatu keputusan hakim tidak bisa digugurkan kecuali jika memang bertentangan dengan dalil syara’. Dengan demikian, upaya &lt;i&gt;taqnin &lt;/i&gt;justru akan menghilangkan kesempatan ijtihad bagi para ulama.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftn25" name="_ftnref25" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[25]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;G.&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Penutup &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Dari uraian tentang pandangan para ulama yang mendukung maupun menolak &lt;i&gt;taqnin al-ahkam, &lt;/i&gt;tampak bahwa keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dari alasan-alasan yang dikemukakan para ulama Arab Saudi yang menolak &lt;i&gt;taqnin al-ahkam, &lt;/i&gt;tampak bahwa mereka memang cenderung dipengaruhi oleh prinsip Wahabi yang sangat menekankan untuk mengikuti &lt;i&gt;(ittiba’) &lt;/i&gt;pada tuntunan Rasulullah SAW. Upaya &lt;i&gt;taqnin al-ahkam &lt;/i&gt;dianggap sebagai sesuatu yang baru dan tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan oleh &lt;i&gt;salafus salih&lt;/i&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Di samping itu, prinsip tauhid yang berlebihan juga tampak diyakini sebagian oleh ulama Arab Saudi dalam melihat &lt;i&gt;taqnin al-ahkam &lt;/i&gt;dan kewajiban orang untuk mengikutinya. Bagi mereka, mewajibkan orang untuk hanya menaati undang-undang yang telah disahkan penguasa, berarti sesuatu sikap yang lebih mengutamakan hasil pemikiran manusia biasa yang tidak &lt;i&gt;ma’shum&lt;/i&gt;. Hal itu bisa merusak prinsip tauhid karena Allah dan Rasul-Nya harus lebih diutamakan daripada yang lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Alasan agar tidak mempersempit pilihan masyarakat sehingga mereka bisa lebih leluasa dan mempunyai banyak pilihan, merupakan salah satu alasan yang dikemukakan untuk menolak &lt;i&gt;taqnin. &lt;/i&gt;Alasan tersebut memang bagus dan sejalan pula dengan prinsip pluralisme yang saat ini sering digembor-gemborkan kalangan Islam Liberal. Namun, hemat penulis, upaya menyatukan pandangan masyarakat dalam sebuah undang-undang atau pemerintah bukanlah lantas dianggap sebagai sesuatu yang mempersulit masyarakat dan merusak prinsip pluralisme. Pemerintah memang berkewajiban untuk menetapkan aturan dan perundang-undangan. Sedangkan rakyat pun wajib menaati dan mengikutinya. Pada konteks bernegara dalam Islam, ketaatan kepada undang-undang atau peraturan tersebut selama ia tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Di sisi lain, harus pula diperhatikan bahwa &lt;i&gt;taqnin al-ahkam &lt;/i&gt;juga memiliki kekurangan. Sebagaimana layaknya hukum undang-undang sipil yang lain, ketika hukum Islam dirumuskan ke dalam bentuk undang-undang atau peraturan, maka ia pun juga bisa ditentang, dicabut, dianggap keliru oleh masyarakat dan penguasa. Hal ini tentu saja jadi mengurangi kewibawaan hukum Islam. Keberadaan sebuah undang-undang sangat tergantung oleh kebijakan pemerintah dan para pihak berkuasa. Sebagai contoh kasus di Indonesia, bisa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kita lihat bagaimana sejarah ditetapkannya Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974. Banyak penentangan, baik di kalangan orang Islam sendiri maupun non Islam, yang terjadi baik sebelum maupun sesudah undang-undang itu ditetapkan dan disahkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Karena resiko seperti itulah, maka &lt;i&gt;taqnin al-ahkam &lt;/i&gt;harus betul-betul melibatkan banyak pihak yang terkait. Tata cara pembentukan undang-undang &lt;i&gt;(legal drafting) &lt;/i&gt;juga harus betul-betul diperhatikan. Dengan demikian, ketika hukum-hukum Islam itu sudah menjadi undang-undang &lt;i&gt;(qanun), &lt;/i&gt;maka resistensi terhadapnya bisa ditekan seminimal mungkin karena untuk menafikan sama sekali resistensi, tampaknya sesuatu yang mustahil. Setiap kebijakan pasti saja menuai pro dan kontra, sebaik apapun kebijakan itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Wallahu a’lam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: center; font-family: trebuchet ms;font-family:arial;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: center; font-family: trebuchet ms;font-family:arial;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: center; font-family: trebuchet ms;font-family:arial;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"  style="margin: 0cm 0cm 12pt 27pt; text-indent: -27pt; font-family: trebuchet ms;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Abdurrahman bin Qasim, &lt;i&gt;Majmu Fatwa Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyyah, &lt;/i&gt;Dar Alam al-Kutub, 1412 H. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"  style="margin: 0cm 0cm 12pt 27pt; text-indent: -27pt; font-family: trebuchet ms;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Abdurrahman bin Sa’ad asy-Syatri, &lt;i&gt;Taqnin asy-Syariah bain at-Tahlil wa at-Tahrim&lt;/i&gt;, Dar al-Fadhilah, 1426 H. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"  style="margin: 0cm 0cm 12pt 27pt; text-indent: -27pt; font-family: trebuchet ms;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Abu Abdullah al-Hathtab, &lt;i&gt;Mawahib al-Jalil li Syarh Mukhtashar Khalil, &lt;/i&gt;Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1416 H. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"  style="margin: 0cm 0cm 12pt 27pt; text-indent: -27pt; font-family: trebuchet ms;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Adz-Dzahabi, &lt;i&gt;Siar A’lam an-Nubala&lt;/i&gt;, Muassasah ar-Risalah, 1412 H.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"  style="margin: 0cm 0cm 12pt 27pt; text-indent: -27pt; font-family: trebuchet ms;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Al-Bassam, &lt;i&gt;Taqnin asy-Syariah Adhraruhu wa Mafasiduhu. &lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"  style="margin: 0cm 0cm 12pt 27pt; text-indent: -27pt; font-family: trebuchet ms;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;An-Nawawi, &lt;i&gt;al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab, &lt;/i&gt;Dar al-Fikr. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"  style="margin: 0cm 0cm 12pt 27pt; text-indent: -27pt; font-family: trebuchet ms;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Bakar Abu Zaid, &lt;i&gt;Fiqh an-Nawazil&lt;/i&gt;, Muassasah ar-Risalah, 1412 H.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"  style="margin: 0cm 0cm 12pt 27pt; text-indent: -27pt; font-family: trebuchet ms;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Harian &lt;i&gt;al-Jazirah, &lt;/i&gt;tanggal 3 Jumadil Akhir 1426 H. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"  style="margin: 0cm 0cm 12pt 27pt; text-indent: -27pt; font-family: trebuchet ms;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Ibnu Abidin, &lt;i&gt;Radd al-Mukhtar ‘ala ad-Dar al-Mukhtar, &lt;/i&gt;Dar Ihya at-Turats al-Arabi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"  style="margin: 0cm 0cm 12pt 27pt; text-indent: -27pt; font-family: trebuchet ms;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Ibnu Kasir, &lt;i&gt;Al-Bidayah wa an-Nihayah, &lt;/i&gt;Dar Hijr, 1419 H. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"  style="margin: 0cm 0cm 12pt 27pt; text-indent: -27pt; font-family: trebuchet ms;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Ibnu Qudamah al-Maqdisi, &lt;i&gt;al-Mughni.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"  style="margin: 0cm 0cm 12pt 27pt; text-indent: -27pt; font-family: trebuchet ms;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Ibrahim Anis, &lt;i&gt;et. al&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Al-Mu’jam al-Wasith&lt;/i&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"  style="margin: 0cm 0cm 12pt 27pt; text-indent: -27pt; font-family: trebuchet ms;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Manna’ al-Qaththan, &lt;i&gt;at-Tasyri’ wa al-Fiqh fi al-Islam Tarikhan wa Manhajan, &lt;/i&gt;Maktabah Wahbah, 1422 H. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"  style="margin: 0cm 0cm 12pt 27pt; text-indent: -27pt; font-family: trebuchet ms;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Mushtafa az-Zarqa, &lt;i&gt;al-Madkhal al-Fiqh al-Am, &lt;/i&gt;Dar al-Qalam, 1418 H. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"  style="margin: 0cm 0cm 12pt 27pt; text-indent: -27pt; font-family: trebuchet ms;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Swiss al-Mahamid, &lt;i&gt;Masirah a-Fiqh al-Islami al-Mu’ashir&lt;/i&gt;, Jam’iyyah Ummal al-Mathabi’, 1422 H.&lt;/span&gt; &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: center; font-family: trebuchet ms;font-family:arial;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl"  style="text-align: right; direction: rtl; unicode-bidi: embed; font-family: trebuchet ms;font-family:arial;"&gt;&lt;span dir="ltr"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div  style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;hr style="height: 3px;font-size:78%;" align="left"  width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Al-Mu’jam al-Wasith, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;juz 2, hal. 763. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Mushtafa az-Zarqa, &lt;i&gt;al-Madkhal al-Fiqh al-Am, &lt;/i&gt;juz 1, hal. 313.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn3"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Al-Bidayah wa an-Nihayah, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;juz 13, hal. 384.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn4"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Muhammad Salam al-Madkur, &lt;i&gt;al-Qadha fi al-Islam, &lt;/i&gt;hal. 115.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn5"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Siar A’lam an-Nubala, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;juz 8, hal. 78.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn6"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftnref6" name="_ftn6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Manna’ al-Qaththan, &lt;i&gt;at-Tasyri’ wa al-Fiqh fi al-Islam, &lt;/i&gt;hal. 404. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn7"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftnref7" name="_ftn7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;Kitab at-Taqnin baina at-Tahlil wa at-Tahrim, &lt;/i&gt;hal. 15.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn8"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftnref8" name="_ftn8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;span lang="IN"&gt;Lihat, &lt;i&gt;Mawahib al-Jalil&lt;/i&gt;, juz 8, hal. 78; &lt;i&gt;al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab&lt;/i&gt;, juz 20, hal. 128; &lt;i&gt;al-Mughni&lt;/i&gt;, juz 14, hal. 91; &lt;i&gt;Hasyiah Ibnu Abidin, &lt;/i&gt;juz 1, hal. 163.