Selasa, 30 September 2008

Dan Tuhan pun Berlebaran


Oleh: Abdul Kholiq
Lebaran berarti lebar, lebur, luber yang notabene merupakan sifat Allah Yang Maha Pengampun bagi manusia yang memang banyak membuat kekeliruan terhadap sesamanya, Penciptanya, dan bumi yang disediakan untuk mereka. Kalau kita melihat kecenderungan manusia dalam kehidupannya, kita menyadari bahwa mungkin manusia memang layak dihukum oleh Allah. Akibat kelalaian dan kecerobohan yang dibuat manusia, Allah pun punya banyak alasan untuk memberikan manusia hukuman yang setimpal. Tapi Gusti Allah sangat lebur; artinya memaafkan, mengampuni. Dalam Quran pun dinyatakan, Allah memiliki sifat ghafur artinya mengampuni, memaafkan. Jika Gusti Allah tidak memiliki sifat ghafur, manusia tentu dalam kehancuran. Dan manusia pun harus bisa memaknai segala sifat ketuhanan untuk bisa diterapkan pada kehidupan sesamanya. Pemaknaan itu dengan cara bahwa pengampunan harus melewati proses kesadaran dan pengakuan bahwa ia telah melakukan kekeliruan dan bersedia untuk memperbaiki kekeliruan tersebut. Jika kita telah mengambil sepatu milik teman kita, cara maaf adalah mengembalikan sepatu itu pada teman kita, meskipun tidak cukup dengan mohon maaf saja. Begitu juga kesalahan-kesalahan yang dibikin manusia terhadap Tuhannya. Manusia harus bersedia menggantikan kekeliruan yang dibuatnya dengan segala kesadaran untuk tidak mengulanginya lagi. Maka Tuhan pun akan melebur kesalahan-kesalahan dengan menggantikan jalan-jalan kemudahan bagi manusia.
Lebaran bagi banyak kalangan hanya sanggup dimaknai dengan baju baru dan bersilaturahmi. Mereka belum sampai untuk bisa menukik jauh ke dalam, menyelinap di balik makna-makna lebaran. Memang banyak manusia kurang berminat untuk menikmati keindahan makna-makna yang terkandung dalam setiap hal yang bersentuhan dengan dirinya. Lebih banyak hanya bisa dinikmati secara fisik ketimbang secara rohani, yang sebenarnya jauh lebih nikmat ketimbang menikmati baju-baju baru. Kita pun menyadari betapa sedikitnya penikmat jalan-jalan rohani. Di sisi lain, saat ini sedang terjadi proses pendangkalan dan pembusukan pada berbagai hal, karena ukuran-ukuran yang sering digunakan adalah ukuran seragam, peci, baju, titel haji, gelar akademik, yang sangat memungkinkan terjadi kekeliruan-kekeliruan fatal dalam penentuan sikap.
Idul Fitri --yang dirayakan jutaan orang dengan biaya yang tidak sedikit-- kurang bisa dimaknai dengan kecerdasan yang memadai. Seluruh manusia hiruk-pikuk merayakan dengan berbagai kegiatan, termasuk mega takbiran yang diselenggarakan pemerintah. Mereka menyangka bahwa dengan menyerukan takbir seantero langit, Tuhan pun merasa senang. Tapi Gusti Allah yang seharusnya diagungkan justru tidak dibesarkan bahkan dilupakan. Jika mereka, pemerintah, hendak berlebaran berarti lebar. Artinya, seharusnya mereka selesai dan rampung dari cara-cara untuk merampok kesejahteraan rakyat lantas memperbaiki kinerja yang masih amburadul; melihat kebijakan yang sedang berlangsung yang memungkinkan untuk rakyat bisa merasakan berlebaran sepanjang kehidupan bangsa; bukan hanya berlebaran sesaat; bergembira saat pulang kampung bertemu dengan sanak saudara; dan melupakan sesaat keresahan hidup. Memang tampaknya bangsa Indonesia tidak pernah berlebaran sesungguhnya,
Lebaran pun dijadikan sebagai ajang mengalihkan kegelisahan masyarakat urban yang tidak menemukan arti lebaran yang sesungguhnya. Hal itu karena kebijakan penguasa hanya seperti baju leberan, yang dipakaikan untuk orang yang sakit dan bukan mengobatinya agar sehat. Dengan membeli baju baru, mereka mengira hal itu bisa melupakan sakit mereka. Bangsa ini sedang melakukan penghancuran diri sendiri; memiskinkan diri sendiri; dengan merendahkan kebesaran-Nya. Dan yang paling mendasar, mereka tidak mengerti akan kebesaran-Nya.
Baca selanjutnya..