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn9"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftnref9" name="_ftn9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Majmu al-Fatawa, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;juz 35, hal. 357, 360, 372, dan 373.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn10"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftnref10" name="_ftn10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Al-Mughni, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;juz 14, hal. 91; &lt;i&gt;al-Majmu’, &lt;/i&gt;juz 20, hal.128. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn11"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftnref11" name="_ftn11" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Al-Fatawa, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;juz 30, hal. 79.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn12"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftnref12" name="_ftn12" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Hasyiah Ibnu Abidin, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;juz 1, hal. 163.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn13"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftnref13" name="_ftn13" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;Majmu’ al-Fatawa, &lt;/i&gt;juz 35, hal. 361.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn14"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftnref14" name="_ftn14" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Abhats Haiah Kibar al-Ulama, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;juz 3, hal. 260 dan seterusnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn15"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftnref15" name="_ftn15" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Mushthafa az-Zarqa, &lt;i&gt;al-Madkhal al-Fiqh al-Am, &lt;/i&gt;juz 1, hal. 230-231.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn16"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftnref16" name="_ftn16" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Masirah a-Fiqh al-Islami al-Mu’ashir, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;hal. 438.&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn17"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftnref17" name="_ftn17" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ibid., &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;hal. 440.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn18"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftnref18" name="_ftn18" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Abhats Haiah Kibar al-Ulama, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;juz 3, hal. 269. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn19"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftnref19" name="_ftn19" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ibid., &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;juz 3, hal.266.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn20"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftnref20" name="_ftn20" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[20]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Fiqh an-Nawazil, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;juz 1, hal. 1 dan seterusnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn21"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftnref21" name="_ftn21" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Lihat pandangan beliau dalam Harian &lt;i&gt;al-Jazirah, &lt;/i&gt;tanggal 3 Jumadil Akhir 1426 H. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn22"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftnref22" name="_ftn22" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[22]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Lihat, al-Bassam, &lt;i&gt;Taqnin asy-Syariah Adhraruhu wa Mafasiduhu. &lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn23"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftnref23" name="_ftn23" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[23]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Lihat, &lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Taqnin asy-Syariah bain at-Tahlil wa at-Tahrim, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;hal. 31-32.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn24"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftnref24" name="_ftn24" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[24]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt; Hadis dari Buraidah yang diriwayatkan oleh Ahli Sunan dan al-Hakim di dalam &lt;i&gt;al-Mustadrak. &lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn25"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7108753764630569030#_ftnref25" name="_ftn25" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[25]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Lihat pandangan Syaikh Shalih al-Fauzan dalam Harian &lt;i&gt;al-Jazirah, loc. cit. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2636895042263018731-7108753764630569030?l=racheedus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://racheedus.blogspot.com/feeds/7108753764630569030/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/09/pandangan-para-ulama-tentang-taqnin-al.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/7108753764630569030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/7108753764630569030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/09/pandangan-para-ulama-tentang-taqnin-al.html' title='Pandangan Para Ulama tentang Taqnin al-Ahkam'/><author><name>Rasheed Redha</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02711158177502400218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SWDfAvyUEbI/AAAAAAAAAEw/-n5c93Zsy3o/S220/Sketsa+Wajah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2636895042263018731.post-7619153875644425877</id><published>2008-09-23T04:27:00.000-07:00</published><updated>2008-09-26T01:35:59.544-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Islam'/><title type='text'>Wakaf Air dan Bahan Bakar Minyak (BBM)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;A.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Islam dan Kekayaan Alam &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 30pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Air dan Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan dua hal yang termasuk kekayaan alam yang mestinya dipergunakan untuk kepentingan masyarakat luas. Kedua hal itu merupakan termasuk kebutuhan pokok di tengah masyarakat sekarang. Kebutuhan terhadap air semakin tinggi ketika musim kemarau tiba. Begitu pula kebutuhan terhadap BBM semakin tinggi ketika banyak kegiatan-kegiatan di tengah masyarakat ditopang oleh alat-alat yang membutuhkan BBM. Kebutuhan tersebut semakin sulit dipenuhi ketika harga BBM juga kini telah dinaikkan oleh rezim yang berkuasa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 30pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Islam sendiri mengatur bahwa ada tiga yang hal yang tidak bisa dimiliki secara individu. Dengan kata lain, masyarakat secara luas memiliki hak yang sama untuk memperolehnya. Ketiga hal itu adalah rumput, air, dan api.&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt; &lt;/span&gt;Hal tersebut ditegaskan oleh Nabi Muhammad dengan sabda beliau:, &lt;i&gt;“Orang-orang Islam memiliki hak bersama terhadap tiga hal, yaitu: rumput, air, dan api.”&lt;/i&gt; &lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  lang="IN" &gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 30pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dalam penjelasan hadis itu, para ulama menyimpulkan bahwa ketiga hal tersebut tidak boleh dimiliki oleh siapa pun dan tidak boleh dijualbelikan. Rumput atau tanaman yang dimaksud adalah rumput atau tanaman liar yang tumbuh di lahan tidur yang tidak dimiliki oleh siapa pun. Air yang dimaksud adalah air hujan atau air dan sumber mata air atau sungai yang memang tidak ada pemiliknya. Sedangkan api adalah tanaman tertentu yang dipergunakan oleh orang Arab saat itu untuk menyalakan api.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  lang="IN" &gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 30pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Konsep Islam yang diutarakan oleh Nabi Muhammad tersebut tentu perlu diberi pemahaman kontekstual agar bisa berlaku di zaman sekarang. Api yang dimaksud bisa saja dipahami secara kontekstual dengan bahan bakar minyak. Hal itu karena terdapat titik temu antara api dan bahan bakar minyak, yaitu pada segi bahwa keduanya mempunyai sifat membakar. Di samping itu, keduanya merupakan salah satu kebutuhan pokok di masyarakat. Titik temu yang lain adalah bahwa api dan BBM yang berasal dari minyak bumi merupakan dua hal yang tidak bisa dikuasai oleh individu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;B.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Air sebagai Obyek Wakaf dalam Pembahasan Fikih &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 30pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dalam beberapa kitab fikih, air memang bisa diwakafkan. Wahbah az-Zuhaili dalam &lt;i&gt;al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, &lt;/i&gt;menyatakan bahwa air bisa menjadi obyek wakaf yang sah.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  lang="IN" &gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Meskipun juga harus digarisbawahi, pada hakikatnya yang diwakafkan adalah sumur atau sumber airnya yang diwakafkan. Jadi, obyek wakaf&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sesungguhnya adalah sumur atau sumber air, bukan air itu sendiri. Hal itu karena air adalah termasuk sesuatu yang habis saat dikonsumsi. Sedangkan sesuatu yang habis karena konsumsi, seperti makanan dan minuman, tidak bisa menjadi obyek wakaf.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  lang="IN" &gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 30pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dalam sejarah Islam, Usman bin Affan adalah orang yang pernah mewakafkan sebuah sumur yang sebelumnya dimiliki oleh seorang Yahudi. Sumur itu terletak di sebuah daerah di Madinah dan dikenal dengan nama Sumur Rumah &lt;i&gt;(bi’r rumah). &lt;/i&gt;Setiap orang yang ingin mengambil air dari sumur itu, harus membayar dengan sejumlah harga tertentu kepada Si Yahudi. Karena melihat betapa pentingnya sumur itu, Nabi lantas menjanjikan bahwa siapapun yang bisa membeli sumur itu dan mewakafkannya untuk masyarakat luas, maka ia akan memperoleh ganjaran di surga. Usman, yang memang dikenal sebagai orang kaya, akhirnya membeli sumur itu lantas mewakafkannya. Dengan demikian, setiap orang tidak perlu lagi membayar jika hendak mengambil air dari sumur tersebut.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  lang="IN" &gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 30pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Di kalangan ulama mazhab fiqh, terdapat beberapa sedikit perbedaan tentang air sebagai obyek wakaf. Bagi kalangan ulama Syafi’iyyah, menurut Ibnu Hajar al-Haitsami, air itu sendiri tidak sah digunakan sebagai obyek wakaf.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  lang="IN" &gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Sebaliknya, Ibnu Shalah yang juga dari kalangan Syafi’iyyah, menganggap bahwa air sah sebagai obyek wakaf.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftn7" name="_ftnref7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  lang="IN" &gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Namun ulama Syafi’iyyah yang lain, asy-Syarwani menerangkan bahwa yang diperbolehkan untuk diwakafkan adalah sumur, sehingga air termasuk di dalamnya air. Jadi, dalam pernyataan wakaf, yang disebutkan adalah tempatnya, seperti sumur, bukan airnya. Jika air yang disebutkan dalam pernyataan wakaf, maka tidak sah.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftn8" name="_ftnref8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  lang="IN" &gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 30pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sedangkan menurut Imam Hambali, ketika beliau ditanya tentang wakaf air, hal itu adalah diperbolehkan jika memang sudah menjadi kebiasaan di tengah masyarakat. Oleh Ibnu Muflih, dijelaskan lebih lanjut bahwa yang dimaksud oleh Imam Ahmad bin Hambal tersebut, adalah air itu sendiri.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftn9" name="_ftnref9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  lang="IN" &gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Namun oleh ulama Hambaliyah yang lain, seperti al-Haritsi, yang dimaksud bukanlah air itu sendiri, tapi tempat keluarnya air. Air mustahil menjadi obyek wakaf, karena dua hal yaitu &lt;i&gt;pertama &lt;/i&gt;air bukanlah sesuatu yang bisa dimiliki karena ia senantiasa memperbaharui diri, dan &lt;i&gt;kedua &lt;/i&gt;air adalah sesuatu yang habis jika dimanfaatkan, padahal benda wakaf haruslah sesuatu yang pokoknya tidak habis jika dipergunakan.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftn10" name="_ftnref10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  lang="IN" &gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Pandangan al-Haritsi ini ditentang oleh al-Mardawi, yang menyatakan bahwa dalam masalah wakaf air ini, yang menjadi pokok adalah sumurnya. Tidak masalah air habis saat digunakan karena air tersebut akan digantikan dengan air yang baru. Dengan demikian, tetap diperbolehkan mewakafkan air.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftn11" name="_ftnref11" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  lang="IN" &gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 30pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bagi mazhab Maliki, juga boleh mewakafkan air yang dipergunakan untuk mandi, wudlu, dan minum.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftn12" name="_ftnref12" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  lang="IN" &gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Jika memang dipergunakan untuk kepentingan umum dan keagamaan&lt;i&gt;, &lt;/i&gt;tempat yang menjadi sarana munculnya air bisa digunakan sebagai obyek wakaf.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftn13" name="_ftnref13" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  lang="IN" &gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 30pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sedangkan menurut logika ulama Hanafi, wakaf&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan sedekah adalah bentuk kebajikan yang diberikan oleh orang kaya kepada orang miskin sebagai wujud keinginan untuk mendekat diri kepada Allah. Orang kaya tersebut sudah merasa cukup terhadap obyek yang diwakafkan. Sementara air adalah sesuatu yang diperlukan oleh orang banyak, baik orang kaya maupun orang miskin. Air tidak hanya diperlukan oleh orang miskin. Di samping itu, sebelum dikuasai sumber atau sumurnya, air bukanlah harta benda yang bisa diwakafkan. Jika seorang yang mewakafkan sumur minum tidak tegas mengkhususkan untuk orang miskin dalam pernyataan wakafnya, maka wakaf itu tidak sah. Namun jika ia mengkhususkan hanya untuk orang miskin, meskipun pada kenyataannya dimanfaatkan pula oleh orang kaya, maka wakaf itu sah.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftn14" name="_ftnref14" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  lang="IN" &gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;C.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Minyak sebagai Obyek Wakaf dalam Pembahasan Fikih &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 30pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Menurut Wahbah az-Zuhaili, minyak yang digunakan untuk penerangan mesjid bisa dijadikan sebagai obyek wakaf, karena penerangan masjid adalah sesuatu yang dianjurkan &lt;i&gt;(mandub)&lt;/i&gt;.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftn15" name="_ftnref15" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  lang="IN" &gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Kalangan ulama Syafi’iyyah, seperti Imama Nawawi, juga membolehkan wakaf demikian, dan penerangan itu boleh dilakukan sepanjang malam.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftn16" name="_ftnref16" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  lang="IN" &gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Bagi kalangan Hanafi, wakaf minyak untuk penerangan mesjid diperbolehkan, tapi penerangan tersebut tidak boleh sepanjang malam, hanya seperlunya untuk keperluan ibadah.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftn17" name="_ftnref17" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  lang="IN" &gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 30pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sementara kalangan Maliki, seperti al-Kharasyi, juga membolehkan mewakafkan minyak yang digunakan untuk penerangan masjid.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftn18" name="_ftnref18" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  lang="IN" &gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ibnu Taimiyyah yang merupakan salah satu tokoh ulama di kalangan mazhab Hambali, membolehkan wakaf minyak yang digunakan untuk penerangan masjid. Tapi, tidak boleh jika digunakan untuk penerangan kuburan.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftn19" name="_ftnref19" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  lang="IN" &gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Meski sama-sama dari mazhab Hambali, as-Suyuthi ar-Rahibani justru melarang mewakafkan minyak meskipun untuk penerangan mesjid.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftn20" name="_ftnref20" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  lang="IN" &gt;[20]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;D.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Air dan BBM dalam Undang-undang Wakaf di Indonesia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 30pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dalam Undang-undang Wakaf No 41 Tahun 2004, memang belum disebutkan secara eksplisit bahwa air dan BBM bisa dijadikan sebagai obyek wakaf. Namun dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 42 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Undang-undang Wakaf No 41 Tahun 2004&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tersebut, disebutkan secara tegas pada pasal 19 ayat 3 bahwa air dan BBM bisa dijadikan sebagai obyek wakaf.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftn21" name="_ftnref21" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  lang="IN" &gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Namun kriteria dan teknis wakaf tersebut masih belum ada penjelasan yang lebih detil. Masukan dan &lt;i&gt;input &lt;/i&gt;dari masyarakat perlu diakomodir oleh para legislator agar peraturan tersebut bisa diterapkan di tengah masyarakat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 30pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;E.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Aplikasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Wakaf Air dan BBM &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 30pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dalam pembahasan sebelumnya, mayoritas ulama berpendapat bahwa yang menjadi obyek wakaf adalah sarana untuk memperoleh air, yaitu sumur, jadi bukan air itu sendiri. Sedangkan air hujan, air sungai, air laut, air dari sumber mata air alami, tidak bisa diwakafkan, karena ia memang sudah menjadi milik publik. Air demikian, sebagaimana pendapat Imam Syafi’i, merupakan rahmat Allah yang boleh diakses oleh siapa pun.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftn22" name="_ftnref22" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  lang="IN" &gt;[22]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 30pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sementara di zaman modern yang semakin canggih ilmu pengetahuan dan teknologi, air tidak selalu didapatkan secara konvensional seperti dari sumur yang digali, sumber mata air alami, sungai atau laut. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Dengan peralatan yang semakin modern, air bisa diperoleh dengan menggunakan mesin pompa dan menghasilkan kualitas air yang baik. Sumur dan alat pompa tersebut, baik yang menggunakan listrik maupun tangan, bisa dijadikan obyek wakaf. Selanjutnya, pengelolaannya bisa diserahkan kepada &lt;i&gt;nazhir &lt;/i&gt;sebagaimana layaknya obyek wakaf umumnya. Namun yang juga harus digarisbawahi, pengelolaannya tidak boleh bersifat komersial karena hal itu bisa mengurangi nilai ibadah dari sang &lt;i&gt;waqif. &lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 30pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Selanjutnya, wakaf BBM bisa dianalogikan dengan wakaf minyak untuk penerangan mesjid sebagaimana yang diperbolehkan oleh para ulama. Dengan semakin meningkatnya teknologi, saat ini nyaris tidak ada mesjid yang menggunakan penerangan dari lampu minyak. Listrik yang sudah masuk hingga ke pelosok desa telah mengganti peran lampu minyak. Karena itulah, wakaf minyak untuk penerangan mesjid tidak lagi relevan untuk zaman sekarang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 30pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Minyak yang kini banyak dibutuhkan adalah yang termasuk dalam Bahan Bakar Minyak (BBM). Sementara BBM tersebut berasal dari sumber minyak bumi yang termasuk kekayaan alam yang dikuasai oleh negara, sesuai dengan UU No 22 Tahun 2001.