Senin, 29 September 2008

Shalat Berjamaah: Latihan Kepemimpinan dalam Islam

Kemarin malam, saya shalat tarawih di mushalla belakang rumah saya. Yang menjadi imam adalah paman saya yang usianya hampir 70 tahun. Saya sendiri berdiri tepat di belakang beliau. Saat itu, saya akui saya kurang khusyuk dalam shalat. Ketika sang imam kurang rakaatnya, saya pun jadi ragu-ragu untuk mengingatkan beliau. Walhasil, shalat pun diakhiri dengan jumlah rakaatnya yang kurang dari semestinya. Dus kesalahan imam harus ditanggung oleh seluruh makmum shalat tarawih saat itu. Orang-orang pun mengkritik saya yang tidak mengingatkan sang imam. Ah, memang tidak mudah untuk senantiasa khusyuk dalam shalat.
Dari kejadian tersebut, saya pun jadi tercenung. Ya, mencermati bagaimana orang Islam melaksanakan shalat berjamaah, adalah suatu yang menarik. Dalam ibadah tersebut, tercermin bagaimana memilih seorang pemimpin; bagaimana sang pemimpin melaksanakan kepemimpinannya; bagaimana rakyat menghadapi pemimpin mereka.
Sungguh indah ibadah shalat berjamaah. Orang Islam tidak hanya dididik untuk mengagungkan Tuhan, tapi juga bagaimana ia bersikap di tengah masyarakat. Mari kita perhatikan baik-baik. Dalam hukum Islam, imam shalat berjamaah adalah dipilih dari orang terbaik yang memang layak untuk memimpin shalat. Ia harus memiliki pengetahuan agama yang cukup, memiliki bacaan yang fasih, suaranya keras, berperilaku yang baik, dan lain-lain.
Hal ini menunjukkan betapa Islam mengajarkan bahwa kita tidak boleh ceroboh dalam memilih pemimpin. Orang yang kita tunjuk sebagai pemimpin adalah orang berkualitas yang memang memiliki kualifikasi sebagai pemimpin yang baik. Pemimpin adalah orang yang betul-betul cakap, mampu, dan amanah untuk mengemban amanat dari rakyat.
Seorang imam dalam shalat berjamaah adalah juga seorang pemimpin yang harus ditaati oleh para makmumnya. Setiap perintah dan aba-aba sang imam harus diikuti oleh para makmum. Tidak boleh para makmum mendahului atau tidak segera mengikuti perintah yang diberikan sang imam. Hal ini menunjukkan betapa Islam mengajarkan kepada orang-orang Islam untuk menaati pemimpin mereka; menaati hukum yang telah ditetapkan oleh sang pemimpin.
Meski kita diajarkan untuk menaati sang pemimpin, shalat berjamaah juga mengajarkan bagaimana rakyat boleh bahkan harus mengoreksi sang pemimpin jika melakukan kesalahan. Dalam shalat berjamaah, jika seorang imam salah dalam membaca Surah Alquran atau keliru dalam jumlah rakaat, misalnya, maka para makmum harus menegurnya dengan cara tertentu, yaitu bagi laki-laki dengan cara mengucapkan “subhanallah” dan bagi perempuan dengan cara menepukkan tangan ke tubuhnya. Hal ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin bukanlah malaikat yang tidak bisa melakukan kesalahan. Bahkan suatu Nabi pun pernah kesalahan dalam shalat berjamaah, sehingga beliau ditegur para makmum, lantas melakukan sujud sahwi.
Adanya tata cara tertentu dalam mengoreksi imam menunjukkan bahwa mengoreksi pemimpin harus mengikuti cara-cara tertentu yang santun dan tidak sembarangan. Hal ini agar kepemimpinan tetap berjalan dengan baik, dan shalat tetap terus dilangsungkan. Ketika kesalahan telah diperbaiki, sang imam melakukan sujud sahwi di akhir shalat, sebagai pertanda bahwa ia memang telah melakukan suatu kesalahan. Hal ini juga menunjukkan betapa seorang pemimpin harus dengan lapang dada dan berjiwa besar mengakui kesalahannya dan menerima kritikan dari rakyatnya.
Kritikan atau teguran dalam shalat berjamaah dilakukan oleh orang-orang yang berada di shaf paling depan yang paling dekat dengan imam. Hal ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin harus dikawal oleh orang-orang yang cakap dan memiliki pengetahuan yang berada di sekelilingnya. Karena itulah, dalam shalat berjamaah, orang-orang yang berada di shaf paling depan mestinya adalah orang-orang yang pandai dan cakap yang betul-betul bisa mengerti bagaimana seharusnya shalat dilakukan. Dengan demikian, orang-orang itu betul-betul bisa mengetahui ketika terjadi kesalahan dilakukan oleh sang imam.
Nah hal ini juga menunjukkan betapa dalam sebuah masyarakat, para tokoh dan cendekiawan yang memiliki pengetahuan dan kecakapan harus berada di dekat pemimpin sehingga betul-betul bisa mengoreksi sang pemimpin jika terjadi kesalahan. Para pemimpin tidak boleh dikelilingi oleh orang-orang yang tidak cakap dan tidak mengerti bagaimana tugasnya. Jika para pembantu sang pemimpin terdiri dari orang-orang yang tidak cakap, maka masyarakat akan menjadi korban jika pemimpin melakukan kesalahan dan tidak ada yang bisa atau berani mengoreksinya.
Ketika seorang imam melakukan sesuatu yang bisa membatalkan shalatnya, misalnya, dengan berkentut, maka ia pun harus digantikan oleh orang yang berada di dekatnya yang memang cakap untuk menjadi imam pengganti. Sementara shalat berjamaah pun tetap terus bisa dilaksanakan. Hal ini menunjukkan betapa orang-orang yang berada di sekeling imam adalah orang-orang yang betul-betul mampu dan cakap sehingga jika terjadi sesuatu yang membuat sang pemimpin harus lengser dari kekuasaannya, mereka bisa menggantikannya tanpa harus menimbulkan kekacauan.
Karena shalat berjamaah memberikan peluang bagi para makmum untuk mengingatkan atau bahkan menggantikan sang imam, maka para makmum pun tidak boleh lengah atau mengantuk dalam mengawasi jalannya kepemimpinan sang imam. Hal ini menggambarkan bahwa Islam mengajarkan kepada orang-orang Islam agar tidak lengah dan lupa mengawasi jalannya pemerintahan. Orang-orang Islam tidak boleh larut dengan pikiran dan kepentingan mereka masing-masing sehingga melupakan bahwa mereka adalah bagian dari jamaah yang harus ikut mengawasi jalannya kepemimpinan. Tugas pengawasan ini terutama dilakukan oleh tokoh atau orang-orang pandai yang memang mengerti bagaimana seharusnya memimpin.
Ada satu hal lagi yang membuat ajaran shalat berjamaah menjadi begitu indah. Shalat berjamaah merupakan ajang latihan bagi kita untuk menjadi seorang pemimpin yang baik. Kita dilatih untuk mengasah jiwa kepemimpinan. Seorang imam dituntut mampu untuk memobilisasi orang-orang agar mau shalat berjamaah. Tentu tidak mudah untuk mengajak agar orang-orang rela melakukan shalat berjamaah. Betapapun orang per orang masing-masing memiliki ego dan kepentingan bermacam-macam. Mengajak melakukan shalat berjamaah berarti mengajak orang lain untuk melepaskan ego dan kepentingannya agar sudi menjadi makmum (pengikut) di bawah komando seorang imam (pemimpin). Jika kita berhasil mengajak orang lain untuk shalat berjamaah, maka kita sudah berhasil setapak untuk menjadi seorang pemimpin yang baik. Sebagai latihan awal, kita bisa membiasakan shalat berjamaah di lingkungan keluarga kita sendiri: istri dan anak sebagai para pengikut (makmum). .Jika kita sudah terbiasa menjadi pemimpin (imam) di lingkungan yang kecil, maka kita memiliki pengalaman untuk menjadi pemimpin di skala yang lebih besar.
Begitulah. Betapa indah ajaran Islam. Sayang sekali, orang-orang Islam sendiri banyak yang tidak menyadarinya. Wallahu a’lam.
Baca selanjutnya..