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftn23" name="_ftnref23" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  lang="IN" &gt;[23]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Dengan demikian, yang lebih tepat untuk dijadikan sebagai obyek wakaf pada hakikatnya bukanlah minyak itu sendiri, tapi tempat usaha penjualan BBM, yaitu Stasiun Penjualan Bahan Bakar Umum &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(SPBU). Hasil penjualan dari bahan bakar itulah yang kemudian diwakafkan untuk masyarakat luas. Dengan demikian, SPBU tersebut tetap bisa beroperasi dalam jangka waktu lama demi kemaslahatan umat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  lang="IN" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 0cm 0cm 8pt 30.05pt; text-align: justify; text-indent: -30.05pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;Abd as-Salam bin Abdullah bin Ali bin Taimiyyah, &lt;i&gt;Majmu Fatawa Ibn Taimiyyah, &lt;/i&gt;(Beirut: Dar Alam al-Kutub, tt.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 0cm 0cm 8pt 30.05pt; text-align: justify; text-indent: -30.05pt;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Abdul Hamid &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;Asy-Syarwani, &lt;i&gt;Hawasyi a-Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj&lt;/i&gt;,.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 0cm 0cm 8pt 30.05pt; text-align: justify; text-indent: -30.05pt;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Ahmad bin Ghanim an-Nafrawi al-Maliki, &lt;i&gt;Al-Fawakih ad-Dawani Syarh Risalah al-Qayrawani,&lt;/i&gt;(Mesir: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1997).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 0cm 0cm 8pt 30.05pt; text-align: justify; text-indent: -30.05pt;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Ahmad bin Muhammad bin Ahmad Abu al-Barakat ad-Dardiri, &lt;i&gt;Hasyiyah ad-Dasuqi ‘ala Syarh al-Kabir&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 0cm 0cm 8pt 30.05pt; text-align: justify; text-indent: -30.05pt;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Ahmad bin Muhammad bin Ali bin &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;Hajar al-Haitsami, &lt;i&gt;Fatawa Ibn Hajar al-Haitsami&lt;/i&gt;, (Beirut: Dar al-Fikr, 1983).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 0cm 0cm 8pt 30.05pt; text-align: justify; text-indent: -30.05pt;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Ali bin Sulaiman bin Ahmad al-Mardawi, &lt;i&gt;al-Inshaf fi Ma’rifah ar-Rajih min al-Khilaf, &lt;/i&gt;(Mesir: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1997)&lt;i&gt;. &lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 0cm 0cm 8pt 30.05pt; text-align: justify; text-indent: -30.05pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;Mahmud bin Ahmad bin ash-Shadr an-Najjari, &lt;i&gt;al-Jauharah an-Nayyirah&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 0cm 0cm 8pt 30.05pt; text-align: justify; text-indent: -30.05pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;Muhammad bin Abdullah al-Kharasyi, &lt;i&gt;Manhaj al-Jalil Syarh Mukhtashar al-Khalil, &lt;/i&gt;(Damaskus: Dar ash-Shadir, tt). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 0cm 0cm 8pt 30.05pt; text-align: justify; text-indent: -30.05pt;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Muhammad bin Ahmad bin Abi Sahal as-Sarkhasi, &lt;i&gt;al-Mabsuth, &lt;/i&gt;(Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1993).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 0cm 0cm 8pt 30.05pt; text-align: justify; text-indent: -30.05pt;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Muhammad bin Idris asy-Syafi’i, &lt;i&gt;al-Umm, &lt;/i&gt;juz 7, hal. 249 &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;dalam Kitab Digital &lt;i&gt;al-Marji’ al-Akbar, &lt;/i&gt;(Syirkah al-Aris li Kumbutar, tt). &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 0cm 0cm 8pt 30.05pt; text-align: justify; text-indent: -30.05pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;Muhammad bin Ismail Abu Abdullah al-Bukhari al-Ja’fi, &lt;i&gt;al-Jami’ Shahih al-Mukhtashar, &lt;/i&gt;ed. Mushtafa Dib al-Bigha&lt;i&gt; &lt;/i&gt;(Beirut: Dar Ibn Kasir, 1987). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 0cm 0cm 8pt 30.05pt; text-align: justify; text-indent: -30.05pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;Muhammad bin Muflih bin Muhammad al-Maqdisi, &lt;i&gt;al-Mabda’ Syarh al-Maqna’, &lt;/i&gt;(tk: al-Maktab al-Islami, 1988).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 0cm 0cm 8pt 30.05pt; text-align: justify; text-indent: -30.05pt;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Muhammad bin Yazid bin Abdullah al-Quzwaini, &lt;i&gt;Sunan bin Majah, &lt;/i&gt;ed. Muhammad Fuad Abd al-Baqi, (&lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Beirut&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;: Dar al-Fikr, tt.). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 0cm 0cm 8pt 30.05pt; text-align: justify; text-indent: -30.05pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;Musthafa bin S’ad bin Abduh ar-Rahibani, &lt;i&gt;Mathalib Uli an-Nuha fi Syarh Ghayah al-Muntaha, &lt;/i&gt;dalam &lt;i&gt;al-Marja al-Kabir, &lt;/i&gt;(Syirkah al-Aris li Kumbutar, tt). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 0cm 0cm 8pt 30.05pt; text-align: justify; text-indent: -30.05pt;"&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Wahbah az-Zuhaili, &lt;i&gt;al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, &lt;/i&gt;(Damsyik: Dar al-Fikr, 1989). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 0cm 0cm 8pt 30.05pt; text-align: justify; text-indent: -30.05pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;Yahya bin Syaraf an-Nawawi, &lt;i&gt;Raudlah ‘ath-Thalibin wa Umdah al-Muftiyyin, &lt;/i&gt;(Beirut: Dar al-Fikr, tt.). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 0cm 0cm 8pt 30.05pt; text-align: justify; text-indent: -30.05pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;Zainuddin al-Malibari, &lt;i&gt;Fath al-Mu’in bi Syarh Qurrah al-Ain bi Muhimmat ad-Din&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 0cm 0cm 8pt 30.05pt; text-indent: -30.05pt;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:12;"&gt;http://www.bpkp.go.id/unit/hukum/uu/2001/22-01.pdf.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;br /&gt; &lt;hr align="left" size="1" width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Muhammad bin Yazid bin Abdullah al-Quzwaini, &lt;i&gt;Sunan bin Majah, &lt;/i&gt;ed. Muhammad Fuad Abd al-Baqi, (&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Beirut&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Dar al-Fikr, tt.), &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;juz 2, hal. 826. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;Ibid.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn3"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Wahbah az-Zuhaili, &lt;i&gt;al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, &lt;/i&gt;(Damsyik: Dar al-Fikr, 1989), juz 8, hal. 188. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn4"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ibid.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn5"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="" lang="IN"&gt;Muhammad bin Ismail Abu Abdullah al-Bukhari al-Ja’fi, &lt;i&gt;al-Jami’ Shahih al-Mukhtashar, &lt;/i&gt;ed. Mushtafa Dib al-Bigha&lt;i&gt; &lt;/i&gt;(Beirut: Dar Ibn Kasir, 1987), juz 3, hal. 1021. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn6"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftnref6" name="_ftn6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ahmad bin Muhammad bin Ali bin &lt;span style="" lang="IN"&gt;Hajar al-Haitsami, &lt;i&gt;Fatawa Ibn Hajar al-Haitsami&lt;/i&gt;, (Beirut: Dar al-Fikr, 1983), juz 3, hal. 335.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn7"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftnref7" name="_ftn7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="" lang="IN"&gt;Zainuddin al-Malibari, &lt;i&gt;Fath al-Mu’in bi Syarh Qurrah al-Ain bi Muhimmat ad-Din, &lt;/i&gt;juz. 3, hal. 157.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn8"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftnref8" name="_ftn8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Abdul Hamid &lt;span style="" lang="IN"&gt;Asy-Syarwani, &lt;i&gt;Hawasyi a-Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj&lt;/i&gt;, juz 1, hal. 210.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn9"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftnref9" name="_ftn9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; Muhammad bin Muflih bin Muhammad al-Maqdisi, &lt;i&gt;al-Mabda’ Syarh al-Maqna’, &lt;/i&gt;(tk: al-Maktab al-Islami, 1988), juz 5, hal. 316.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn10"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftnref10" name="_ftn10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;Ibid.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn11"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftnref11" name="_ftn11" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ali bin Sulaiman bin Ahmad al-Mardawi, &lt;i&gt;al-Inshaf fi Ma’rifah ar-Rajih min al-Khilaf, &lt;/i&gt;(Mesir: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1997), juz 7, hal. 3&lt;i&gt;. &lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn12"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftnref12" name="_ftn12" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ahmad bin Ghanim an-Nafrawi al-Maliki, &lt;i&gt;Al-Fawakih ad-Dawani Syarh Risalah al-Qayrawani,&lt;/i&gt;(Mesir: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1997), juz 2, hal. 263.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn13"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftnref13" name="_ftn13" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ahmad bin Muhammad bin Ahmad Abu al-Barakat ad-Dardiri, &lt;i&gt;Hasyiyah ad-Dasuqi ‘ala Syarh al-Kabir, &lt;/i&gt;juz 4, hal. 79.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn14"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftnref14" name="_ftn14" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Muhammad bin Ahmad bin Abi Sahal as-Sarkhasi, &lt;i&gt;al-Mabsuth, &lt;/i&gt;(Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1993), juz 4, hal. 532-533.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn15"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftnref15" name="_ftn15" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Wahbah az-Zuhaili, &lt;i&gt;al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, loc. cit.