Sabtu, 27 September 2008

Perempuan Berbugil Ria

Perempuan yang membuka auratnya, bahkan hingga auratnya yang paling pribadi, merupakan perempuan pemberani. Pasukan berani malu! Sungguh, perempuan yang berani menggadaikan kehormatannya dengan harga sangat murah! Mengapa murah? Karena kehormatan perempuan memang sangat mahal sehingga tidak bisa diukur dengan materi. Apalah artinya uang jutaan dari hasil pemotretan foto bugil jika kemudian kehormatan sebagai perempuan lenyap dari dirinya.
Di belahan dunia yang paling sekuler dan liberal sekalipun, seorang wanita yang menghargai dan menghormati dirinya tidak akan memamerkan aurat tubuhnya di depan umum. Tanyakan saja, pada Hillary Clinton, apakah ia mau berfoto bugil di depan kamera lantas foto itu dipublikasikan ke khalayak umum. Aku yakin ia pasti menolak ide gila itu. Bukannya popularitas yang akan ia dapat guna menggapai impiannya sebagai presiden Amerika, tapi justru cacian dan makian yang justru semakin menjatuhkannya ke liang paling dasar dari bursa pencalonan presiden Amerika.
Mungkin ada yang berkata, “Terang aja, Hillary tidak mau. Dia kan merasa nggak cantik. Tidak seksi dan fashionable.” Meskipun Hillary Clinton seorang perempuan cantik, dulunya merupakan artis yang seksi, pernah difoto bugil, dan masih muda, tetap saja ia kini tidak akan mau mempertaruhkan reputasinya sebagai perempuan terhormat yang juga istri dari mantan seorang presiden. Saya yakin, ia tidak sudi memamerkan auratnya di muka umum layaknya para fotomodel Playboy atau Penthouse. Ia tidak akan bertindak konyol dengan mencampakkan peluangnya untuk menjadi presiden hanya karena foto bugil yang juga konyol. Masih dalam ingatan kita, betapa banyak hujatan dan cacian kepada Dewi Soekarno yang notabene mantan istri Presiden Soekarno. Saat itu dengan bangganya, Dewi Soekarno berfoto bugil ria dan dipublikasikan ke seantero jagat.
Dengan demikian, konsep aurat perempuan yang diperkenalkan oleh Islam, sebenarnya diakui pula oleh masyarakat di belahan manapun di muka bumi, termasuk negeri paling liberal dan sekuler sekalipun. Kebebasan seks dan kebebasan informasi ternyata tidak serta merta menghilangkan habis nurani manusia tentang arti menjaga aurat dan kehormatan diri.
Terkadang aku berpikir, betapa anehnya perempuan modern di masyarakat sekarang. Mereka berteriak tidak mau dilecehkan. Tapi di sisi lain, mereka dengan sukarela menjadikan dirinya sasaran pelecehan orang lain. Jika Dewi Persik tidak ingin dilecehkan, maka jagalah kehormatan dirinya; bungkuslah tubuhnya dengan sopan. Bukan dengan memamerkan lekuk-lekuk tubuhnya di depan banyak orang, termasuk para lelaki kurang ajar yang mudah terpancing berahinya. Sungguh tidak logis.
Aku pernah membaca koran tentang seorang artis Italia yang doyan berbugil ria di depan kamera, bahkan di depan banyak orang di tengah lapangan sepak bola jika klubnya berhasil menang. Tak ayal ia pun dikenal sebagai artis yang seksi dan mampu mengaduk-aduk berahi para lelaki yang melihatnya. Tentu saja logis, jika kemudian ada lelaki yang mengajaknya tidur bersama. Tentu saja masuk akal, jika kemudian banyak lelaki menganggapnya sebagai perempuan yang bisa diajak kencan. Karena itu, menjadi lucu jika kemudian sang artis itu mencak-mencak ketika ada beberapa pemain sepak bola terkenal yang mengajaknya bermain seks. Bukankah artis itu sendiri sudah menyediakan dirinya sendiri secara suka rela untuk dianggap sebagai perempuan murahan? Kenapa harus marah-marah?
Terkadang para feminis membantah bahwa hal itu karena kaum lelaki yang tidak bisa menghargai perempuan dan pikirannya sudah kotor. Kalau lelaki yang melihat seorang perempuan berpakaian seksi, tapi pikirannya tidak kotor dan melayang kemana-mana, tentu tidak akan terjadi masalah.
Sesungguhnya, menurutku, pendapat kaum feminis adalah sangat absurd. Apa yang terpikir oleh seorang lelaki di dalam otaknya juga merupakan refleksi dari apa yang dilihatnya. Ada prinsip sebab akibat, prinsip kausalitas. Adalah suatu hal yang lumrah jika lelaki akan terangsang jika melihat pemandangan yang mengaduk-aduk berahinya. Justru merupakan tidak normal, jika lelaki memandang perempuan yang berpenampilan seksi, namun tidak terangsang. Persoalannya kemudian, apakah rangsangan itu bisa dikendalikan oleh si lelaki atau tidak. Itu yang berbeda antara satu lelaki dengan lelaki lain.
Hukum Islam kuyakini bersifat universal, sangat manusiawi, rasional, dan alamiah. Hukum Islam menyuruh perempuan menutup auratnya dan menyuruh lelaki serta perempuan untuk menjaga penglihatannya. Hal itu karena sudah sangat jelas, aurat perempuan yang terbuka dan pandangan lelaki yang tidak dikendalikan adalah bisa menjadi sumber malapetaka. Pemerkosaan adalah harga yang mahal untuk menebus kebebasan yang diobral di masyarakat kita.