&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn16"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftnref16" name="_ftn16" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; Yahya bin Syaraf an-Nawawi, &lt;i&gt;Raudlah ‘ath-Thalibin wa Umdah al-Muftiyyin, &lt;/i&gt;(Beirut: Dar al-Fikr, tt.), juz 3, hal. 157. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn17"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftnref17" name="_ftn17" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="" lang="IN"&gt;Mahmud bin Ahmad bin ash-Shadr an-Najjari, &lt;i&gt;al-Jauharah an-Nayyirah, &lt;/i&gt;juz 6, hal. 211. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn18"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftnref18" name="_ftn18" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;span lang="IN"&gt;Muhammad bin Abdullah al-Kharasyi, &lt;i&gt;Manhaj al-Jalil Syarh Mukhtashar al-Khalil, &lt;/i&gt;(Damaskus: Dar ash-Shadir, tt.), juz 4, hal. 33. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn19"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftnref19" name="_ftn19" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="" lang="IN"&gt;Abd as-Salam bin Abdullah bin Ali bin Taimiyyah, &lt;i&gt;Majmu Fatawa Ibn Taimiyyah, &lt;/i&gt;(Beirut: Dar Alam al-Kutub, tt.), juz 31, hal. 205.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn20"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftnref20" name="_ftn20" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;[20]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;span lang="IN"&gt;Musthafa bin S’ad bin Abduh ar-Rahibani, &lt;i&gt;Mathalib Uli an-Nuha fi Syarh Ghayah al-Muntaha, &lt;/i&gt;dalam &lt;i&gt;al-Marja al-Kabir, &lt;/i&gt;(Syirkah al-Aris li Kumbutar, tt). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn21"&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftnref21" name="_ftn21" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; www.bapeda.pemda-diy.go.id/pustaka/&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:10;"&gt;pp_no_42_th_2006.pdf&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn22"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftnref22" name="_ftn22" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;[22]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Muhammad bin Idris asy-Syafi’i, &lt;i&gt;al-Umm, &lt;/i&gt;juz 7, hal. 249 &lt;span style="" lang="IN"&gt;dalam Kitab Digital &lt;i&gt;al-Marji’ al-Akbar, &lt;/i&gt;(Syirkah al-Aris li Kumbutar, tt). &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn23"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2636895042263018731&amp;amp;postID=7619153875644425877#_ftnref23" name="_ftn23" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;[23]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; http://www.bpkp.go.id/unit/hukum/uu/2001/22-01.pdf.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;div style="" id="ftn23"&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2636895042263018731-7619153875644425877?l=racheedus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://racheedus.blogspot.com/feeds/7619153875644425877/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/09/wakaf-air-dan-bahan-bakar-minyak-bbm.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/7619153875644425877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/7619153875644425877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/09/wakaf-air-dan-bahan-bakar-minyak-bbm.html' title='Wakaf Air dan Bahan Bakar Minyak (BBM)'/><author><name>Rasheed Redha</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02711158177502400218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SWDfAvyUEbI/AAAAAAAAAEw/-n5c93Zsy3o/S220/Sketsa+Wajah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2636895042263018731.post-7003970494261458437</id><published>2008-09-23T03:37:00.000-07:00</published><updated>2008-09-26T01:35:59.544-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Islam'/><title type='text'>Tentang Kaum Liberal</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ada kecenderungan yang aneh di segelintir teman-teman yang menggumuli pemikiran Islam liberal dan sejenisnya. Kekaguman terhadap pemikiran-pemikiran Barat begitu kental sehingga terkadang mengenyampingkan sikap kritis. Di samping itu, kekaguman tersebut terkadang juga hatta mengebiri akidah Islam yang selama ini diyakini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ketika Nashr Abu Zaid menghalalkan praktek homoseksual, maka secara tidak langsung ia sesungguhnya mengamini pola pikir masyarakat Barat yang nota bene menganggap bahwa homoseksual adalah sesuatu yang normal, sesuatu yang merupakan hak individu yang harus dilindungi. Melarang homoseksual adalah sesuatu yang melanggar HAM. Dengan demikian, Abu Zaid berarti telah melempar jauh-jauh keyakinan sebagian besar umat Islam bahwa homoseksual adalah sesuatu yang diharamkan dalam Islam. Dengan kata lain, Abu Zaid berusaha untuk menampilkan Islam yang dia pahami sesuai dengan pola pikir dan gaya hidup orang Barat meskipun bertentangan dengan keyakinan umat Islam selama ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mungkin perlu dipertanyakan motivasi teman-teman liberal untuk terus mengkritisi ajaran-ajaran Islam. Jika benar motivasi itu adalah demi mencari kebenaran dan meneguhkan keimanan, kenapa yang justeru terjadi adalah keraguan bahkan ketidakpercayaan kepada kebenaran ajaran-ajaran Islam yang selama ini diyakini dan diimani? Jika motivasi itu adalah untuk kepentingan duniawi, seperti agar mendapat dana beasiswa dari negara-negara barat, sungguh hal itu adalah suatu bentuk pelacuran intelektual. Jika motivasinya adalah agar Islam bisa tampil sebagai agama yang humanis, damai, toleran, dan sebagainya, maka hal itu perlu dikaji lebih dalam lagi. Apakah betul motivasi betul-betul tulus? Apakah ada agenda tersembunyi agar Islam tidak menjadi agama yang berada di garda depan untuk menentang ketidakadilan negara-negara Barat?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kenapa orang-orang Barat harus repot-repot meributkan orang-orang Islam di beberapa negara Islam yang hendak menerapkan syariat Islam? Jika negara-negara Barat bersikap adil dan toleran terhadap negara-negara Islam, tentu hal itu tidak perlu terjadi. Lihat saja, betapa banyak ketidakadilan yang diciptakan oleh neokolonialisme Barat. Negara-negara Islam tidak boleh membuat nuklir, tetapi negara-negara Barat boleh membuatnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2636895042263018731-7003970494261458437?l=racheedus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://racheedus.blogspot.com/feeds/7003970494261458437/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/09/tentang-kaum-liberal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/7003970494261458437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/7003970494261458437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/09/tentang-kaum-liberal.html' title='Tentang Kaum Liberal'/><author><name>Rasheed Redha</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02711158177502400218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SWDfAvyUEbI/AAAAAAAAAEw/-n5c93Zsy3o/S220/Sketsa+Wajah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2636895042263018731.post-1897144033234360494</id><published>2008-09-21T07:01:00.000-07:00</published><updated>2008-09-26T01:35:59.544-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Islam'/><title type='text'>Renungan Puasa</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sebagaimana ibadah yang lain, seperti shalat, puasa juga memiliki sisi batin yang hanya sedikit orang yang mampu menembusnya. Pada shalat, orang yang betul-betul merasakan khusyuk pada akhirnya bisa mencapai mikraj, bertemu dengan Tuhan. Pada titik itulah, shalat tidak lagi dirasakan sebagai kewajiban rutin lahiriah yang berat dan menjemukan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dalam puasa, hanya sedikit orang-orang yang bisa melewati tahapan lahiriah: tidak makan, minum, dan berhubungan seksual. Puasa betul-betul menjadi sesuatu yang membuat seseorang bisa melayang-layang dengan ringannya laksana kapas. Ia tidak lagi terbelenggu oleh jerat lahiriah: lapar, haus, lemas. Ia telah menembus lapisan lahiriah dari puasa. Ia memasuki dimensi batiniah yang justru membebaskannya. Ia dengan merdeka beraktifitas tanpa direcoki oleh keinginan lahiriah seperti makan, minum, nafsu seksual,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan lain-lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Memang tidak mudah bagi seorang yang berpuasa untuk bisa lepas dari jerat lahiriahnya. Lagi-lagi, ia mungkin hanya tersiksa oleh lapar, haus, dan lemas. Ia tidak mampu menukik lebih dalam dengan jiwanya sehingga puasa dirasakan sebagai sesuatu kenikmatan spiritual yang tiada tara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Namun, Allah juga Maha Tahu dengan para hamba-Nya. Ketika sebagian besar hamba-Nya hanya berhenti pada tahapan lahiriah dalam beribadah, termasuk puasa, maka ibadah mereka pun tetap diterima-Nya. Ibadah mereka mempunyai makna dan memperoleh pahala di sisi-Nya. Paling tidak, dengan lapar dan dahaga seseorang bisa merasakan betapa susahnya orang-orang papa yang sedang kesulitan rezeki. Dengan lapar dan dahaga, ia diharapkan merasakan arti solidaritas sosial. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kita seharusnya terus menuju ke arah ibadah yang lebih baik, tidak hanya berhenti pada tahapan-tahapan lahiriah. Hal itu karena tahapan-tahapan lahiriah sering kali justru dirasakan berat dan menjemukan. Apalagi jika tidak disertai oleh keikhlasan dan keimanan kepada Tuhan, yang telah memerintahkan ibadah tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2636895042263018731-1897144033234360494?l=racheedus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://racheedus.blogspot.com/feeds/1897144033234360494/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/09/renungan-puasa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/1897144033234360494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/1897144033234360494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/09/renungan-puasa.html' title='Renungan Puasa'/><author><name>Rasheed Redha</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02711158177502400218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SWDfAvyUEbI/AAAAAAAAAEw/-n5c93Zsy3o/S220/Sketsa+Wajah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2636895042263018731.post-8942202189941429204</id><published>2008-09-20T00:21:00.000-07:00</published><updated>2008-09-26T01:35:59.545-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Islam'/><title type='text'>Pernikahan Lintas Agama di Mataku</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Islam merupakan agama yang mempunyai misi penyelamatan terhadap alam semesta. Islam sendiri, salah satu artinya, adalah keselamatan yang diambil dari akar kata &lt;i&gt;salam. &lt;/i&gt;Karena itulah, ajaran-ajaran Islam pun bermuara pada tujuan untuk memberikan keselamatan bagi para pemeluknya, bahkan alam semesta di sekelilingnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Keselamatan yang dimaksud tersebut tentu saja harus dimaknai secara luas, tidak hanya selamat secara fisik, tapi juga secara mental dan psikologis; selamat di dunia dan akhirat. Salah satu makna keselamatan yang menjadi tujuan Islam itu adalah bahwa agar jangan sampai para pemeluk agama Islam terperosok ke dalam berbagai persoalan-persoalan yang justru akan merugikan dirinya. Agar tidak terjadi demikian, Islam pun menetapkan ajaran-ajarannya sebagai tindakan preventif &lt;i&gt;(sadd adz-dzari’ah) &lt;/i&gt;sehingga orang Islam pun tidak sampai terjerumus ke dalam berbagai masalah dan musibah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Karena tujuan penyelamatan itulah, Allah tidaklah bermaksud untuk mengekang kebebasan manusia dan menzalimi mereka saat Ia menetapkan hukum-hukum-Nya. Dengan sifat kasih sayang-Nya, Tuhan justru hendak menyelamatkan manusia saat menetapkan aturan-aturan-Nya. Tapi, andaikan manusia bersikukuh tidak menyetujui dan tidak mempercayai atau bahkan tidak mengikuti aturan-aturan-Nya, Tuhan tetaplah Tuhan. Tidak sedikit pun berkurang kekuasaan dan rahmat-Nya kepada manusia. Kekuasaan dan kedudukan-Nya sebagai Tuhan tidak bergeming sedikit pun hanya karena ada manusia yang tidak menyetujui aturan-aturan-Nya. Kalau Tuhan mau, Ia pun Maha Kuasa untuk menciptakan semua manusia untuk taat kepada-Nya sebagaimana seperti yang terjadi pada malaikat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dalam konteks itulah, maka saya pun memahami ayat: &lt;i&gt;janganlah kalian menikahkan para perempuan mukmin dengan para lelaki musyrik. &lt;/i&gt;Orang-orang Katolik yang terdapat di Indonesia sepengetahuan saya meyakini bahwa Isa adalah juga Tuhan selain Allah. Padahal Islam meyakini bahwa Isa adalah hanya sekedar nabi pembawa pesan-pesan Tuhan. Meyakini bahwa ada tuhan lain selain Allah adalah jelas-jelas bentuk syirik dalam Islam. Dengan demikian, orang yang meyakini itu adalah tergolong musyrik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Adapun ayat lain yang menyatakan bahwa &lt;i&gt;perempuan terhormat dari ahli kitab adalah halal untuk dinikahi&lt;/i&gt;, maka ayat itu adalah saling melengkapi. Dalam penalaran saya, hal itu bisa dipahami bahwa sepanjang ahli kitab tidak musyrik dengan meyakini adanya tuhan lain selain Allah, maka tentu saja ia halal untuk dinikahi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Namun yang juga harus digarisbawahi bahwa yang dihalalkan dalam ayat itu adalah pernikahan antara seorang perempuan ahli kitab dengan seorang lelaki mukmin, dan bukan sebaliknya pernikahan antara seorang lelaki ahli kitab dengan seorang perempuan mukmin. Tidak ada preseden yang pernah terjadi di zaman Nabi dan para sahabat bahwa seorang lelaki musyrik dibolehkan mengawini seorang perempuan mukmin. Bahkan, Nabi justru menyuruh mereka untuk bercerai jika seorang perempuan masuk Islam sementara sang suami masih seorang musyrik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Memaksakan diri untuk menikah dengan seseorang yang berbeda agama adalah sebuah bentuk egoisme. Orang tua beda agama yang menikah tidak memperhitungkan betapa mental anaknya akan terganggu saat melihat kedua orang tuanya berbeda keyakinan. Sang anak akan terjerat dalam kebingungan ketika harus memilih keyakinan siapa di antara keduanya. Padahal sang anak belum saatnya untuk dihadapkan persoalan pelik seperti itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tujuan perkawinan dalam Islam adalah untuk menciptakan ketenteraman dan suasana hati yang tenang &lt;i&gt;(sakinah). &lt;/i&gt;Setelah itu, baru kemudian &lt;i&gt;mawaddah (cinta seksual), &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;rahmah &lt;/i&gt;(kasih sayang). Apatah artinya ketenangan jika setiap hari dalam rumah tangga kita harus bertarung dengan jiwa sendiri karena melihat perbedaan keyakinan yang begitu mencolok? Bagaimana bisa tercapai ketenangan dalam keluarga jika sang suami dan istri yang berbeda keyakinan saling berebut pengaruh terhadap anaknya untuk menanamkan keyakinan masing-masing? Banyak hal yang mungkin tidak terpikirkan dengan matang saat kedua insan yang berbeda keyakinan memilih untuk menikah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Islam tidak memandang pernikahan sebatas kontrak antara dua orang, suami istri semata. Dengan kata lain, pernikahan dalam Islam tidaklah semata bersifat individual antara kedua suami istri. Namun pernikahan yang dikehendaki Islam, sebagaimana yang saya pahami, adalah yang juga melibatkan orang lain, termasuk di dalamnya orang tua kandung masing-masing suami dan istri, mertua, dan masyarakat di sekelilingnya. Keterlibatan orang lain bukan dalam arti mencampuri urusan rumah tangga orang lain sehingga merusak kebahagiaan mereka. Namun keterlibatan itu adalah justru guna mencapai kebahagiaan bagi kedua suami istri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Keterlibatan itu pula bisa dilihat bahwa Islam, kecuali mazhab Hanafi, mewajibkan pernikahan harus menggunakan wali bagi si calon pengantin perempuan. Orang tua yang baik tentu harus mengetahui dengan siapa anak perempuannya menikah. Apakah calon suami betul-betul hendak membahagiakan anaknya atau justru menyengsarakannya. Hal itu menunjukkan betapa penting kedudukan wali dalam pernikahan.  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu a'lam.&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2636895042263018731-8942202189941429204?l=racheedus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://racheedus.blogspot.com/feeds/8942202189941429204/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/09/pernikahan-lintas-agama-di-mataku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/8942202189941429204'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/8942202189941429204'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/09/pernikahan-lintas-agama-di-mataku.html' title='Pernikahan Lintas Agama di Mataku'/><author><name>Rasheed Redha</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02711158177502400218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SWDfAvyUEbI/AAAAAAAAAEw/-n5c93Zsy3o/S220/Sketsa+Wajah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2636895042263018731.post-6162518888375775424</id><published>2008-09-19T11:28:00.000-07:00</published><updated>2008-09-26T01:35:59.545-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Islam'/><title type='text'>Ulasan Hadis tentang Perceraian</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;A.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Matan Hadis &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 42pt; text-indent: -24pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Matan Abu Daud&lt;a style="" href="#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin: 0cm -2.25pt 0.0001pt 41.95pt; text-align: justify; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;حَدَّثَنَا&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;كَثِيرُ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;بْنُ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;عُبَيْدٍ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;حَدَّثَنَا&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;مُحَمَّدُ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;بْنُ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;خَالِدٍ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;عَنْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;مُعَرِّفِ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;بْنِ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;وَاصِلٍ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;عَنْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;مُحَارِبِ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;بْنِ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;دِثَارٍ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;عَنْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;ابْنِ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;عُمَرَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;عَنْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;النَّبِيِّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;صَلَّى&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;اللهُ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;عَلَيْهِ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;وَسَلَّمَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;قَالَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;أَبْغَضُ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;الْحَلاَلِ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;إِلَى&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;اللهِ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;تَعَالَى&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;الطَّلاَقُ. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 3.85pt 0.0001pt 42pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 3.85pt 0.0001pt 42pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Artinya: Kami (Abu Daud) mendapatkan cerita dari Kasir bin Ubaid; Kasir bin Ubaid diceritakan oleh Muhammad bin Khalid dari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Muhammad bin Khalid dari Mu’arraf in Washil dari Muharib bin Ditsar; dari Ibnu Umar dari Nabi SAW yang bersabda:”Perkara halal yang paling dibenci Allah adalah perceraian.” &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 3.85pt 0.0001pt 42pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 42pt; text-indent: -24pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Matan Ibnu Majah&lt;a style="" href="#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin: 0cm -2.25pt 0.0001pt 41.95pt; text-align: justify; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;حَدَّثَنَا&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;كَثِيرُ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;بْنُ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;عُبَيْدٍ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;الْحِمْصِيُّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;حَدَّثَنَا&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;مُحَمَّدُ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;بْنُ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;خَالِدٍ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;عَنْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;عُبَيْدِ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;اللَّهِ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;بْنِ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;الْوَلِيدِ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;الْوَصَّافِيِّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;عَنْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;مُحَارِبِ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;بْنِ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;دِثَارٍ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;عَنْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;عَبْدِ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;اللَّهِ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;بْنِ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;عُمَرَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;قَالَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;قَالَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;رَسُولُ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;اللَّهِ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;صَلَّى&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;اللَّهُ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;عَلَيْهِ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;وَسَلَّمَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;أَبْغَضُ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;الْحَلَالِ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;إِلَى&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;اللَّهِ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;الطَّلَاقُ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;B.