Perlu Dikasihani
Perempuan yang berbugil ria sebenarnya perlu dikasihani. Mengapa? Karena sesungguhnya ia telah merendahkan dirinya sendiri sehingga tak ubahnya seperti binatang. Ia telah melepaskan harkat dirinya sebagai manusia. Bagaimanapun, binatang tidak memerlukan baju. Binatang juga tidak memiliki rasa malu. Sesuai dengan naluri kebinatangannya, seekor binatang betina berperilaku menggoda sang pejantan. Sementara sang pejantan berusaha mendekati sang betina sehingga bisa memuaskan naluri berahi.
Begitupula dengan seorang perempuan yang membuka bajunya dan memamerkan auratnya. Sesungguhnya saat itu, ia tak ubahnya seekor binatang betina yang sedang menggoda sang pejantan. Binatang tidak memerlukan lembaga perkawinan untuk melampiaskan nafsu berahinya. Dengan demikian, manusia yang melakukan hubungan tidak dalam ikatan lembaga perkawinan, sesungguhnya mereka sedang meniru perilaku binatang. Atau paling tidak, mereka sedang kembali ke zaman manusia primitif yang memang tidak mengenal lembaga pernikahan.
Apa yang akan terjadi jika manusia sudah merendahkan dirinya sehingga ke derajat binatang? Kesengsaraan dan kehinaan. Makhluk yang berperilaku tidak sesuai dengan tujuan penciptaannya, maka sesungguhnya ia berperang melawan kodratnya. Peperangan itu hanya akan melahirkan kesengsaraan dan kehinaan. Bukankah manusia diciptakan agar ia bisa menjadi makhluk yang mulia di antara makhluk-makhluk Tuhan yang lain? Manusia telah dianugerahi akal, hati nurani, dan dipandu oleh kitab suci. Perangkat-perangkat itu bisa ia gunakan untuk mencapai derajat yang tinggi sebagai makhluk dan meraih kebahagiaan yang lebih hakiki.
Kebahagiaan bukanlah diukur dari kepuasan seksual. Jika kepuasan seksual adalah ukuran kebahagiaan, tentu saja para pelacur adalah orang-orang yang paling berbahagia di muka bumi ini. Dus, orang yang tidak menjalani kebahagiaan hidup seks bebas adalah orang yang paling tidak berbahagia. Tapi, lihatlah. Apakah para pelacur itu berbahagia dengan kebahagiaannya? Saya yakin, tidak. Betapa banyak pelacur yang meregang nyawa diterjang penyakit kelamin. Betapa banyak pelacur yang hidup terlunta-lunta di hari tuanya karena telah mengukir kehinaan di jidatnya dengan perbuatan lacurnya. Justru kebahagiaan yang sebenarnya adalah ketika manusia mampu mengendalikan nafsu seksualnya. Karena sesungguhnya, nafsu seksual jika senantiasa dituruti, ia akan menyiksa manusia hingga manusia menjadi budak nafsu itu sendiri. Sebaliknya, jika nafsu seksual dikendalikan dan disalurkan sesuai dengan titah Tuhan, ia akan menjadi mosaik kebahagiaan yang menghiasi hidup manusia.
Baca selanjutnya..

Jumat, 26 September 2008

Islam dan Korupsi

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَ دِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلىَ الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. وَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ اَلِهِ وَ صَحْبِه أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ: فَياَ عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَ لاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَ أَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوا لاَ تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ باِلْبَاطِلِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ.

Hadirin sidang Jumat yang mulia
Marilah kita senantiasa meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allah. Karena keimanan dan ketakwaan kita bukanlah suatu hal yang tetap dan tidak bisa berubah. Iman dan takwa bisa mengalami perubahan, naik atau turun, bertambah atau berkurang. Karena itulah, kita pun harus senantiasa menjaga, memperbaharui, dan meningkatkan iman serta takwa kita. Apalagi di tengah zaman yang semakin menghalalkan segala cara, kita tidak pernah tahu, apakah besok kita masih tergolong orang yang beriman atau justru terjerumus ke dalam lubang kekafiran. Maka dari itu, hanya kepada Allah sajalah kita memohon, agar senantiasa memperoleh taufiq dan hidayah-Nya.

Sidang Jumat yang dimuliakan Allah
Salah satu upaya kita menjaga keimanan dan ketakwaan kita adalah dengan cara mencari harta yang halal. Dengan kata lain, harta yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari, hendaknya diperoleh dari cara-cara yang sesuai dengan ketentuan agama dan negara. Sebaliknya, Allah pun melarang kita menggunakan cara-cara batil (melanggar hukum) dalam memperoleh harta. Allah berfirman:
وَلاَ تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (البقرة: 188)
Dan janganlah sebagian kalian memakan harta orang lain dengan cara yang batil dan (janganlah) kalian membawa (urusan) harta itu kepada hakim, agar kalian dapat memakan sebagian harta benda orang lain itu dengan cara licik, padahal kalian menyadari. (QS. al-Baqarah: 188)

Harta yang diperoleh dengan cara yang bersih dan halal, akan mendatangkan ketenteraman dan ketenangan meskipun jumlahnya sedikit. Apalagi jika harta yang bersih dan halal itu, disikapi dengan rasa syukur kepada Allah, Dzat yang Maha Kaya dan Maha Pemberi Rizki.

Sidang Jum’at, jama’ah Islamiyah yang dimuliakan Allah
Salah satu cara tidak halal dalam memperoleh harta adalah korupsi. Namun justeru sekarang korupsi merupakan salah satu bentuk kejahatan yang banyak terjadi. Jika pada pemerintahan beberapa waktu silam, korupsi hanya terjadi pada segelintir orang yang dekat dengan pusat kekuasaan negara, maka saat ini ia menjadi kejahatan yang terjadi nyaris di semua lembaga di negeri ini, mulai dari yang paling bawah di tingkat desa, hingga paling atas di tingkat pusat.

Meski banyak merugikan negara dan kemaslahatan umat, para pelaku korupsi di negeri ini justru banyak yang terlepas dari jeratan hukum. Pada ayat di atas, Allah sendiri telah mensinyalir adanya orang yang membawa persoalannya ke pengadilan, namun ia tidak bermaksud untuk mencari keadilan. Pengadilan itu justru ia manfaatkan guna membebaskan dirinya dari jeratan hukum dan membuatnya seolah berhak untuk mengambil harta yang bukan miliknya. Saat itulah, pengadilan pun sudah bisa dibeli. Sungguh rasa keadilan masyarakat seolah tercabik-cabik. Jika seorang pencuri ayam, bisa langsung ditangkap atau bahkan dihakimi massa, maka pencuri uang negara milyaran rupiah, bahkan ada yang sampai trilyun, bisa dengan mudah lepas, tanpa menjalani hukuman apapun! Dan juga yang sangat menyakitkan, terkadang para koruptor itu justru tetap menjadi pemimpin-pemimpin kita; tampil di tengah-tengah masyarakat seolah tidak merasa berdosa apapun.

Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah
Kita sebagai umat Islam, bagaimanapun telah diajarkan oleh Nabi SAW untuk menyerukan kebaikan dan mencegah kemungkaran; termasuk mencegah kemungkaran dalam bentuk korupsi. Dalam sebuah hadis beliau bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ (وواه مسلم)
Barangsiapa di antara kalian yang mengetahui suatu kemungkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan tangan (kekuasaan)-nya. Jika ia tidak mampu (merubah dengan tangannya), maka rubahlah dengan lisannya. Jika ia juga tidak mampu (merubah dengan lisannya), maka rubahlah dengan hatinya. Dan itu merupakan selemah-lemahnya iman. (H.R. Muslim).

Kita harus mencegah kejahatan korupsi sesuai dengan kemampuan kita masing-masing sesuai dengan urut-urutan pencegahan yang diajarkan oleh Nabi di atas. Jika kita sebagai rakyat kecil yang tidak memiliki kekuasaan dan jabatan apapun, maka paling tidak kita menolak kemungkaran itu di dalam hati. Namun itu adalah jalan terakhir jika dua cara pencegahan sebelumnya, dengan tangan dan lisan, tidak mampu kita lakukan. Penolakan di dalam hati itu merupakan wujud selemah-lemahnya iman.

Sebagai bagian dari masyarakat, kita tidak bisa bersikap masa bodoh dengan kemungkaran-kemungkaran tersebut. Kita tidak bisa berlindung di balik alasan: “Masalah negara sudah yang memikirkan. Kita sebagai rakyat kecil tidak perlu pusing-pusing memikirkannya.” Tidak! Kita tidak boleh beralasan seperti itu, karena kita semua sama-sama ikut bertanggung jawab terhadap baik buruknya masyarakat dan negara. Jika kita membiarkan saja kemungkaran-kemungkaran itu terjadi di depan mata kita, maka berarti kita membiarkan masyarakat kita menjadi rusak. Jika masyarakat telah rusak, maka azab Allah tidak hanya menimpa kepada orang-orang yang melakukan kejahatan saja, tapi juga orang-orang baik yang tidak melakukan apa-apa. Sebagaimana jika kita membiarkan para pencuri menebangi kayu-kayu jati di Alas Cikamurang sehingga hutan kita menjadi gundul, maka banjir yang akan datang tidak hanya menimpa para pencuri itu, tapi kita semua akan merasakan kerugiannya, termasuk anak-anak, ternak, sawah, dan harta benda lain yang kita miliki. Karena itulah, Allah berfirman:
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لاَ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (الأنفال:25)
Dan peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (Qs. Al-Anfal: 25).

Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah
Sebenarnya masih ada cara yang bisa kita lakukan sebagai rakyat kecil dalam menghadapi kemungkaran-kemungkaran tersebut. Masih ada cara minimal yang bisa dilakukan oleh umat Islam sebagai wujud pencegahan kemungkaran. Misalnya, cara itu adalah dengan tidak memilih dan mengangkat para pemimpin yang dicurigai terlibat korupsi. Bagaimana mungkin kita berharap masyarakat menjadi lebih baik, adil, dan sejahtera jika pemimpin yang kita pilih adalah orang yang tidak jujur dan tidak bisa mengemban amanah?! Sungguh sangat naif jika kita memilih orang-orang semacam itu sebagai pemimpin.

Di samping itu, jangan kita mau menerima sumbangan dalam bentuk apapun dari para pejabat yang diduga kuat banyak melakukan tindak korupsi. Kita baru menerima sumbangan itu jika kita mengetahui persis bahwa sumbangan tersebut merupakan hartanya pribadi yang diperoleh secara halal dan tidak melanggar hukum. Atau kita bisa menerima sumbangan tersebut jika kita mengetahui persis bahwa sumbangan itu memang diperuntukkan dan dianggarkan secara resmi untuk diri kita atau lembaga kita.

Jika kita mau menerima sumbangan dari seorang pejabat yang diduga kuat banyak melakukan tindak korupsi, misalnya untuk lembaga pendidikan atau keagamaan yang kita kelola, maka sadar atau tidak kita berarti telah menggunakan uang haram, atau paling tidak syubhat. Kemudian, jika sesuatu dibiayai dengan uang haram, maka ia tidak akan berjalan dengan baik. Selain itu, jika kita menerima sumbangan dari para pejabat korup itu, maka tanpa sadar kita seolah menghalalkan tindakan korupsi yang ia lakukan. Dengan kata lain, secara tidak langsung kita menghalalkan sesuatu yang sebenarnya haram. Dalam kaitan tersebut, Nabi menjelaskan:
َالْحَلاَلُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُورٌ مُشْتَبِهَةٌ فَمَنْ تَرَكَ مَا شُبِّهَ عَلَيْهِ مِن الإِثْمِ كَانَ لِمَا اسْتَبَانَ أَتْرَكَ وَمَنْ اجْتَرَأَ عَلَى مَا يَشُكُّ فِيهِ مِنْ الْإِثْمِ أَوْشَكَ أَنْ يُوَاقِعَ مَا اسْتَبَانَ وَالْمَعَاصِي حِمَى اللهِ مَنْ يَرْتَعْ حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يُوَاقِعَهُ (رواه البخاري)
Halal itu jelas dan haram itu juga jelas. Sedang yang berada di antara keduanya adalah hal-hal yang subhat (samar). Maka barangsiapa meninggalkan hal-hal yang subhat, maka berarti ia telah meninggalkan sesuatu yang telah jelas haram. Barangsiapa yang berani melakukan sesuatu yang diduga termasuk dosa, maka berarti ia nyaris tergelincir melakukan sesuatu yang jelas haram. Dan kemaksiatan adalah larangan Allah. Barangsiapa yang mendekati larangan tersebut, berarti ia nyaris tergelincir melakukan larangan tersebut. (H.R. Bukhari).

Hadirin sidang Jum’at rahimakumullah
Sekali lagi kita marilah kita tingkatkan keimanan dan ketakwaan kita. Salah satunya adalah dengan cara mencari harta yang halal; lantas mensyukuri dan mengelolanya dengan sebaik mungkin. Di antara cara mensyukuri anugerah harta yang diberikan oleh Allah tersebut adalah dengan cara mengeluarkan zakat atau sedekah. Harta yang kita miliki akan diberkahi Allah jika ia bisa bermanfaat, baik untuk diri kita sendiri maupun untuk orang lain. Karena itulah, mumpung mesjid kita ini sedang melaksanakan proyek pembangunan madrasah, maka marilah kita berlomba-lomba menyumbangkan sebagian harta kita untuk kegiatan tersebut.