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Para Perawi &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 42pt; text-indent: -24pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kasir bin Ubaid (w. 250 H.)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 42pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tingkatan perawi: tepercaya &lt;i&gt;(tsiqah)&lt;/i&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 42pt; text-indent: -24pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Muhammad bin Khalid &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 42pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tingkatan perawi: dipercaya &lt;i&gt;(shaduq)&lt;/i&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 42pt; text-indent: -24pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mu’arraf bin Washil&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 42pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tingkatan perawi: tepercaya &lt;i&gt;(tsiqah)&lt;/i&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 42pt; text-indent: -24pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Muharib bin Ditsar (w. 116 H)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 42pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tingkatan perawi: tepercaya &lt;i&gt;(tsiqah)&lt;/i&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 42pt; text-indent: -24pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ibnu Umar (w. 73 H) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 42pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tingkatan perawi: sahabat/tepercaya &lt;i&gt;(tsiqah)&lt;/i&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 42pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;C.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tingkatan Hadis &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 42pt; text-indent: -24pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Al-Hakim: sahih &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 42pt; text-indent: -24pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Al-Baihaqi: sahih &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 42pt; text-indent: -24pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Al-Khatthabi: masyhur &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 42pt; text-indent: -24pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Al-Munziri: mursal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 42pt; text-indent: -24pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Al-Albani: dhai’f &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 42pt; text-indent: -24pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Abu Hatim: mursal pada Muharib bin Ditsar karena ia tidak menyebutkan dari Ibnu Umar, langsung ke Nabi Muhammad.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 42pt; text-indent: -24pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;7.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Hasil penelitian: sahih. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;D.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Asbab al-Wurud &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 24pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Menurut riwayat yang paling valid, hadis ini berkaitan dengan peristiwa Abdullah bin Umar yang menikahi seorang perempuan yang ia cintai. Namun, sang ayah, Umar bin Khattab tidak menyukai anaknya itu menikahi sang perempuan. Abdullah pun mengadukan hal tersebut kepada Nabi SAW. Nabi SAW lantas mendoakan Abdullah, kemudian bersabda, “Ya, Abdullah, ceraikan istrimu itu!” Akhirnya, Abdullah pun menceraikan sang istri.&lt;a style="" href="#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;E.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Syarah Hadis &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 24pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Menurut al-Asqallani perceraian yang dibenci adalah perceraian yang terjadi karena tidak ada sebab yang jelas.&lt;a style="" href="#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Menurut al-Khattabi, maksud dibencinya perceraian itu karena adanya sesuatu hal yang menyebabkan terjadi perceraian tersebut, seperti perlakuan yang buruk dan tidak adanya kecocokan. Jadi yang dibenci bukanlah perceraian itu sendiri, tapi hal lain yang menyebabkan terjadi perceraian. Allah sendiri membolehkan perceraian. Di samping itu, Nabi juga pernah menceraikan beberapa istri beliau, meski ada yang beliau rujuk kembali.&lt;a style="" href="#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 24pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Paralel dengan perceraian, dalam syariat Islam juga terdapat sesuatu yang halal, tapi dibenci. Hal itu seperti seseorang melaksanakan shalat di rumah, padahal tidak ada alasan yang membuatnya tidak bisa shalat di masjid. Begitu pula seperti melaksanakan jual beli di saat berkumandang azan Jum’at. Di sisi lain, setan memang paling menyukai terjadinya perceraian antara suami istri padahal perceraian merupakan sesuatu yang paling dibenci oleh Allah.&lt;a style="" href="#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 24pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Menurut Imam Nawawi, perceraian ada empat macam, yaitu wajib, haram, makruh,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan mandub (sunah).&lt;a style="" href="#_ftn7" name="_ftnref7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Wajib&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; jika pejabat berwenang telah mengutus dua orang juru damai &lt;i&gt;(hakam) &lt;/i&gt;untuk mendamaikan, tapi setelah diupayakan ternyata menurut mereka berdua yang terbaik &lt;i&gt;(maslahat) &lt;/i&gt;adalah bercerai, maka perceraian adalah wajib. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Makruh&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; jika tidak terjadi masalah dalam rumah tangga, tapi salah satu suami atau istri menuntut cerai tanpa ada sebab yang jelas. Inilah yang dimaksud dengan hadis di atas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Haram&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; jika (1) istri dalam keadaan haid sedangkan ia tidak menuntut cerai dengan ganti rugi dan tidak ada permintaan untuk diceraikan; (2) istri dalam keadaan suci dan sudah “digauli” oleh suami namun belum jelas apakah istri hamil atau tidak; (3) jika suami memiliki beberapa orang istri yang telah diatur giliran masing-masing; lantas suami menceraikan salah satu istrinya sebelum ia menunaikan giliran untuk istri tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mandub&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; jika sang istri tidak bisa menjaga kehormatan dirinya atau salah satu atau dua-duanya merasa tidak bisa menjalankan kewajiban yang telah diatur oleh syara’. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 24pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dalam &lt;i&gt;Umdah al-Qari, &lt;/i&gt;diungkapkan perceraian ada dua macam, yaitu &lt;b&gt;&lt;i&gt;sunni&lt;/i&gt; &lt;/b&gt;dan &lt;b&gt;&lt;i&gt;bid’i&lt;/i&gt;.&lt;/b&gt; Perceraian &lt;i&gt;sunni&lt;/i&gt; adalah perceraian yang terjadi di saat istri dalam keadaan suci dan selama dalam keadaan suci tersebut, istri tidak pernah disetubuhi oleh suami; serta perceraian itu disaksikan oleh dua orang saksi. Perceraian &lt;i&gt;bid’i &lt;/i&gt;adalah perceraian yang terjadi di saat istri dalam keadaan haid; atau dalam keadaan suci tapi sudah pernah disetubuhi; atau tidak disaksikan oleh dua orang saksi.&lt;a style="" href="#_ftn8" name="_ftnref8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;br /&gt;  &lt;hr align="left" size="1" width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;Sunan Abi Daud, &lt;/i&gt;juz 6, hal. 227.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;Sunan Ibnu Majah, &lt;/i&gt;juz 1, hal. 650.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn3"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Fath al-Bari, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;juz 10, hal. 447&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan ‘&lt;i&gt;Aun al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud&lt;/i&gt;, juz 6, hal. 226.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn4"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Fath al-Bari, ibid. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn5"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Aun al-Ma’bud., loc. cit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn6"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref6" name="_ftn6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mirqah al-Mafatih, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;juz 6, hal. 420.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn7"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref7" name="_ftn7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Syarh an-Nawawi li Sahih Muslim, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;juz 10, hal. 52. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn8"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref8" name="_ftn8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Umdah al-Qari bi Syarh Sahih al-Bukhari, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;juz 20, hal. 225.