Harta yang disumbangkan tersebut kelak akan menjadi amal jariah yang akan menolong kita di akhirat nanti. Harta yang kita sumbangkan dengan tulus ikhlas merupakan ungkapan terima kasih kita kepada Allah yang telah memberikannya kepada kita. Jika kita mengurangi jumlah harta kita, karena menyumbangkannya di jalan Allah, maka tanpa kita sadar, sesungguhnya Allah akan menambah jumlah harta kita melebihi dari jumlah yang telah kita sumbangkan. Hal itu Allah tegaskan dalam firman-Nya:
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيم ٌ(البقرة: 261)
Perumpamaan orang-orang yang menyumbangkan hartanya di jalan Allah adalah laksana menanam sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir. Pada tiap-tiap bulir berisi seratus biji. Begitulah, Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapapun yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. al-Baqarah: 261).

باَرَكَ اللهُ لِي وَ لَكُمْ بِاْلأَياَتِ وَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَ تَقَبَّلَ مِنيِّ وَ مِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَ قُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَ ارْحَمْ وَ أَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى هَدَانَا لِهَذَا وَماَ كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْ لاَ اَنْ هَدَاناَ اللهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلهَ إِلاَّ الله وحده لا شريك له. وَ أَشْهَد أن محمدا عبده و رسوله لا نيي بعده. قال الله تَعَالىَ فِي كِتَابِه الكريم: ان الله و ملائكته يصلون على النبي. يا أيها الذين أمنوا صلوا عليه و سلموا تسليما. اللهم صل على سيدنا محمد و على ال سيدنا محمد كما صليت على سيدنا إبراهيم و على ال إبراهيم. اللهم اغفر للمسلمين و المسلمات و المؤمنين و المؤمنات الاحياء منهم و الاموات. ربنا اغفر لنا و لإخواننا الذين سبقونا بِاْلإِيْمَانِ و لا تجعل فى قلوبنا غلا للذين امنوا ربنا إنك رؤف رحيم. رب اغفر لنا ولوالدينا ولمن دخل بيوتنا مؤمنين وللمؤمنين والمؤمنات ولا تزد الظالمين إلا تبارا. اللهم أصلح لنا ديننا الذى هو عصمة أمرنا و أصلح لنا دنيانا التي فيها معاشنا و أصلح لنا آخرتنا التي فيها معادنا و اجعل الحياة زيادة لنا في كل خير و اجعل الموت راحة لنا من كل شر. ربنا اتنا فى الدنيا حسنة و فى الأخرة حسنة و قنا عذاب النار. سبحانك ربك رب العزة عما يصفون و سلام على المرسلين و الحمد لله رب العالمين. Baca selanjutnya..

Dendam itu Belum Berkesudahan

Oleh: Syafi'i Ma'arif
Dimuat di Republika: 19-08-2008

Pada saat kita di Indonesia sedang gencar-gencarnya mengukuhkan tali
persaudaraan lintas iman, dan sampai batas-batas yang jauh telah
memberi hasil yang sangat positif, masih ada saja pihak di belahan
bumi sana yang berupaya membuyarkannya, sekalipun tidak secara
langsung. Kali ini kita soroti Patrick Sookhdeo, seorang tokoh
penginjil melalui artikel yang berjudul '' The Myth of a Moderate
Islam'' dalam majalah Spectator (London, 30 Juli 2005), dan telah
dibantah oleh penulis Vincenzo Oliveti yang dimuat dalam majalah
Islamica dengan judul '' The Myth of 'the Myth of Moderate Islam',''
beberapa waktu yang lalu. Di mata Sookhdeo, apa yang dikenal dengan
Islam moderat dan berwajah ramah hanyalah sebuah mitos, tidak ada di
dunia nyata. Wajah Islam yang hakiki, katanya, adalah kebengisan,
kegarangan, dan kekerasan, seperti yang ditampilkan oleh segelintir
kelompok radikal, militan, bahkan teroris. Tuduhan semacam inilah yang
dikuliti Oliveti melalui tulisannya di atas.
Dalam artikel yang cukup panjang dengan data sejarah yang akurat,
Oliveti menilai Sookhdeo telah dengan sengaja memutarbalikkan fakta
yang sebenarnya, demi dendamnya kepada Islam yang belum juga
berkesudahan. Memang, sangat menyakitkan tuduhan penginjil ini yang
menyimpulkan bahwa terorisme adalah wajah Islam yang sebenarnya.
Artinya, menurut penginjil ini, mayoritas umat Islam adalah pendukung
teror. Bahwa ada sekelompok kecil umat yang terlibat dalam aksi
kekerasan dan teror memang tidak perlu ditutupi, tetapi membuat
generalisasi adalah sebuah dusta.
Agar tidak mengada-ada, Oliveti menurunkan angka-angka ini: Kurang
dari 5 persen umat Islam yang dapat dimasukkan dalam kategori
fundamentalis; dari yang 5 persen ini, kurang dari 0,01 persen yang
punya kecenderungan untuk melakukan teror atau tindak kekerasan atas
nama agama. Dengan kata lain, paling banter hanyalah seorang dari
200.000 Muslim yang mungkin dapat dimasukkan sebagai teroris.
Selebihnya adalah manusia normal belaka yang cinta damai dan
antikekerasan. Tetapi, mengapa sejak Tragedi 11 September 2001, segala
tuduhan busuk tetap saja dilemparkan kepada Islam sampai detik ini,
sekalipun sudah semakin melemah?
Oliveti kemudian menelusuri data teologis dalam Kristen dan Islam
tentang praktik paksaan dalam agama. Tulis Oliveti: ''Tidak dijumpai
dalam sejarah Islam sebuah doktrin yang menyamai doktrin St Agustinus,
cognite intrare (dorong mereka masuk--artinya 'paksa mereka
pindah iman'). Justru dalam Alquran yang ada kebalikannya: 'Tidak ada
paksaan dalam agama (2: 256)'.'' Gagasan Agustinus yang menakutkan itu
bahwa semua orang harus dipaksa ''menyesuaikan diri'' kepada ''iman
Kristen yang benar'' selama berabad-abad telah menumpahkan darah yang
tidak ada taranya.
ungguh umat Kristen lebih menderita di bawah kuasa peradaban Kristen
daripada di bawah kekuasaan Romawi pra-Kristen atau di bawah kekuasaan
lain sepanjang sejarah. Jutaan dianiaya atau disembelih atas nama
agama Kristen selama periode-periode kebid'ahan Arian, Donatist, dan
Albigenesia. Belum lagi kita berbicara tentang bermacam inkuisisi,
atau Perang Salib, di kala tentara Eropa berkata, saat menyembelih
umat Kristen dan Arab Muslim: ''Bunuh mereka semua, Tuhan akan tahu
sendiri.''
Masa lampau yang gelap ini jangan lagi disegarkan dengan cara-cara
keji yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab,
saat semua pemeluk agama kini ditantang untuk menyelamatkan jenis
manusia dari harakiri perdaban modern. Penginjil Sookhdeo harus
menyadari bahwa menuduh pihak lain secara semena-mena sama saja dengan
mengkhianati Injil itu sendiri. Oliveti melanjutkan: ''Tidak perlu
dikatakan, semua pelanggaran di atas--dan sungguh semua pelanggaran
umat Kristen sepanjang abad--yang demikian itu sama sekali tidak ada
kaitannya dengan Yesus Kristus dan atau bahkan dengan Perjanjian Baru.
Sesungguhnya, tak seorang Muslim pun per definisi pernah atau akan
pernah menyalahkan semuanya ini atas pundak Yesus Kristus. Maka,
bagaimana ini berlaku sehingga Sookhdeo menyalahkan
pelanggaran- pelanggaran Muslim (sekalipun lebih kecil dibandingkan
pelanggaran Kristen) atas Alquran ...?''