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2636895042263018731-6162518888375775424?l=racheedus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://racheedus.blogspot.com/feeds/6162518888375775424/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/09/ulasan-hadis-tentang-perceraian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/6162518888375775424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/6162518888375775424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/09/ulasan-hadis-tentang-perceraian.html' title='Ulasan Hadis tentang Perceraian'/><author><name>Rasheed Redha</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02711158177502400218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SWDfAvyUEbI/AAAAAAAAAEw/-n5c93Zsy3o/S220/Sketsa+Wajah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2636895042263018731.post-960349765575006918</id><published>2008-09-19T10:18:00.000-07:00</published><updated>2008-09-26T01:35:12.621-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial Budaya'/><title type='text'>Fenomena Tayangan Ramadhan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Saat ini, kita dihujani oleh banyak sinetron yang bertema Ramadhan. Banyak &lt;i&gt;Production House&lt;/i&gt; (PH) berlomba memproduksi tayangan, baik berupa sinetron, komedi, talk show, dan lain, yang mengusung tema-tema religius. Tentu saja tak ketinggalan, mereka juga menampilkan para sinetron yang cantik dan ganteng untuk terlibat dalam tayangan-tayangan tersebut. Hampir semua stasiun televisi berupaya menanggung rezeki dengan menyuguhkan tayangan-tayangan rutin setiap tahun itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 30pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ada yang sedikit mengusik hati saya dalam tayangan-tayangan tersebut. Mungkin juga keterusikan itu tidak hanya dialami oleh diri saya. Mungkin saja banyak orang yang merasakannya. Tengok saja, sinetron atau komedi yang ada di beberapa stasiun televisi. Mereka yang sebelumnya menjalani kehidupan mereka sebagai artis yang glamour, tiba-tiba merubah penampilan mereka menjadi berkerudung, berjilbab, mengenakan surban dan kopiah. Penampilan mereka sungguh bertolak belakang dengan kehidupan mereka di luar Ramadhan. Kita seolah melihat sekumpulan orang bertopeng yang menutupi jati diri mereka yang sebenarnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 30pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ambil contoh, Nia Ramadhani, artis remaja yang beberapa bulan lalu dihebohkan dengan fotonya yang begitu seksi. Dalam foto itu, Nia mengenakan baju renang dipangku oleh dua orang laki-laki. Foto itu tersebar luas di internet. Dalam keseharian pun, Nia tidak pernah terlihat mengenakan jilbab atau kerudung. Namun, saat di bulan Ramadhan, dengan santun, ia mengenakan jilbab dalam sebuah sinetron. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 30pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Contoh lain, Titi Kamal. Artis cantik yang selama ini sering mengenakan pakaian dengan dada terbuka. Di samping itu, ia pun terlibat hubungan asmara dengan seorang artis beken nan ganteng, Christian Sugiono, yang notabene non muslim. Nah, saat di bulan Ramadhan, tak ketinggalan, Titi Kamal menjadi seorang perempuan yang dengan anggun mengenakan busana jilbab dalam sinetron &lt;i&gt;Muslimah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 30pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 30pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Profesi Artis (Mestinya) juga Bagian Ibadah &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 30pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Apa yang bisa kita renungkan dengan fenomena ini? Dari sudut pandang dunia film, memang adalah sesuatu yang wajar bagi seorang artis untuk memerankan apapun peran yang ada di film. Dengan alasan profesionalitas, seorang artis rela memamerkan aurat demi tuntutan peran. Sebaliknya, seorang artis pun dengan begitu anggun mengenakan jilbab di dalam sinetron, meskipun dalam kehidupan sehari-harinya ia tidak pernah mengenakan jilbab. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 30pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sejatinya, kehidupan dunia adalah panggung luas tempat kita memerankan peranan yang mestinya disesuaikan dengan skenario yang telah dibuat oleh Sang Pencipta. Seseorang saat melakukan sesuatu apapun, termasuk profesi di dunia &lt;i&gt;entertainment&lt;/i&gt;, adalah bentuk ibadah atau pengabdian kepada Sang Maha Sutradara, Tuhan Yang Maha Indah. Karena sebagai ibadah itulah, seseorang harus menyesuaikan tingkah lakunya, termasuk saat ia bekerja sebagai artis, dengan tuntutan perannya sebagai hamba Sang Kuasa. Ketika Tuhan memerintahkan wanita untuk memelihara kehormatan dirinya dengan menutup aurat, maka perintah itu pun berlaku saat ia bekerja di dunia akting. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 30pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Selain sebagai ibadah, seseorang muslim mestinya juga menempatkan segala aktivitas di tengah masyarakat, termasuk saat ia bekerja di dunia akting, dalam kerangka pembelajaran atau dakwah kepada masyarakat. Karena itulah, saat seorang artis muslim memainkan perannya di dunia film, saat itu pula ia seyogianya menjadikan perannya itu sebagai bentuk contoh bagi masyarakat. Begitu pula saat ia memerankan sebagai seorang muslimah yang dengan taat menjalankan ajaran-ajaran agama, termasuk dengan mengenakan jilbab. Berbusana dengan jilbab adalah bentuk pesan kepada masyarakat bahwa seperti itulah seorang muslimah seharusnya berbusana dalam kehidupannya sehari-hari. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 30pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Lantas bagaimana jadinya, jika pesan itu disampaikan oleh seorang artis yang sehari-harinya justru tidak pernah mengenakan jilbab dan jarang shalat, misalnya? Hal itu seolah menjadi sebuah kemunafikan yang begitu mengiris hati bagi masyarakat yang menonton tayangan-tayangan tersebut. Seolah tidak &lt;i&gt;nyambung &lt;/i&gt;antara pesan yang ingin disampaikan oleh sang artis dengan perilakunya sehari-hari. Jika, sudah demikian, mungkin agak berlebihan jika kita mengharapkan tujuan penting tayangan Ramadhan sebagai media dakwah bisa tercapai. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 30pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Tapi, mungkin pula, bagi para produser pemilik PH itu, tujuan dakwah tidaklah termasuk dalam kalkulasi bisnis mereka. Momen Ramadhan tak lebih dari sekedar ajang bisnis yang bisa digunakan untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Apalagi kebanyakan para pemilik PH yang besar bukanlah orang muslim. Dengan demikian, bagaimana mungkin, mengharapkan mereka sudi menggarap tayangan-tayangan yang memang sesuai dengan ajaran Islam? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 30pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mungkin yang termasuk dalam kalkulasi mereka adalah bagaimana menampilkan artis cantik atau ganteng yang sedang naik daun agar tayangan produksi mereka bisa laris di pasaran. Persetan amat apakah para artis itu dalam kehidupan sehari-harinya menjalankan ajaran agamanya atau tidak. Bahkan justru terkadang artis yang dipakai pun adalah mereka yang non muslim yang tidak mengerti apa-apa tentang Islam. Sungguh ironis memang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 30pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Hal ini tentu bisa menjadi PR besar bagi para sineas muslim yang masih memiliki spirit dakwah. Mungkin kita tidak perlu terlampau berkecil hati dengan fenomena tersebut. Betapapun, Dedi Mizwar, dengan sinetron &lt;i&gt;Para Pencari Tuhan, &lt;/i&gt;sudah mampu menelurkan sinetron berkualitas yang sedikit banyak sesuai dengan tuntunan agama. Memang seyogianya, para pemain sinetron religius itu berperan sebagai para penyampai pesan agama yang mereka sendiri sudah melakukan pesan itu terhadap diri mereka sendiri. Dengan demikian, sinetron tidak hanya menampilkan para artis secara asal-asalan: yang penting cantik dan ganteng.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 30pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 30pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Musik Ramadhan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 30pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dalam jagat musik pun, momen Ramadhan betul-betul menjadi bahan garapan para pemusik. Seolah latah, para pemusik berbondong-bondong meliris album religius yang mengagungkan Tuhan. Kita seolah menonton orang-orang yang menyeru keagungan Tuhan, namun mereka sendiri justru mengkhianati Tuhan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Bagaimana tidak dikatakan mengkhianati Tuhan, jika dalam kehidupan sehari-hari mereka jarang atau tidak pernah menjalankan perintah-perintah Tuhan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 30pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pesan religius yang dibuat oleh para pemusik tersebut, tentu saja akan menjadi berkurang maknanya jika sang pemusik sendiri tidak melaksanakannya di kehidupan mereka sehari-hari. Bagaimana para pendengar mau tergerak untuk mengagungkan Tuhan, jika para pemusik itu sendiri diketahui masyarakat sebagai orang-orang yang tidak menjalankan ajaran-ajaran Tuhan dengan baik?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 30pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tapi ada baiknya pula kita harus ber-&lt;i&gt;husnuzhan, &lt;/i&gt;berpandangan positif. Mudah-mudahan karya musik mereka betul-betul bisa memberikan inspirasi bagi para pendengarnya untuk tunduk kepada Yang Maha Kuasa. Tapi, sebelum kepada para pendengar yang menikmati karya musik mereka, terlebih dahulu seruan lirik yang mereka buat adalah pesan untuk mereka sendiri. &lt;i&gt;Wallahu a’lam. &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 30pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  lang="IN" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2636895042263018731-960349765575006918?l=racheedus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://racheedus.blogspot.com/feeds/960349765575006918/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/09/fenomena-tayangan-ramadhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/960349765575006918'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2636895042263018731/posts/default/960349765575006918'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://racheedus.blogspot.com/2008/09/fenomena-tayangan-ramadhan.html' title='Fenomena Tayangan Ramadhan'/><author><name>Rasheed Redha</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02711158177502400218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_my3MHGpe-qQ/SWDfAvyUEbI/AAAAAAAAAEw/-n5c93Zsy3o/S220/Sketsa+Wajah2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