Berapa banyak darah tertumpah pada waktu terjadi Gerakan Reformasi dan
Anti-Reformasi di Eropa? Menurut catatan Oliveti, tidak kurang dari
2/3 penduduk Kristen Eropa yang terbantai pada waktu itu. Itu belum
lagi dihitung perang-perang yang lain, pogrom (pembantaian
terorganisasi) , revolusi, dan genosida (pembunuhan secara teratur
terhadap sebuah etnis, suku bangsa), Perang Napoleon; perdagangan
budak Afrika yang menghabiskan nyawa sebesar 10 juta; berapa juta pula
yang musnah akibat penaklukan-penakluk an kolonial. Jangan Anda tanya
lagi berapa banyak penduduk asli Amerika yang dibantai oleh orang
Eropa, baik di Amerika Utara, Tengah, ataupun Selatan, angkanya
mencapai 20 juta selama tiga generasi.

Jika kita bergerak ke abad ke-20, angkanya semakin mengerikan.
Peradaban Barat telah mengubah peperangan ke kutub ekstrem. Perkiraan
konservatif yang mati di abad ke-20 lebih dari 250 juta. Dari jumlah
ini umat Islam hanya bertanggung jawab kurang dari 10 juta. Umat
Kristen atau mereka yang berlatar belakang Kristen telah membunuh
lebih dari 200 juta. Jumlah terbesar berasal dari Perang Dunia (PD) I
sejumlah 20 juta; setidak-tidaknya 90 persen dari angka ini dilakukan
oleh orang ''Kristen''. Angka yang lebih dahsyat lagi terjadi selama
PD II sebesar 90 juta, sekurang-kurangnya 50 persen dilakukan oleh
pihak ''Kristen''. Selebihnya terbunuh di Asia Timur.

Oliveti kemudian bertanya: ''Dengan sejarah yang serbasuram ini,
terlihat bahwa kita semua orang Eropa harus bertempur dengan fakta
bahwa Perdaban Islam dalam kenyataannya malah kurang brutal jika
disandingkan dengan Peradaban Kristen. Apakah Holocaust terhadap lebih
enam juta Yahudi yang terbunuh berlaku dengan latar belakang Peradaban
Muslim?''
Tetapi, Oliveti tidak menurunkan angka berapa pula yang terbunuh
akibat pertempuran dan konflik sesama Muslim, demi kekuasaan, dalam
berbagai periode sejarah, sebagai yang terbaca dalam ''Perspektif' '
saya dalam Gatra, 31 Juli-6 Agustus 2008, hlm 106. Tampaknya
darah lebih banyak tertumpah akibat konflik sesama Muslim dibandingkan
dengan antara Muslim dan non-Muslim. Tengok apa yang terjadi di Irak
dan Afghanistan, dan sampai batas-batas tertentu di Indonesia pada
waktu yang lalu, semuanya adalah pembunuhan oleh Muslim terhadap
Muslim, apa pun ideologi politik yang melatarbelakanginya .

Kembali kepada data terbaru Oliveti. Selama abad ke-20, kekuasaan
Barat atau Kristen bertanggung jawab atas kematian umat manusia
sekurang-kurangnya 20 kali lebih besar dibandingkan dengan kekuasaan
Muslim. Di abad ini Barat telah membinasakan manusia dengan jumlah
raksasa, lebih dahsyat dari seluruh korban yang terjadi sepanjang
sejarah Islam. Ini berlangsung sampai detik ini. Ambil contoh
pembantaian 900 ribu rakyat Ruwanda tahun 1994, di mana penduduknya
lebih 90 persen Kristen; atau tengok pula genosida atas lebih dari 300
ribu Muslim plus pemerkosaan atas lebih 100 ribu wanita Muslim oleh
Serbia Kristen di Bosnia pada 1992-1995. Maka, secara statistik,
Peradaban Kristen adalah yang terbanyak menumpahkan darah dan yang
paling kejam dibandingkan dengan peradaban manapun sepanjang sejarah.

Lebih jauh Oliveti mengkritik penggunaan senjata nuklir yang
semestinya cukup alasan bagi Barat untuk merasa malu di depan umat
manusia di muka bumi. Amerika Serikat telah menciptakan senjata nuklir
dan telah pernah menggunakannya. Bangsa-bangsa Barat lainnya juga
berupaya memonopoli persenjataan yang bisa membawa kiamat itu.
Sekalipun Islam punya konsep tentang perang yang sah (seperti halnya
agama Kristen dan Budha), tidak pernah ada dalam kultur Islam (atau
dalam kultur manapun yang bertahan sampai sekarang) yang mengidolakan
semuanya seperti yang terdapat dalam kultur Barat.

Selanjutnya, manusia Barat menganggap dirinya suka damai, tetapi dalam
kenyataannya kelembutan dan keluhuran Perjanjian Baru, dan watak
cinta-damai demokrasi, jarang sekali tecermin dalam kultur rakyat umum
Barat. Yang berlaku dalam kultur itu, seperti terlihat dalam film-film
Hollywood, TV Barat, permainan video, musik populer, dan hiburan
sport--adalah untuk mengagungkan dan menanamkan kekerasan. Maka,
tidaklah mengherankan tingkat angka pembunuhan jauh lebih tinggi di
dunia Barat tinimbang di negeri-negeri Muslim. Mengapa seorang
Sookhdeo tidak mau becermin?
Komentar saya, terasa sekali kemarahan Oliveti terhadap seorang
penginjil yang tidak adil dalam membaca masa lampau Barat yang sarat
dengan pertumpahan darah. Tetapi, kemarahan serupa juga wajib kita
alamatkan kepada kelompok kecil Muslim yang senang membajak Tuhan,
demi darah Muslim dan non-Muslim Baca selanjutnya..

Rabu, 24 September 2008

Mengenal Diri


Pertanyaan tentang siapa diri kita; siapa aku; yang mana jati diri kita sesungguhnya adalah pertanyaan-pertanyaan klasik yang telah menyita perhatian banyak para filosof. Pernyataan tersebut adalah sesuatu yang penting untuk kita lontarkan. Hal itu karena menyangkut tentang eksistensi kita sebagai seorang manusia. Bagaimana mungkin orang hidup bertahun-tahun tetapi tidak mengenal siapa dirinya sesungguhnya?

Dalam sebuah kalam hikmah terkenal --yang banyak disalahartikan sebagai hadis Nabi Muhammad—diungkapkan man ‘arafa nafsah, faqad ‘arafa rabbah. Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhan. Dengan kata lain yang dibalik, siapa yang ingin mengenal Tuhan, maka kenalilah dirinya terlebih dahulu.

Lantas siapa diri kita sebenarnya. Jika “aku” adalah dikaitkan dengan jasad, tentu tidak tepat. Seorang Luna Maya, misalnya, bukanlah hanya terdiri wajahnya yang cantik. Meskipun wajahnya tiba-tiba tersiram air keras, dan membuat wajahnya jadi hancur berantakan, tetaplah ia dikatakan seorang manusia yang bernama Luna Maya, ia tidak berubah jadi seekor kambing. Jadi dengan demikian, jati diri seseorang tidaklah berkaitan erat dengan fisiknya.

Apakah jati diri manusia dikaitkan dengan otaknya? Hal ini juga tampaknya tidak tepat. Einstein sekalipun otaknya yang cerdas itu diambil dari jasadnya yang sudah mati, ia tetaplah seorang manusia bernama Einsten. Ia tidak berubah menjadi robot.

Apakah jati diri manusia dikaitkan dengan kedudukannya? Ah, hal itu juga tidak tepat. Soekarno tetaplah seorang manusia, meskipun kekuasaannya sebagai presiden “dirampas” oleh Soeharto dengan semana-mena melalui akal-akalan Supersemar. Meskipun Soekarno tidak lagi jadi presiden, ia tetaplah seorang manusia bernama Soekarno yang memiliki ciri khas tertentu.

Apakah jati diri manusia juga berdasarkan nama? Ah, tidak juga. Coba kita tanyakan pada Shakespeare. Ia jawab, “Apa arti sebuah nama?!” Meskipun, seorang Imam Samudera memiliki beberapa nama, misalnya, ia tetaplah merujuk kepada seseorang tertentu yang kita kenal sebagai seorang teroris Bom Bali I.

Lantas, gimana dong? Apakah manusia dikaitkan dengan nyawanya? Tampaknya ini juga kurang tepat. Seorang Nabi Muhammad meskipun nyawanya sudah tidak lagi menyatu dengan jasadnya, ia tetaplah seorang nabi yang dipuja oleh seluruh orang Islam di seantero jagad. Ia tetaplah merujuk kepada seseorang yang telah membuat sejarah besar di muka bumi yang dikemudikan dinobatkan oleh Michael H. Hart sebagai nomor satu di antara para tokoh yang pernah ada di dunia.

Apakah eksistensi manusia ditentukan pula oleh perbuatannya? Hidup adalah perbuatan, kata Sutrisno Bachir beriklan di berbagai media massa. Apa betul? Mari kita cek. Andaikan Sutrisno Bachir tidak melakukan sesuatu, misalkan ia tidak berkampanye, apakah lantas ia tidak menjadi seorang Sutrisno Bachir lagi? Tentu tidak kan. Ia tetaplah apa adanya, dengan atau tanpa berbuat sesuatu.

Mungkin, ini yang terakhir. Apakah manusia dengan hati nuraninya? Lho, hati nurani itu yang mana? Ini juga pertanyaan yang rumit. Hati nurani, menurutku pemahamanku yang ilmunya sejengkal, adalah berkaitan dengan sesuatu unsur dalam diri seseorang yang membuatnya bisa membedakan mana yang benar mana yang salah. Hati nurani adalah panduan ilahiah yang ditanamkan Tuhan dalam diri manusia. Karena itulah, Nabi Muhammad bersabda, “Ada sesuatu di dalam manusia yang jika ia baik, maka baiklah seluruh dirinya. Namun jika ia rusak, maka rusaklah seluruh dirinya. Sesuatu itu adalah hati nurani.” Nah hati nurani itulah yang harus kita pelihara dan jaga agar ia tetap terus menjadi panduan ilahiah yang senantiasa menerangi jalan hidup kita.

Ah, terus terang, aku juga masih bingung. Mari kita merenung lagi. Yang jelas, bagiku, manusia memiliki hati nurani, jasad, nyawa, nama, kedudukan tertentu, dan mampu melakukan perbuatan sendiri. Jadi manusia memang makhluk unik. Ia harus berbuat untuk kebaikan, dipandu oleh hati nuraninya. Perbuatan baik seorang manusia pasti akan membuatnya menjadi seseorang yang berharga di dunia dan akhirat. Perbuatan jahat akan membuatnya menjadi orang yang sengsara di dunia dan akhirat. Salah satu hadis Nabi yang sangat kupercayai hingga hari ini adalah, “Orang yang terbaik adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.” Wallahu a’lam.

Baca selanjutnya..